Jejak Spiritual dalam Peradaban Makassar: Sebelum dan Setelah Islam Datang di Tanah Makassar

0
49
- Advertisement -

Kolom Syamsu Salewangang Dg Gajang (BPN IKK Gowa)

Sebagaimana pemahaman yang tertanam dalam benak orang-orang Makassar bahwa warisan peradaban mereka berakar kuat pada empat aspek utama yaitu spiritualitas, intelektualitas, leadership/kepemimpinan, dan humanistik/kemanusiaan. Artikel ini membahas lebih dalam tentang jejak spiritulitas orang-orang Makassar dari masa silam.

Peradaban Makassar tidak pernah lepas dari dimensi spiritual yang dikenal dengan istilah anu alusu’ atau dimensi yang tidak dapat disentuh dengan panca indera. Dari lereng Gunung Bawakaraeng sampai pesisir Selat Makassar, cara orang Makassar memaknai hidup, alam, dan Tuhan selalu meninggalkan jejak yang kuat. Jejak itu berubah bentuk, tapi nilainya tetap seperti sedia kala.

1. Sebelum Islam: Spirit Patturioloang dan Animisme Dinamis
Sebelum abad ke-17, spiritualitas masyarakat Makassar berakar pada kepercayaan kepada Patturioloang Yang Empunya Asal Mula, yang dilekatkan kepada istilah Rewatayya/Batarayya atau dalam bahasa yang lebih sederhana, orang Makassar sering menyebutnya kaminang kammaya yang paling berkuasa atas segala sesuatunya. Konsep ini mirip prinsip dasar Tauhid yaitu satu kekuatan tertinggi yang menciptakan langit, bumi, dan manusia.

Ciri utamanya: Animisme dan Dinamisme: Gunung, laut, pohon besar, dan batu dianggap memiliki sumanga (tenaga gaib) Gunung Bawakaraeng menjadi pusat semesta spiritual. Orang Makassar percaya di sanalah awal manusia dan penguasa pertama turun.

Ritual Pesisir dan Pertanian. Ada upacara akpalilik untuk meminta hujan, aksongka bala untuk tolak bala, dan attoana ri jeknek agar nelayan selamat dan hasil melaut melimpah. Semua itu bukan dimaksudkan untuk menyembah benda, akan tetapi hanya sebagai perantara untuk sampai ke kekuatan agung.

Siri’ dan Pacce: Nilai “siri’ na pacce” (harga diri dan solidaritas) sebenarnya juga sarat akan spiritual. Siri’ itu rasa malu berbuat hina karena manusia memiliki martabat dari Yang Maha Tinggi.

Spiritualitasnya praktis, menyatu dengan laut, pertanian yang diwakili oleh padi, dan kerajaan sebagai simbol kepemimpinan. Raja Gowa pertama dianggap sebagai sosok yang turun dari langit sehingga digelari Karaeng Tumanurunga. Jadi politik dan spiritual tidak terpisah, menyatu dalam satu tarikan nafas yang seiring sejalan. Raja Gowa dan para pemimpin wilayah lainnya, tidak hanya sebagai pemimpin yang mengatur tatanan bernegara dan bermasyarakat, tapi juga sekaligus memiliki kemampuan spiritual yang lebih dari warganya.

2. Islam Masuk Abad ke-17.
Tahun 1605 jadi garis sejarah. Raja Gowa ke-14, I Mangngarangi Daeng Manra’bia Sultan Alauddin dan Raja Tallo ke-6, I Mallingkaang Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam bersyahadat lewat dakwah Datuk ri Bandang, Datuk ri Pattimang, Datuk ri Tiro – “Tiga Datuk” dari Kota Tengah Minangkabau. Terjadi perubahan mendasar, namun sama sekali tidak menghapus, bahkan menyempurnakan: Patturioloang → Allah SWT: Konsep Tuhan Yang Esa sudah ada, jadi Islam masuk tanpa benturan keras. Orang Makassar mengatakan Tuhan Yang Maha Esa tinggal mengganti nama dan syariatnya.

Masjid jadi pusat baru: Mesjid Tua Katangka 1607 menjadi mesjid kerajaan pertama. Dari sinilah dakwah Islam menyebar ke Bone, Soppeng, Wajo, dan wilayah lainnya di Sulawesi Selatan, kecuali Luwu sampai NTB dan NTT khusunya pulau Flores. Mesjid menggantikan peran sentral dari Balla Lompoa atau Balla Kalompoanga sebagai titik kumpul spiritual orang-orang Makassar.

Syariat dan Adat: Konsep pangngadakkang (hukum adat) diselaraskan dengan syariat. Ada pepatah: Ada’ na gau’ tallasak ri sara’ artinya Adat dan perbuatan disandarkan pada syariah. Siri’ tetap dijaga, tapi alasannya sekarang karena perintah Allah.

Tasawuf dan Tarekat: Setelah Islam mapan, orang-orang Makassar mulai belajar tarekat. Tarekat yang paling populer adalah tarekat Khalwatiyah yang diajarkan oleh Syeikh Yusuf Al-Makassari. Zikir, suluk, dan pendidikan ala pesantren jadi warna baru. Syekh Yusuf Al Makassari masih memiliki murid dan pengikut yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan di negara lain seperti Srilanka (Ceylon) dan Afrika Selatan. Makam beliau di Afrika Selatan sekarang jadi situs ziarah dunia.

3. Benang Merah yang Bertahan
Islam tidak menghapus budaya, tapi membersihkan yang bertentangan. Jejak spiritual pra-Islam yang selaras tetap hidup:
Sebelum Islam; Hormat ke Gunung Bawakaraeng, Sesaji laut akpanaung ri jeknek, Konsep Tumanurung, Siri’ na Pacce,
Setelah Islam: Ziarah ke makam raja/ulama di lerengnya, Doa bismillah sebelum prosesi sedekah laut, Raja wajib Islam dan adil, Izzah dan Ukhuwah Islamiyah,

Makna yang Bertahan: Gunung tetap sakral sebagai tempat dekat dengan Tuhan, laut tetap sebagai sumber rezeki yang disyukuri, Pemimpin tetap mempunyai tanggung jawab spiritual ke rakyat, Harga diri dan solidaritas jadi ibadah.

Jadi spiritualitas Makassar itu terdiri atas lapisan bawah dan atas Lapisan bawah: rasa takut dan hormat ke Sang Pencipta. Lapisan atas: syariat Islam yang merapikan.

Makanya orang-orang Makassar cepat menerima Islam karena sudah satu frekuensi sejak awal kehadirannya di Butta Mangkasara. Sampai sekarang jejaknya kelihatan: azan bersahut-sahutan dari masjid Tua Katangka hingga masjid-masjid yang dibangun di era modern, tradisi Maulid Nabi/Maudu di kampung-kampung hingga Maulid Akbar/Mauduk Lompoa di Cikoang, dan filosofi sipakatau, sipakalakbiri, sipakainga (saling memanusiakan, saling menghargai, saling mengingatkan). Itu semua merupakan akhlak Islam yang tumbuh di tanah Siri’ na Pacce, Butta Mangkasara.

Kebagusan, 13 Juni 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here