Safwan dan Nuzul Fahmi Life by Design Mahasiswa Terbaik Satu Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin

0
38
- Advertisement -

Safwan dan Nuzul Fahmi Life by Design
Mahasiswa Terbaik Satu Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin

Oleh Bachtiar Adnan Kusuma
Penulis Ketua Forum Nasional Penerima Penghargaan Tertinggi NJDP Perpustakaan Nasional

Pada Selasa, tepatnya Tanggal 17 Juni 2026 atau bertepatan dengan 2 Muharram 1448 H adalah momentun istimewa yang kembali mengingatkan penulis tentang almamater IAIN Alauddin pada 1990-an silam. Betapa tidak. Pertama, penulis pernah menimbah ilmu di kampus IAIN Alauddin, kini berganti baju menjadi UIN Alauddin Makassar, kampusnya bermigrasi dari kampus lama di bilangan Jalan Sultan Alauddin Makassar ke kampus Samata UIN Alauddin.

Kendatipun istri penulis Ani Kaimuddin Mahmud (pernah tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Tarbiyah pada 1995) dan penulis tercatat mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Penyiaran Agama Islam pada 1990, namun tidak selesai. Penulis kembali menyadari kalau kehadiran penulis kembali di UIN Alauddin karena tanggungjawab sebagai orang tua wajib menghadiri Ramah Tamah Wisuda Fakultas Tarbiyah Angkatan 118 dan 119 tahun 2026.

Kehadiran penulis kembali di UIN sebelumnya bernama IAIN Alauddin, menyadarkan kalau perburuan ilmu agama penulis justru diselesaikan oleh Safwan dan Zulfahmi. Terima kasih ananda Safwan Ariyadi Kusuma dan Nuzul Fahmi.

Dari momen bahagia yang ditunjukkan para alumni dan orang tuanya, menunjukkan kalau estafet putaran pertama selesai. Berikutnya, menuju pembuktian dari diksi ke aksi. Menariknya, karena pidato pelepasan alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin yang disampaikan Dekan Prof. Dr. H.Andi Achruh, M.Pd.I. menegaskan kembali bahwa alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin tidak boleh sombong dengan predikat yang telah direngkuh. “ Ciri-ciri alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin adalah menjaga marwah nama baik almamater, mengutamakan karakter yang mulia dan melangkah sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. Harus lebih banyak bekerja daripada banyak bicara” kata Prof. Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I.

Apa yang dikemukakan Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin, intinya mengingatkan kembali kalau seusai menyandang titel sarjana, berarti siap menghadapi tantangan hidup.

Benarlah kata Steve Jobs dalam bukunya “Life by Design” yang dtulis George Beahn, menegaskan kalau waktu yang terbatas, sebaiknya jangan menjalani hidup orang lain. Jangan terjebak dogma—hidup dalam hasil pemikiran orang lain, jangan biarkan suara mengganggu dari pendapat orang lain menenggelamkan suara hati kita sendiri. Karena itu, seusai menyandang predikat sarjana, maka selanjutnya berusaha sendiri tanpa menggantungkan diri kepada orang lain.

Nah, kalau hari yang berbahagia ini ratusan suara wisudawan menggema di dalam ruangan hotel UIN Alauddin Makassar menunjukkan rasa bahagia orang tua dan wisuadawan. Dari berbagai kalangan orang tua hadir dan dari berbagai daerah terdengar sejuta harapan dan mimpi serta asa menjulang tinggi. Sebagai orang tua dari wisudawan pikiran penulis kemana-mana. Acapkali penulis bertanya pada diri sendiri, kemana anak-anak kami pasca wisuda? Apakah mampu bersaing di tengah kompetisi hidup yang serba ketat. Namun, sebagai orang tua, penulis selalu optimis dan mengakui kalau anak-anak kami mampu menghadapi tantangan hidup. Berbagai ujian kesulitan telah dilalui selama kurang lebih tiga setengah tahun. Keringat, air mata dan doa selalu menyertai mereka di setiap meninggalkan rumah di Parangtambung menuju Kampus UIN Samata. Pagi, siang, sore dan larut malam kadang-kadang tetiba di rumah hanya karena mengejar ingin selesai tepat waktu.

Terima kasih Safwan( IPK 3,91), engkau telah menjadi anak ayah dan mama yang menerima segala keterbatasan ekonomi yang ayah dan mama miliki. Penulis bangga karena kalian adalah anak-anak hebat yang tidak pernah menunjukkan sedikitpun kata menyerah. Apalagi mengeluh atau melihat segala kelebihan orang lain.

Terima kasih Nuzul Fahmi(3,99) telah menjadi sahabat dan mampu mendekap Safwan dan telah menjadikan penulis seperti ayah sendiri.
,
Kita Mulai dari Sederhana

Energi keberhasilan yang kalian berdua tunjukkan hari ini sudah menyala, tugas selanjutnya adalah menjaganya agar tetap berkobar. Caranya? Mulailah dari hal-hal kecil. Tularkan energi kebaikan itu pada orang-orang terdekat. Itulah yang ditawarkan penulis dalam Bukunya “Parenting Literasi”.

Jujur, keluarga memang menjadi unit terkecil dalam masyarakat. Bukan karena dia unit terkecil, maka kecil pula pengaruhnya. Persoalan sosial yang ada di masyarakat, biasanya berawal dari tatanan keluarga yang rapuh. Juga sebaliknya, keadaan masyarakat harmonis, pasti lahir dari keluarga nan tentram.

Jangan pernah berhenti bergerak, teruslah belajar dan teruslah bermimpi. Apalagi bermimpi setinggi langit tidak dibayar.

Karena itu, belajar dan teruslah merenda hari esok. Hanya dengan pendidikan yang baik, berikutnya akan mengluarkan kita dari kemiskinan. Seperti teori ekonomi yang menyebutkan siapa yang menuntut ilmu setinggi langit, maka mereka akan sejahtera hidupnya. Knowledge Drven of Economy. Selamat Safwan dan Selamaf Zulfa…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here