Tellu Temmasarang (Tiga Tak Terpisahkan): Aprial Hasfa, Amiruddin Mise, dan Fiam Mustamin di Jakarta

0
71
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Tiga orang itu ibarat satu jiwa dan satu hati. Persahabatan mereka tumbuh dalam perjuangan hidup di tanah rantau, Jakarta, sejak awal tahun 1990-an.

Pertemuan itu bermula di kantor Sekretariat BPP KKSS pada masa kepemimpinan awal Beddu Amang. Saat itu, Beddu Amang mengontrakkan sebuah rumah di kawasan Cilamaya, Tanah Abang, sebagai tempat berkumpul dan beraktivitas anak-anak muda perantau Sulawesi Selatan.

Di rumah itulah telah lebih dahulu hadir Alief Onggang dan Ahmad Tahir Ratu yang mengelola Buletin KKSS. Kemudian menyusul Ruslan Ismail Mage, Maruf, Erwin Kallo, Faisal Rahim, dan Andi Yadi.
Pada masa itu populer istilah “bola-bola pendek”, sebuah ungkapan sederhana tentang usaha kecil mencari rezeki untuk menyambung hidup sehari atau dua hari ke depan. Maklum, konektivitas dan jaringan warga KKSS saat itu masih sangat terbatas.

Karena itu, setiap ada kegiatan atau undangan, anak-anak muda itu berebut menjadi kurir dengan kendaraan seadanya. Bila di antara mereka ada yang tampak cerah wajahnya sambil bersiul-siul, itu pertanda sedang mendapat “ceme-ceme”, istilah keberuntungan dalam permainan domino. Hahaha….

Begitulah kehidupan mereka kala itu. Serba terbatas, namun tetap dipenuhi tawa, semangat berbagi, dan kebersamaan.
Di antara mereka, Amiruddin Mise termasuk yang paling sering menghadirkan “job bola-bola pendek”. Ia menjual tiket kapal laut dengan keuntungan yang sebenarnya tidak seberapa. Bahkan hasilnya sering habis seketika tanpa tersisa untuk modal usaha kembali.

Namun semuanya berjalan hanya dengan modal kepercayaan. Kini, semua itu menjadi sweet memory—kenangan manis penuh derita perjuangan yang mengantar mereka hingga berada pada posisi seperti sekarang.

Kota Serasa Kampung

Kami bertiga tinggal saling berdekatan. Saya berdomisili di Petengan, kawasan Condet, dekat bantaran Sungai Ciliwung. Di seberang kali ada kediaman Amir di Kalibata, berjarak kurang dari satu kilometer. Sementara almarhum Aprial tinggal di Perumahan Perwira Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, sekitar dua kilometer dari tempat kami.

Dua adik itu rutin mendapatkan suplai bahan makanan dan lauk-pauk dari kampung halaman di Soppeng. Apa pun yang mereka terima, pasti ada bagian yang dikirim ke Condet, bahkan sering mereka antarkan sendiri.

Mereka pula yang selalu menemani dan mengantar saya bepergian ke mana-mana.
Kini, bila kenangan itu hadir, kami yang tersisa hanya bisa terdiam, saling memandang, lalu tanpa sadar mencari-cari sosok adinda Ambo Aprial.

Rasanya, Aprial hanya pergi sebentar. Pergi untuk kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here