Menghadirkan Karya Tulis Buku yang Dipagelarkan dan Dipanggungkan, Seperti Apa?

0
48
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

UNTUK mewujudkannya, dibutuhkan proses kontemplasi dan renungan yang mendalam.

Inti dari semua gagasan atau nawanawa itu bermula dari cita rasa impian yang tumbuh di dalam hati.

Apakah semua gagasan dapat diwujudkan?

Berdasarkan pengalaman dalam menulis, khususnya artikel dan esai yang kemudian dihimpun dalam buku Nawanawa Anak Kampung Merindukan Kota, muncul keinginan untuk mewujudkan hal tersebut.
Keinginan itu semakin kuat setelah mendapat motivasi dari beberapa sahabat dan guru besar yang memberikan testimoni atas apa yang saya tulis dalam buku ini.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap berbagai respons tersebut, saya ingin mewujudkan mahkota gagasan itu menjadi sebuah pagelaran peluncuran buku yang dapat dinikmati secara emosional. Tidak hanya melalui narasi yang disampaikan di atas panggung, tetapi juga melalui impresi estetik yang dihadirkan lewat elemen-elemen musik yang begitu variatif dan dimiliki oleh berbagai entitas etnik di Nusantara.

Potensi elemen musik itu sangat besar.
Bagaimana upayanya?

Pertanyaan ini menyita renungan panjang bagi saya, yang sejak masa kanak-kanak hidup dalam berbagai keterbatasan hingga saat ini.

Dengan melihat potensi keragaman budaya yang dimiliki oleh entitas-entitas etnik Nusantara, saya membayangkan bagaimana menghadirkannya menjadi sebuah simfoni yang merepresentasikan identitas dan karakter elemen musik etnik dari setiap daerah di negeri kepulauan yang luas ini.

Potensi elemen musik etnik tersebut dapat dihidupkan dari berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Sumatera—Tapanuli, Minangkabau, dan Melayu—hingga Kutai di Kalimantan; Betawi, Sunda, Jawa, dan Bali; Nusa Tenggara; Ambon; Papua; Minahasa; Bugis-Makassar; Toraja; serta Buton.

Elemen instrumen musik yang dapat dihadirkan antara lain instrumen gesek seperti biola; instrumen tiup seperti seruling dan terompet; instrumen petik seperti kecapi dan gambus; instrumen tabuh seperti gendang, gamelan, dan kulintang; serta instrumen yang dimainkan dengan cara digoyang seperti angklung.

Instrumen-instrumen tersebut kemudian dipadukan menjadi sebuah simfoni yang merepresentasikan kekhasan masing-masing etnik dan daerah.

Musik Etnik Orkestra Nusantara (MEON)
MEON menjadi simbol identitas bangsa dan daerah.

Kehadirannya dapat menjadi alternatif yang menggantikan dominasi musik dari luar, khususnya musik Eropa, dalam berbagai perhelatan kebangsaan.
MEON dapat dihadirkan pada berbagai event kebangsaan, baik dalam skala nasional maupun daerah.

Selain itu, MEON juga dapat menjadi pilihan dalam berbagai acara adat, pernikahan, maupun kegiatan personal lainnya.

Apabila dikelola secara profesional, MEON berpotensi menjadi sumber kapital yang mampu menghidupkan para seniman kreatif sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi yang terkait dengan dunia kesenian.

Saya melihat gagasan MEON ini sangat menarik karena tidak sekadar menjadi pertunjukan musik, tetapi juga menawarkan konsep kebudayaan yang mempersatukan keragaman etnik Nusantara dalam satu panggung simfoni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here