Ulama Pejuang Syekh Yusuf Al-Makassari: Warisan Keteladanan Peradaban, Akhlak, dan Ilmu bagi Generasi

0
45
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Apa yang dapat dimaknai dari peringatan 400 tahun milad Syekh Yusuf Tuanta Salamaka?

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir di Gowa pada 3 Juli 1626, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 Hijriah. Ia merupakan putra dari Abdullah Khaidir dan Siti Aminah, putri Gallarang Moncong Loe. Masa kecilnya tumbuh dalam lingkungan bangsawan pada masa pemerintahan I Malingkang Daeng Matoayya (1600–1654).

Selama lebih dari setengah abad, saya berinteraksi dengan komunitas etnis Mangkasara, sekitar tujuh tahun di Makassar dan selebihnya di Jakarta hingga saat ini.

Ketika menempuh pendidikan di Sekolah Lanjutan Atas, saya tinggal di rumah keluarga seorang Kepala Tata Usaha yang dengan tulus membantu menyekolahkan saya. Ia memiliki usaha becak (tiga roda), dan saya dipercaya untuk membantu mengelolanya: mencatat keluar-masuk, menerima setoran sewa, hingga menagih tunggakan yang melewati batas waktu.
Dari situ, saya berinteraksi akrab dengan komunitas tersebut, termasuk para tokoh tua seperti Daeng Tiro, Daeng Sikki, dan Daeng Gassing. Saya bahkan diperkenankan mengikuti perbincangan mereka tentang kesetiaan dan ketangguhan hidup.

Sebagai remaja, saya kerap diajak ke warung pangkalan mereka. Di sana tersedia minuman khas bernama tuak ballo. Saya pernah mencicipinya beberapa teguk, namun tak kuat hingga muntah. Mereka lalu memberi saya air putih sambil tertawa hangat, sebuah kenangan sederhana yang membekas.

Pengalaman lain yang menantang adalah saat saya harus menagih tunggakan ke daerah Limbung, Sungguminasa. Saya mendatangi rumah panggung mereka, bahkan hingga ke kolong rumah. Namun alih-alih mendapat penolakan, saya justru disambut hangat, disuguhi buah-buahan kebun seperti nangka dan mangga.

Saya tak pernah diizinkan pulang sebelum makan (kaddo) terlebih dahulu. Saat hendak pamit, mereka sering menggantungkan buah tangan di motor yang saya bawa sebagai bentuk penghormatan.

Melalui bahasa Makassar yang saya pelajari, saya membisikkan pesan agar mereka datang melapor dan menyelesaikan kewajiban seikhlasnya. Kepercayaan itu menjadi pengalaman batin yang mendalam, membentuk kedekatan saya dengan komunitas Tu Mangkasara.

Interaksi dengan Seniman dan Budayawan
Selepas SLTA, saya sempat menunda pendidikan karena keterbatasan. Namun justru di masa itu, saya memperoleh pengalaman berharga.

Melalui seorang sahabat, Mahmuddin  yang keluarganya, Rusdy Akib, menjadi agen surat kabar The Jakarta Times, saya ikut menjadi pengantar koran. Dari situ saya mulai mengenal banyak tokoh pelanggan.

Perjalanan itu berlanjut ketika saya mengikuti pendidikan non-gelar School of Acting di Dewan Kesenian Makassar. Sejak saat itu, saya mulai berinteraksi dengan para seniman dan budayawan Makassar pada era 1970-an, serta terlibat dalam produksi teater dan film.

Saya menyerap narasi karya budaya yang menampilkan tokoh-tokoh heroik seperti I Tololok, I Maddi Daeng Rimakka, Datu Museng, dan Karaeng Pattingalloang. Penyebutan nama-nama tempat seperti Gowa, Tallo, Somba Opu, Kale Gowa, Galesong, Tamalate, Moncong Loe, hingga Gunung Bawakaraeng dan Bulusaraung menghadirkan ikatan batin yang kuat dengan sejarah dan identitas.

Saya juga banyak terinspirasi oleh karya-karya para sastrawan dan budayawan seperti Aspar Paturusi, Husni Djamaluddin, Rahman Arge, Ali Walangadi, Arsal Alhabsy, Sinansari Ecip, Anis Kaba, Munasiah Najamuddin, Nurhayati Rahman, Nundin Ram, Fahmi Syarif, Yacob Maralah, Udhin Palisuri, dan AM Mochtar.

Tentang Syekh Yusuf
Sejak muda, Syekh Yusuf telah dibekali dengan pendidikan adab, keagamaan (tasawuf), serta keterampilan keprajuritan, termasuk penggunaan senjata tajam dan strategi perang.

Ilmu tasawuf yang dikuasainya menjadi kekuatan spiritual yang luar biasa dalam menghadapi musuh. Dalam tradisi lokal dikenal ungkapan seperti appadundua sere lino dan appatoba sere alam, kemampuan menaklukkan dan memperdaya lawan, bukan semata secara fisik, tetapi juga secara batin.

Perjalanan hidupnya, termasuk masa pengasingan, dapat dimaknai sebagai jalan pendalaman ilmu dan penyebaran syiar Islam. Menarik untuk direnungkan: mengapa penjajah Belanda memilih mengasingkannya, bukan mengeksekusi mati, padahal pengaruhnya begitu besar dalam membangkitkan perlawanan?

Di situlah tersimpan makna strategis dan misteri sejarah yang layak dikaji lebih dalam.

Warisan keteladanan Syekh Yusuf, —dalam akhlak, keilmuan, dan perjuangan seyogianya tidak berhenti sebagai romantisme sejarah. Ia perlu menjadi bahan kajian serius untuk diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai itu juga relevan dalam menjawab tantangan peradaban global saat ini: bagaimana membangun manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki keberanian moral dalam menghadapi zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here