Empat Unsur, Satu Nafas: Kearifan Bugis sebagai Fondasi Ekologi dan Kesehatan

0
44
- Advertisement -

Kolom Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia – IDI, 2012–2015, dan Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia – HIFDI

Masyarakat Bugis telah merumuskan sebuah kosmologi, yang jauh melampaui mitologi biasa. Filosofi Sulapa’ Eppa’, segi empat yang merepresentasikan empat unsur pembangun semesta: angin (riu), api, air, dan tanah, adalah sistem etika ekologis yang mengajarkan bahwa kehidupan hanya mungkin berlangsung dalam keseimbangan.

Keempat unsur di atas bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan simpul-simpul dalam satu jaring kehidupan yang saling menopang. Ketika satu simpul putus, seluruh jaring bergetar. Inilah pesan yang kini paling mendesak didengar oleh peradaban modern yang sedang menuai badai dari ketidakseimbangannya sendiri.

Angin (Riu): Kebijaksanaan yang Menggerakkan Siklus Kehidupan
Dalam kosmologi Bugis, angin disimbolkan dengan warna kuning dan dihubungkan dengan sifat kebijaksanaan dan kecendekiaan. Para pelaut Bugis yang dikenal sebagai penjelajah Nusantara menguasai ilmu astronomi tradisional untuk membaca arah mata angin, dan memiliki ritual khusus mengusir angin jahat (marutung) demi keselamatan di lautan (Repositori Kemendikbud, 2023). Penghormatan ini bukan takhayul, sains membenarkannya.

Menurut World Meteorological Organization (WMO, 2021), angin mengatur distribusi panas bumi, mendorong siklus penguapan, dan mengangkut serbuk sari yang menjamin reproduksi tumbuhan dan ketahanan pangan global. Tanpa angin, ekosistem darat dan laut akan runtuh. WHO (2022) menegaskan bahwa polusi udara menyebabkan 7 juta kematian prematur setiap tahun, bukti bahwa udara bersih bukan kemewahan, melainkan hak dasar kehidupan.

Api: Keberanian yang Menuntut Tanggung Jawab
Api dalam Sulapa’ Eppa’ melambangkan keberanian dan vitalitas, sejalan dengan etos Massompe’ (merantau) orang Bugis yang pantang menyerah. Ia hadir dalam ritus spiritual Mappaleppe Tinja dan tari sakral Sere Api di Barru sebagai penghubung manusia dengan leluhur dan Sang Pencipta (Universitas Hasanuddin, 2023).

Namun filosofi Bugis sendiri memperingatkan: api tanpa keseimbangan menjadi bencana. IPCC (2022) mengkonfirmasi ini, kebakaran hutan meningkat drastis akibat perubahan iklim, melepas karbon masif dan memperparah pemanasan dalam lingkaran tak berujung. Studi dalam Nature Communications (Marlier et al., 2023) mencatat bahwa asap kebakaran hutan di Asia Tenggara menyebabkan ratusan ribu kematian prematur per tahun dari penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Air: Penghubung yang Menjamin Kelangsungan
Air dalam Sulapa’ Eppa’ melambangkan ketabahan, unsur yang mengalir menembus rintangan, memberi kehidupan ke mana pun ia pergi. Tanpa air, angin kehilangan medium siklus hidrologisnya; tanpa angin, air tak terangkut dari lautan ke daratan. Keduanya terhubung dalam satu sistem yang tak terpisahkan. IPCC (2021) memperingatkan bahwa distorsi pola angin akibat pemanasan global, yang didorong oleh api industri bahan bakar fosil, telah mengubah curah hujan secara dramatis: sebagian wilayah dilanda banjir, sebagian lain mengalami kekeringan berkepanjangan. Krisis air bersih yang kini mengancam lebih dari 2 miliar manusia (UN Water, 2023) adalah akibat langsung dari terputusnya keseimbangan antara api, angin, dan air yang sejak lama dijaga oleh kearifan seperti Sulapa’ Eppa’.

Tanah: Ibu yang Menopang Semuanya
Tanah adalah unsur keempat, fondasi dari seluruh sistem kehidupan. Dalam kosmologi Bugis, tanah melambangkan ketekunan dan kesabaran: ia diam, tetapi menopang segala sesuatu. Petani Bugis memahami secara intuitif apa yang kini dikonfirmasi oleh sains: tanah yang sehat adalah prasyarat ketahanan pangan, kesehatan manusia, dan stabilitas iklim. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO, 2022) dalam laporan The State of the World’s Land and Water Resources, lebih dari 33% lahan pertanian global telah terdegradasi, mengancam produksi pangan bagi miliaran orang.

Keterkaitan tanah dengan ketiga unsur lainnya bersifat fundamental. Tanah yang sehat menyimpan karbon, mengimbangi api industri, yang memompa CO₂ ke atmosfer. Tanah yang subur menyerap dan menyimpan air hujan, mencegah banjir dan menjaga mata air tetap mengalir di musim kering. Dan tanah yang hidup, dipenuhi mikroorganisme, cacing, dan akar, bergantung pada pertukaran gas dengan angin dan atmosfer untuk proses respirasi dan fotosintesis. IPCC (2022) menegaskan bahwa restorasi tanah dan ekosistem daratan adalah salah satu solusi paling efektif dan berbiaya rendah untuk mitigasi perubahan iklim. Sebaliknya, kebakaran hutan dan pertanian monokultur, api dan eksploitasi yang tak terkendali, adalah perusak tanah paling cepat yang kita kenal.

Rekomendasi
Pertama, transisi energi terbarukan yang segera. IEA (2023) menegaskan energi berbasis angin dan surya harus menggantikan bahan bakar fosil. Indonesia perlu mempercepat kebijakan ini demi kualitas udara dan iklim. Kedua, perlindungan dan restorasi tanah serta gambut. FAO (2022) dan UNEP (2022) merekomendasikan moratorium permanen alih fungsi lahan gambut dan program restorasi tanah terdegradasi secara nasional.

Ketiga, pengelolaan air berbasis ekosistem. UN Water (2023) merekomendasikan pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) dalam pengelolaan sumber daya air, termasuk pemulihan DAS dan hutan riparian yang menjaga keseimbangan siklus hidrologi. Keempat, institutionalisasi kearifan lokal. UNESCO (2022) menegaskan sistem pengetahuan tradisional seperti Sulapa’ Eppa’ harus diintegrasikan ke dalam kebijakan lingkungan dan kurikulum pendidikan, bukan diperlakukan sebagai mitos yang usang.

Catatan Akhir
Filosofi Sulapa’ Eppa’ adalah peta kehidupan yang telah teruji berabad-abad. Angin yang bijaksana, api yang berani namun bertanggung jawab, air yang tabah mengalir, dan tanah yang sabar menopang, keempatnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan tanpa membayar harga yang mahal. Krisis iklim, polusi udara, kelangkaan air, dan degradasi tanah yang melanda dunia hari ini adalah bukti bahwa manusia modern telah mengabaikan keseimbangan yang diingatkan kearifan Bugis.

Sudah waktunya kita kembali belajar membaca angin seperti pelaut Bugis, menghormati api seperti tetua adat, menjaga air seperti petani yang paham musim, dan merawat tanah seperti ibu yang menghidupi semua. Keseimbangan Sulapa’ Eppa’ bukan sekadar warisan budaya, ia adalah cetak biru peradaban yang ingin bertahan. Wallahu a’lam bish-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here