Amin Badawi, Anak yang Bakti Ikhlas Keluar Daerah untuk Mempertautkan Darah Keluarga

0
97
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

Apa yang dilakukan oleh sahabat Amin Badawi ini adalah bagian dari tradisi orang Bugis pada umumnya.

Orangtua Bugis menjodohkan puteranya sejak masa bocah dan mencarikan pasangan bagi anak laki-lakinya ketika menginjak usia dewasa.

Orangtua yang memiliki anak laki-laki biasanya berinisiatif mencarikan jodoh (ipasiala) bagi puteranya, dengan niat tetap melestarikan perikatan keluarga yang masih berada dalam lapisan saudara maupun sepupu dua kali.

Mungkin ada di antara kita yang mengalami hal ini, khususnya mereka yang lahir pada tahun 1940-an.

Amin Badawi di Palu Tahun 1977
Amin Badawi, dari keluarga pedagang di Parepare, diminta segera ke Kota Palu untuk melaksanakan hajat kedua orangtuanya.

Amin Badawi adalah anak yang berbakti. Ia menumpang perahu layar hingga sampai di Bandar Donggala untuk menjalankan amanah orangtuanya.

Sebelum itu, Amin Badawi sudah sering ke Tolitoli dan sekitarnya membawa dagangan sejak tahun 1974.

Dalam kehidupan yang penuh kerukunan dan terikat dengan kesatuan Bhinneka Tunggal Ika, Kota Palu yang berpantai dan bertepian menghadirkan suasana kehidupan yang hampir serupa dengan Kota Parepare.

Di kota itu, Amin Badawi berbaur dengan beragam etnis dan suku di sekitarnya: Maluku, Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan berbagai suku di Sulawesi sendiri.

Di tengah kemajemukan komunitas itulah Amin Badawi menghadirkan dinamika energi dalam mengembangkan usaha dagangnya, seperti usaha mebel berbahan besi dari Makassar serta berbagai barang kelontong dari Surabaya.

Pasang surut usaha pun dihadapinya dengan penuh keteguhan, termasuk persaingan dagang hingga musibah kebakaran hebat Pasar Inpres Manonda yang meludeskan seluruh barang dagangannya.

Musibah itu dihadapi dengan kesabaran untuk terus bangkit dan berikhtiar.
Ikhtiar ini oleh orang Bugis disebut reso, yang menjadi panduan nasihat leluhur Bugis: “Resopa temmangingi naletei pammase Dewata.”

Usaha yang disertai kesabaran akan menghadirkan rezeki dari Allah Sang Pencipta.

Hadirnya Kepercayaan Masyarakat
Kepercayaan itu kita pahami sebagai hidayah atau pammase, sebagaimana orang Bugis menyebutnya.

Kepercayaan itu terbangun dari kepribadian, dari bawaan tutur kata yang santun, penuh perhatian kepada orang-orang yang berinteraksi dengannya.
Pada tahun 1990-an, Amin Badawi mendapatkan berbagai kepercayaan untuk memimpin sejumlah organisasi, antara lain Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Asosiasi Pedagang Pasar (APSI).

Pada tahun 2000, ia kembali mendapat kepercayaan sebagai Ketua Paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Palu selama lima periode kepengurusan.

Kemudian menjadi Ketua Lembaga Pengkajian Institut Lembang Sambilan Bersama Membangun Bangsa pada tahun 2009.

Dengan atribut kepercayaan itu, Amin Badawi menjadi rujukan konsultasi berbagai persoalan dalam kehidupan masyarakat.

Barakallah.
Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here