Ferdinand Montororing Mengungkap Rahasia Kehidupan yang Tertib

0
68
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

APA yang dimaksud dengan kehidupan yang tertib, berdisiplin, dan bertanggung jawab?

Sahabat dari Kawanua ini saya kenal di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada era 1970-an bersama Nurhadi Irawan, Soeparwan Gayung Parekesit, Musfihin Dahlan, Zulvan Lindan, Eka Budianta, Marjoko, Abu Hasan, Rita Hastuti, dan Eka Riau.

Mereka adalah para aktivis pergerakan seni dan jurnalis. Kami berinteraksi di TIM dengan menerbitkan Jurnal Filsafat yang diedarkan secara terbatas kepada para senior budayawan dan jurnalis.

TIM saat itu menjadi sarana pembelajaran berbagai disiplin kesenian dan kebudayaan yang diserap, dipelajari, serta didiskusikan bersama.

Usai dari TIM, aktivitas berlanjut ke Asrama Mahasiswa ANOA Indonesia Timur di Manggarai.

Mereka yang rutin menjadikan asrama itu sebagai pangkalan aktivitas antara lain Ferdinand, Soeparwan, Marjoko, dan Eka.
Sahabat ini adalah tamu saya yang dengan cepat mampu beradaptasi dan berinteraksi akrab dengan para penghuni asrama.

Di antara mereka, Ferdinand dikenal sebagai aktivis pemuda yang murah senyum. Ia memiliki jaringan yang luas dengan sejumlah tokoh senior, antara lain Nurdin Syadat, pendiri Paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, pendiri Perguruan Sawerigading, serta Jenderal Polisi M. Yasin.

Di Asrama ANOA ini, Ferdinand mengadaptasikan diri dengan para pemuda pergerakan dari Indonesia Bagian Timur yang menghimpun 11 provinsi, yaitu Timor Timur, NTT, NTB, Papua, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, dan Kalimantan Timur.

Ia beradaptasi dengan ideologi pergerakan yang memperjuangkan kesetaraan pembangunan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur yang pada saat itu, khususnya pada dekade 1980-an, masih mengalami ketimpangan.

Adaptasi Kehidupan Universal
KEMUDIAN Ferdinand juga mengamati kehidupan para penghuni asrama. Ada yang berprofesi sebagai jurnalis dan mengetik hingga larut malam untuk mempersiapkan reportase yang akan tayang keesokan harinya.

Dari pengalaman itu, Ferdinand melakukan refleksi diri. Menurutnya, perlu ada proses perencanaan, disiplin, dan keteraturan dalam melakukan setiap tindakan dan perbuatan. Segala sesuatu tidak boleh dilakukan secara spontan tanpa persiapan, atau sekadar mengandalkan “tiba masa, tiba akal”.

Saya kembali bertemu Ferdinand di Pondok Makan 23, Ragunan, di samping Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, setelah puluhan tahun tidak berjumpa.
Pertemuan itu seakan menghidupkan kembali dan menapaki jejak perjalanan masa lampau hingga kini, ketika kami telah memasuki usia lansia, sekitar 70-an tahun, yang kerap disebut sebagai the golden age atau usia emas.

Cerita yang tidak pernah putus itu kemudian berlanjut ke Kedai Riolo di Kwitang, Jakarta Pusat, hingga ke kediamannya yang berada di kawasan dekat Kali Ciliwung, wilayah yang kerap dilanda banjir.

Ferdinand kini memiliki kantor pengacara di Bekasi dan telah menangani sejumlah perkara yang berhasil dimenangkannya.
Saat ini, ia juga tengah menggugat Menteri Keuangan Republik Indonesia ke Pengadilan Tata Usaha Negara terkait perpanjangan pencegahan bepergian ke luar wilayah Republik Indonesia terhadap dirinya dan sejumlah orang dalam rangka pengurusan piutang negara.

Cita-Cita Pengabdian
FERDINAND bersama putrinya, Martila Meldy Montororing, melalui wadah advokasi Law Office Ferdinand Montororing & Partners, menjadikan profesi hukum sebagai wahana perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa, yaitu perlindungan hak asasi manusia, kesejahteraan, pencerdasan kehidupan bangsa, dan perdamaian universal sebagaimana diikrarkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Ikrar tersebut seyogianya menjadi penghayatan, pemahaman, dan tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai itu tidak cukup hanya dibaca atau dijadikan retorika, melainkan harus diwujudkan oleh setiap pejabat publik pada semua tingkatan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Bagi Ferdinand Montororing, kehidupan yang tertib, berdisiplin, dan bertanggung jawab bukan sekadar konsep yang diucapkan, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, konsistensi sikap, serta pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan cara itulah kehidupan memperoleh makna yang lebih luas dan memberi manfaat bagi sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here