Nur Alem Alvaima, 47 Tahun Mengabdi sebagai Wartawan Bagaimana Menjalaninya?

0
76
- Advertisement -

Catatan Fiam Mustamin

Nur Alem Alvaima SH, MH. atau disapa Nur Terbit, menempuh pendidikan di IAIN Alauddin Makassar (kini UIN Alauddin Makassar) hingga meraih gelar Sarjana Muda (BA) pada periode 1979–1981. Sambil kuliah, ia mulai meniti karier sebagai wartawan di surat kabar mingguan Mimbar Karya dengan Pemimpin Redaksi Muhammad Anis. Kantor redaksi saat itu berada satu kompleks dengan Harian Tegas, di kawasan Bhakti Baru, Jalan Ahmad Yani, Makassar.

Setelah itu, Nur melanjutkan pendidikan Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menyelesaikan Strata 2 Ilmu Hukum di Universitas Islam Jakarta.

Kartu pers pertamanya diperoleh pada 1979, ketika masih menjadi mahasiswa baru. Saat itu ia diterima sebagai wartawan di Mingguan Mimbar Karya. Sebelumnya, ia telah aktif menulis cerita anak, cerpen, dan artikel opini di Harian Pedoman Rakyat di Makassar.

Pada 1980, ia diajak bergabung sebagai koresponden Harian Terbit (Grup Pos Kota) untuk wilayah Sulawesi yang berkedudukan di Makassar. Ajakan itu datang dari seorang rekan yang sebelumnya sama-sama menjadi wartawan di Mimbar Karya, namun kemudian pindah ke Harian Terbit.
“Nur, mau gabung tidak? Ini ada surat kabar Jakarta milik Pak Harmoko. Masih membutuhkan wartawan koresponden,” ujar rekannya.

Saat itu Harmoko masih menjabat sebagai Ketua PWI Pusat dan belum menjadi Menteri Penerangan.

Mendengar tawaran tersebut, Nur langsung tertarik. Baginya, menulis berita dari Sulawesi Selatan yang kemudian dimuat di surat kabar nasional merupakan kebanggaan tersendiri.

“Wah, pasti mantap. Berita yang saya tulis bisa dibaca masyarakat di seluruh Indonesia,” pikirnya.

Masa itu belum ada internet maupun media sosial. Berita dari Makassar dikirim ke Jakarta melalui pos atau faksimile. Bila sangat mendesak, berita dikirim melalui sambungan telepon interlokal. Bahkan, tidak jarang naskah berita dititipkan kepada pilot atau pramugari Garuda Indonesia dalam amplop tertutup, lalu dijemput redaksi di Bandara Soekarno-Hatta.

Kala itu televisi pun hanya TVRI dengan siaran hitam putih. Masyarakat memperoleh informasi nasional melalui program Dunia Dalam Berita pada malam hari. Televisi swasta belum hadir.

Makassar saat itu dipenuhi wartawan senior yang menjadi koresponden berbagai media nasional. Di antaranya Fahmi Miala (Kompas), Charles Arstaka (Merdeka), Burhanuddin Amin (Pelita), Dahlan Abubakar (Suara Karya), Syahrir Makkuradde (Majalah Tempo), Mahaji Noesa (Majalah Selecta dan Detektif Romantika), serta sejumlah nama lainnya.
Perjalanan karier Nur terus berlanjut.

Ketika Muhammad Thahir Ramli, Kepala Perwakilan Harian Terbit untuk Sulawesi, wafat, Pemimpin Redaksi Harian Terbit, Hadikamajaya (alm.), datang ke Makassar untuk melayat. Nur ditugaskan menjemput sekaligus mendampingi beliau selama berada di Makassar.

Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk bertanya. “Pak, apakah koresponden daerah bisa pindah ke Jakarta menjadi wartawan tetap?”

Pak Hadi menjawab, “Bisa saja. Hanya saja, kami belum dapat menyiapkan asrama untuk wartawan.”

Bagi Nur, itu bukan persoalan. Dalam hati ia sudah bertekad, bila perlu ia akan tidur di kantor sebagaimana yang sering dilakukannya di Makassar. Pagi kuliah, siang hingga sore menjadi wartawan, malam menjadi penyiar radio. Bila mengantuk, di mana saja bisa menjadi tempat beristirahat.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya Juni 1984, Nur memberanikan diri merantau (sompe) ke Jakarta dengan kapal laut milik PT Pelni. Sesampainya di ibu kota, ia menumpang sementara di rumah keluarga sesama perantau asal Sulawesi Selatan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Tiga bulan kemudian pecahlah Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984.

Tokoh utama peristiwa itu, Amir Biki, tinggal bertetangga dengan rumah tempat Nur menumpang. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting perjalanan hidupnya yang layak ditulis tersendiri.

Tak lama kemudian, Nur menemui Pak Hadi dan menyatakan kesiapannya “bertarung” sebagai wartawan di ibu kota.
Sejak 1984 hingga 2014, selama kurang lebih 30 tahun, ia mengabdikan diri sebagai wartawan Harian Terbit. Setelah pensiun dari media cetak, ia melanjutkan kiprahnya di media daring.

Menjelang masa pensiun, terjadi pergantian kepemimpinan redaksi. Hadikamajaya digantikan oleh Bagus Sudarmanto, wartawan senior Pos Kota, kemudian estafet kepemimpinan diteruskan oleh Tarman Azzam (alm.) hingga akhirnya Harian Terbit mengalami perubahan manajemen.

Selama bertugas di Jakarta, Nur juga bertemu kembali dengan Ramli dan Magrur, sahabat satu angkatannya di Fakultas Publisistik Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Sebagian besar penugasannya berkaitan dengan liputan hukum. Pengalaman panjang itu kemudian membawanya menekuni profesi advokat. Ia lulus Ujian Advokat pada 2009, namun baru aktif berpraktik pada 2015 setelah resmi diambil sumpahnya di Pengadilan Tinggi Bandung, Jawa Barat.

Perjalanan Nur Terbit  adalah kisah tentang ketekunan, keberanian merantau, dan dedikasi tanpa henti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here