Rusman Latief Rilis Novel Kedua “Martabat yang Tersisa”, Angkat Realitas Sarjana Menganggur yang Merantau ke Jakarta

0
61
- Advertisement -

PINISI.co.id– Penulis Rusman Latief, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 1984–1989, kembali hadir di dunia sastra dengan menerbitkan novel keduanya berjudul Martabat yang Tersisa: Jalan Hidup Baco Londong. Novel bergenre sosial-budaya tersebut diterbitkan oleh Aksara Khatulistiwa pada Juni 2026 dengan latar Kota Makassar yang sarat nuansa budaya Bugis Makassar.

Novel ini mengangkat realitas sosial yang dihadapi banyak lulusan perguruan tinggi, yakni sulitnya memperoleh pekerjaan di tengah ketatnya persaingan dunia kerja.

Kisah berpusat pada Baco Londong, seorang sarjana berprestasi lulusan universitas ternama di Makassar yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah dua tahun menganggur. Berbagai penolakan kerja yang dialaminya tidak hanya menimbulkan tekanan psikologis bagi dirinya, tetapi juga menjadi beban sosial yang turut dirasakan oleh sang ibu.

Perjalanan hidup Baco mulai berubah ketika ia bertemu seorang pria lanjut usia di Lapangan Karebosi, Makassar. Di tempat yang menjadi salah satu ikon kota tersebut, Baco mendapatkan nasihat yang mengubah arah hidupnya: merantau ke Jakarta untuk mencari peluang dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

Tekad untuk bangkit semakin kuat berkat dukungan sahabatnya, Alifa. Dengan penuh keikhlasan, Alifa menyerahkan seluruh tabungan yang telah dikumpulkannya selama dua tahun sebagai modal awal bagi Baco untuk memulai kehidupan baru di ibu kota. Menjelang keberangkatan, Baco menyiapkan berbagai dokumen penting dan memilih berpamitan melalui sepucuk surat kepada orang tua serta adiknya untuk menghindari perpisahan yang penuh haru.

Melalui tokoh Baco Londong, novel ini merefleksikan perjuangan banyak sarjana yang berusaha mempertahankan martabat dan harga diri di tengah keterbatasan kesempatan kerja. Kisah tersebut menjadi representasi dari realitas sosial yang masih dihadapi sebagian generasi muda Indonesia.

Rusman Latif

Menurut Rusman Latief, novel ini tidak sekadar menyajikan cerita fiksi, tetapi juga merupakan kritik sosial terhadap ketimpangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dan ketersediaan lapangan kerja di Indonesia. Melalui pergulatan batin tokoh utamanya, pembaca diajak memahami makna siri’ atau harga diri dalam budaya Bugis, di mana merantau sering dipandang sebagai jalan kehormatan untuk mengubah nasib dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

Martabat yang Tersisa: Jalan Hidup Baco Londong merupakan novel kedua karya Rusman Latief. Sebelumnya, mantan praktisi televisi tersebut telah menerbitkan novel perdananya berjudul Sang Matahari pada tahun 2023. Melalui karya terbarunya ini, Rusman kembali menghadirkan narasi yang memadukan persoalan sosial, nilai budaya, dan perjuangan hidup manusia dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. (Man)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here