Anak yang Bakti dan Orang Tua Pedagang Pasar yang Ikhlas

0
72
- Advertisement -

Kolom Fiam Mustamin

KISAH yang mengharukan itu dibagikan di kanal International Bugis Union (IBU).
Grup kanal tersebut digagas dan diinisiasi oleh komunitas warga Soppeng, antara lain Amiruddin Mise, Mansur Siri, dan Agus Maulana.

Dalam video itu ditampilkan suasana ramai para penjual makanan di pasar.
Kemudian datang seorang pemuda dengan dompet yang terbuka, memperlihatkan beberapa lembar uang ringgit. Ia menghampiri para penjual makanan dan mencoba menawar makanan dengan uang yang sangat terbatas di dompetnya.
Namun, pedagang yang pertama kali dihampirinya menolak dengan kata-kata yang ketus.

Pemuda itu kemudian tiba di hadapan seorang pedagang tua, seorang pak cik yang penuh empati. Dengan penuh perhatian, pak cik tersebut memperhatikan pemuda itu dan mempersilahkannya duduk.

Tak lama kemudian tersajilah sepiring makanan lengkap dengan lauk-pauknya yang melimpah.

Pak Cik itu rupanya memahami bahwa pemuda tersebut sedang menanggung beban kehidupan keluarganya. Setelah pemuda itu selesai makan, sang pedagang tua membungkuskan makanan untuk dibawa pulang, bahkan memberinya sebuah amplop yang berisi beberapa lembar uang ringgit sebagai bekal untuk melanjutkan kehidupan.

Pemberian tulus dari orang tua itu diterima dengan penuh haru. Makanan yang tersisa di piring pun tidak dihabiskannya. Ia membungkusnya dengan hati-hati untuk dibawa pulang.

Sesampainya di gubuk sederhana tempat tinggalnya, adik-adiknya telah menunggu dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan.

Pemuda itu kemudian menghampiri neneknya yang terbaring lemah. Dengan penuh kasih sayang, ia menyuapi sang nenek sedikit demi sedikit.

Pada adegan itulah tangis haru saya pecah. Seakan-akan saya sedang menyaksikan kembali perjalanan hidup saya sendiri di kampung.

Flash Back / Kilas Balik di Kampung
SAYA teringat masa kecil di kampung.
Adikku, Adam Maggu, yang saat itu masih anak-anak, berjualan keliling pasar untuk membantu menopang kehidupan ibu serta adik-adik kami yang masih kecil.

Kami tumbuh dalam keterbatasan. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Namun, di balik segala kekurangan itu, tersimpan semangat kerja keras, kebersamaan, dan kasih sayang keluarga yang tidak pernah pudar.

Saya baru bisa berbakti kepada keluarga setelah beranjak remaja, ketika merantau ke Makassar dan kemudian ke Jakarta.
Sebagian besar rezeki yang saya peroleh dari hasil bekerja selalu saya peruntukkan bagi ibu dan adik-adik di kampung. Itulah kebahagiaan terbesar yang dapat saya rasakan pada masa itu, ketika sedikit demi sedikit dapat membantu meringankan beban keluarga.

Selama kurang lebih sepuluh tahun saya hidup bersama ibu (Indo) dan adik-adik di Jakarta. Kami menjalani kehidupan dengan segala suka dan dukanya, saling menguatkan dalam menghadapi kerasnya kehidupan perantauan.

Kebersamaan itu menjadi kenangan yang sangat berharga hingga akhirnya ibu berpulang pada tahun 1984.

Kini, setiap kali menyaksikan kisah tentang anak yang berbakti kepada orang tuanya dan orang tua yang ikhlas menolong sesama, ingatan saya selalu kembali kepada masa-masa itu. Masa ketika keluarga menjadi sumber kekuatan, dan kasih sayang menjadi modal utama untuk bertahan menghadapi kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here