Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Mantan Wartawan Panjimas, 1990-1995
Membaca Novel Biografi Buya Hamka, karya Achmad Fuadi, kembali membentangkan kisah perjalanan ulama kenamaan asal Minangkabau ini, dari Medan, Makassar ke Jakarta. Kronika dunia Hamka yang dirangkum di buku ini seperti buket dari taman bunga nan luas. Bunga itu wangi, indah warna warni karena dipelihara secara kolektif oleh banyak hati. Itulah hikayat Hamka yang terus menerus menginspirasi, melintas batas semua generasi.
Dalam buku Novel Biografi Buya Hamka, setebal 364, Gurutta Buya Hamka pada halaman 151, menegaskan kalau Buya Hamka, sepulang dari kongres Muhammadiyah di Yogyakarta, ia diminta menjadi mubalig utama Pengurus Besar Muhammadiyah yang memeroleh tugas ke Makassar untuk berdakwah.
Pada 1932, Hamka bertugas berdakwah ke Makassar dengan membawa dua kekuatan dakwah. Kesanggupan lisan dan kesanggupan tulisan.
Dan, setahun di Makassar, Buya Hamka berkeliling berdakwah ke Sengkang, Rappang, Pare-pare, Palopo, Palu, Donggala, Minahasa dan Ambon.
Gurutta Buya Hamka, setahun menyemai tugas dakwah di Makassar, ia juga berhasil mengantar kongres Muhammadiyah, Makassar. Hamka kembali ke pangkuan sang istri, Sitti Raham dan Hisyam, putranya. Hamka kembali ke Makassar bersama istri dan anak pertamanya, Hisyam.
Di Makassar, Hamka dan Sitti Raham, mendapatkan anak kedua, Zaki. Kendati, pada akhir 1933, Hamka terpaksa meninggaljan Makassar selamanya. Sebab, Hisyam acapkali sakit-sakitan sehingga Raham tidak lagi nyaman di Makassar. Gurutta Hamka, meninggalkan Makassar, kembali meneruskan perjuangannya, membantu ayah dan kakak iparnya di kampung halamannya.
Buya Hamka adalah manusia buku. Ia menulis 120 judul buku dari berlatar genre sastra, tasauf, fiqhi, tafsir dan sosial. Salah satu maha karya Buya Hamka adalah Tafsir Al-Azhar yang ditulis dalam penjara. Ia berhasil merampungkan sembilan jilid Tafsir Al-Azhar dengan tebal kurang lebih 5.000 halaman.
Kendati, Buya Hamka tenang di pusara makamnya di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, tapi karya-karyanya terus hidup di mata pembaca Indonesia.
Buya Hamka tetap hidup di atas alas kata dan tulisan yang telah dilukiskan melalui tinta emas buku-bukunya…














