Catatan Fiam Mustamin
Masa kanak-kanak saya berlangsung di tengah pergolakan gerombolan DI/TII, sekitar tahun 1958 hingga 1965. Pada kurun waktu itulah saya menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) di Tajuncu dan Leworeng, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 di Kota Watansoppeng.
Selama dua tahun saya tinggal di Tajuncu, sebuah daerah yang dibatasi sungai dan pegunungan yang menjadi wilayah operasi gerombolan. Meski demikian, daerah ini relatif aman sebagai tempat transit bagi penduduk dari kampung sekitar seperti Enrekeng, Labokong, Ganra, Liu, Tokare, Leworeng, Turengengeng Lappae, dan Kabaro.
Pada masa itu, Tajuncu dipagari bambu di sekelilingnya, lengkap dengan bambu runcing (sura) sebagai pertahanan. Setiap pintu dijaga dengan gembok dan lonceng besi sebagai tanda bahaya. Jika terjadi tembak-menembak, warga segera turun ke kolong rumah atau masuk ke lubang perlindungan (kalebbong), dan bertahan hingga subuh. Namun pada siang hari, aktivitas tetap berjalan seperti biasa, termasuk bersekolah.
Saat naik ke kelas tiga, saya mengikuti guru Laupe yang menjabat sebagai kepala sekolah untuk melanjutkan pendidikan di Leworeng, yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Tajuncu.
Bertani dan Menangkap Ikan
Di Leworeng, saya menjalani kehidupan yang sangat dekat dengan alam. Selain bersekolah, saya ikut bercocok tanam di sawah dan kebun, serta menangkap ikan. Daerah ini merupakan wilayah pertanian padi yang berdekatan dengan Danau Tempe.
Saya berkebun di Turungeng Lappae, di pesisir bendungan (teppoe), serta menggarap sebidang sawah yang merupakan jatah bagi setiap guru dari Matoa Leworeng. Pada musim tertentu, saya juga ikut memanen ikan (makkaja) di danau.
Ada pula tradisi menangkap ikan dengan cara unik, yaitu “Mattoa Bale”. Akar tumbukan disebar ke sungai sehingga dalam beberapa menit ikan-ikan menjadi pingsan dan mengapung, lalu dengan mudah ditangkap menggunakan jala atau bakul yang telah disiapkan.
Kedekatan dengan Guru dan Teman
Selama empat tahun di SR Leworeng, saya sangat dekat dengan beberapa guru, khususnya yang berasal dari Sideteng dan Palopo, yaitu Ibu Makkarennu dan Ibu Siti Rabi’ah. Kedua guru tersebut memberikan perhatian khusus kepada saya, dan saya sering mengunjungi mereka sepulang sekolah.
Saya juga memiliki teman sekelas seperti Sadariah dan Husna, yang kerap membela dan mendukung saya. Kepada mereka semua, saya haturkan terima kasih atas segala kebaikan, disertai doa Al-Fatihah untuk mereka yang telah berpulang. Aamiin.
Bermusik Ala Kampung
Kegiatan bermusik menjadi bagian penting dalam kehidupan kami. Dengan instrumen sederhana seperti seruling, gendang, tambur, gitar, dan koncang-koncang, kami mengisi kegiatan ekstrakurikuler yang dipimpin oleh Andi Yusuf Lainda.
Kami sering tampil untuk menghibur pada acara pernikahan, pertandingan sepak bola, dan permainan kasti. Suara tabuhan gendang dari kejauhan menjadi tanda adanya keramaian. Kami juga memenuhi undangan ke kampung-kampung sekitar dengan memikul peralatan musik di luar jam sekolah.
Kota Soppeng, yang dikenal sebagai kota bukit, meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Kota ini dipenuhi kelelawar (kalong) yang bergelantungan di pepohonan, dengan suara yang tak henti-hentinya, seakan menjadi simfoni penyambut.
Beriklim sejuk sepanjang tahun, kota ini bahkan oleh orang Belanda disebut sebagai “De Paris van Celebes”. Saya tinggal di perumahan pegawai di Masewali Selatan, berhadapan dengan Pegunungan Sewo—wilayah kerajaan purba Soppeng yang menyimpan artefak Kajao Laliddong.
Di sekitar tempat tinggal saya terdapat rumah sakit, SMP Negeri 1, dan SMA Negeri 200 Soppeng. Di kota ini pula, saya menjadi anak angkat Hasanuddin Manna, seorang pegawai Pemerintah Daerah Soppeng.
Meskipun tinggal di kota, keterbatasan tetap terasa. Listrik dan air minum dibatasi, sehingga saya harus mengambil air dari sungai di lembah pegunungan dan mengumpulkan kayu bakar di sekitar perumahan.
Sekolah dan Mimpi Masa Depan
Di sekolah, saya bergaul akrab dengan anak-anak kota. Saya menyukai olahraga senam, sejarah, dan ilmu bumi. Dalam setiap upacara bendera, saya sering dipercaya membacakan teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang telah saya hafal.
Di tengah keterbatasan itu, tumbuh berbagai impian dalam diri saya. Saya membayangkan pesona kota besar Makassar, yang sering saya dengar dari anak-anak kota yang pulang kampung dengan mengenakan seragam almamater seperti Akademi Militer Nasional dan Akademi Pelayaran Indonesia.
Semua itu menjadi impian yang tersimpan dalam-dalam—sebuah nawa-nawa: mungkinkah suatu saat nanti hal itu dapat terwujud?













