Muhibah Di Atas Kapal Pelni Wujud Pemersatu Bangsa

0
78
- Advertisement -

Catatan Syamsul Bahri 

Muhibah di Atas Kapal Pelni seperti Menenun Kembali Kain Persatuan Indonesia ​Pelayaran bersama Kapal Motor (KM) Pelni bukan sekadar perjalanan membelah ombak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain.

Lebih dari itu, dek-dek kapal Pelni adalah replika hidup dari Nusantara—sebuah ruang perjumpaan kultural yang secara alami merajut kembali semangat persatuan Indonesia.

​Ketika jangkar diangkat dan kapal mulai mengarungi lautan, sekat-sekat geografis melebur. Di atas hotel terapung inilah esensi sejati dari Muhibah (perjalanan persahabatan/kasih sayang) menemukan wujudnya yang paling murni.

​1. Jembatan Budaya yang Cair dan Alami
​Di dalam ruang-ruang dek ekonomi maupun kelas, tidak ada lagi batasan kaku antara Barat dan Timur.

* ​Perjumpaan Lintas Suku terjalin silaturahmi juga kebersamaan antara ras,suku dari pelosok Indonesia hingga terwujud nya persatuan Indonesia

* ​Komunikasi Multikultural: Dialek-dialek lokal yang saling bersahutan lambat laun dijembatani oleh Bahasa Indonesia sebagai pemersatu.

Di sinilah proses saling memahami, bertoleransi, dan menghargai perbedaan terjadi tanpa perlu didikte oleh seminar atau teori formal.

​2. Seni Memadukan Perbedaan di Atas Ombak sebagai
​Mengakhiri perjalanan berhari-hari di tengah laut membutuhkan kedewasaan sosial.

Menakhodai dan mengelola ribuan manusia dengan latar belakang emosional, budaya, dan spiritual yang berbeda di atas kapal adalah sebuah seni kepemimpinan tersendiri.

​Di atas KM Pelni, solidaritas tumbuh dari rasa senasib sepenanggungan.

Ketika ombak besar datang menghantam, seluruh penumpang—tanpa memandang status sosial atau asal daerah—merasakan getaran yang sama dan saling menguatkan.

Rasa kebersamaan ini memicu lahirnya gotong royong spontan, mulai dari berbagi bekal makanan hingga menjaga kenyamanan bersama selama pelayaran.

​3. Spiritual di Tengah Lautan adalah
​Kehidupan di atas kapal Pelni juga mencerminkan sila pertama Pancasila secara nyata. Riuh rendah aktivitas kapal akan melandai sejenak ketika azan berkumandang atau saat lonceng ibadah berbunyi.

Di dalam rumah ibadah yang tersedia di kapal, para kru dan penumpang berserah diri kepada Sang Pencipta.

Kedekatan spiritual di tengah luasnya samudra ini melahirkan keteduhan hati yang mempererat hubungan antarmanusia (hablum minannas), menciptakan atmosfer pelayaran yang aman dan damai.

​Satu Kapal, Satu Tujuan
Laut dalam falsafah bangsa Indonesia bukanlah pemisah, melainkan pemersatu.

Kapal Pelni hadir sebagai urat nadi yang mengikat pulau-pulau tersebut.

Menjaga semangat muhibah di atas kapal berarti merawat miniatur Indonesia wujud sebuah bahtera besar yang bergerak maju bersama, menghargai setiap perbedaan demi mencapai pelabuhan tujuan yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here