Gelar Tinggi, Hampa Tanpa Adab dan Karya yang Membumi

0
65
- Advertisement -

Kolom Ahmad Takbir Abadi
Wakil Sekretaris GPMB Maros

Di tengah zaman ketika gelar akademik sering dijadikan ukuran keberhasilan seseorang, hadir sebuah buku yang menawarkan perspektif berbeda. “Gelar Tinggi, Adab dan Karya Membumi” karya Prof. (HC) Dr. K.H. Amirullah Amri, M.A. bukan sekadar kumpulan esai inspiratif, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang hakikat ilmu pengetahuan, kemuliaan akhlak, dan pentingnya pengabdian kepada masyarakat. Buku ini mengingatkan bahwa gelar hanyalah simbol, sementara nilai sejati seseorang ditentukan oleh adab dan manfaat yang ia hadirkan bagi sesama.

Penulis mengajak pembaca memahami bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian intelektual. Di era modern, ukuran keberhasilan sering kali dibatasi oleh indeks prestasi, jabatan, atau gelar akademik yang melekat di belakang nama. Padahal, tradisi keilmuan Islam maupun warisan para ulama terdahulu justru menempatkan adab sebagai fondasi utama sebelum ilmu. Melalui berbagai kisah dan renungan, Amirullah Amri menunjukkan bahwa ilmu yang tidak melahirkan akhlak hanya akan menjadi kebanggaan pribadi, bukan cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat.

Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya memadukan perjalanan pribadi penulis dengan keteladanan para ulama terdahulu. Pengalaman panjangnya di dunia pendidikan hingga meraih gelar doktoral disampaikan bukan untuk menunjukkan prestise, melainkan sebagai bukti bahwa setiap capaian akademik adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam pandangan penulis, gelar bukanlah garis akhir, tetapi titik awal untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada umat.

Lebih jauh, buku ini mengkritik secara halus fenomena akademisi yang berhenti pada ruang-ruang kampus tanpa menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat. Amirullah Amri menawarkan konsep “karya membumi”, yakni karya yang dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Membangun lembaga pendidikan, mengajar, menulis, dan mencetak generasi penerus merupakan bentuk pengabdian yang nilainya jauh melampaui kebanggaan terhadap gelar semata. Di sinilah ilmu menemukan makna sejatinya, yaitu ketika berubah menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya.

Perjalanan hidup penulis menjadi bukti bahwa warisan terbesar seorang intelektual bukanlah sertifikat atau gelar yang dimiliki, melainkan karya yang terus hidup setelah dirinya tiada. Lembaga pendidikan yang dibangun, murid-murid yang dididik, dan tulisan yang diwariskan merupakan investasi peradaban sekaligus amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Pesan inilah yang menjadi ruh utama buku tersebut: ilmu harus melahirkan kebermanfaatan.

Kehadiran Bachtiar Adnan Kusuma sebagai editor semakin memperkaya kualitas buku ini. Sebagai penulis dan tokoh perbukuan nasional, sentuhan editorialnya membuat gagasan-gagasan yang disampaikan menjadi lebih sistematis, komunikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Pada akhirnya, “Gelar Tinggi, Adab dan Karya Membumi” bukan hanya buku tentang pendidikan, tetapi juga tentang filosofi kehidupan. Ia mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak berhenti pada tingginya gelar, melainkan pada rendah hatinya adab serta luasnya manfaat dari karya yang dihasilkan. Di tengah budaya yang sering mengagungkan simbol akademik, buku ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang membentuk karakter, menggerakkan pengabdian, dan menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan peradaban.

Menariknya, selain buku ini ditulis dari Tanah Suci Makkah pada musim Haji tahun 2026 ini, buku ini juga terdiri dari lima bagian dengan 200 halaman. Pada bagian pertama tentang Gelar. Ilmu dan Kemuliaan Akhlak, bagian kedua ; Etos Berkarya sebagai jalan Pengabdian, bagian ketiga Meneladani Jejak Para Imam dan Ulama, bagian keempat Ulama, Pendidikan dan Peradaban dan bagian kelima Warisan, Pengabdian dan Capaian Kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here