Oleh Syahrir Andi Mangga
Anggota KKSS Kota Bandung, Wilayah Jawa Barat
Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) dibentuk pada 12 November 1976 di Jakarta. Pada 12 November 2026, KKSS genap berusia 50 tahun (setengah abad). Rangkaian perjalanan panjang dalam pelaksanaan program dan kegiatan organisasi, mulai dari tingkat pusat (BPP), wilayah (BPW), hingga daerah (BPD), dari tahun ke tahun telah membawa kita melewati perjalanan panjang yang memberikan banyak pelajaran dan pengalaman empiris.
Sebelum memasuki usia 50 tahun ada baiknya kita sejenak berhenti untuk merenungkan berbagai tahapan perjalanan yang telah kita lewati. Dengan kearifan pemikiran dan pandangan, kita tidak perlu saling menyalahkan. Yang lebih penting adalah melakukan evaluasi diri dan refleksi bersama atas capaian program, sekaligus menyusun strategi baru untuk menata energi organisasi (image building).
Kebersamaan dan perbedaan penilaian maupun pandangan telah terjadi sepanjang perjalanan tersebut. Berbagai keberhasilan tidak kemudian menafikan atau menihilkan kegagalan. Begitu pula sebaliknya, berbagai kegagalan tidak kemudian menafikan keberhasilan. Keberhasilan, kegagalan, serta berbagai hal yang belum kita capai hendaknya menjadi masukan sekaligus modal sebagai entry point dan starting point untuk melahirkan konsepsi atau paradigma yang meliputi reaktualisasi, revitalisasi, dan reformulasi ide guna melihat dan mengawal organisasi ini ke masa yang akan datang.
Lontara sebagai naskah kuno merupakan salah satu sumber data dan informasi kebudayaan daerah atau kerajaan untuk merekonstruksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa lampau. Lontara meliputi adat istiadat, hakikat manusia, sistem pemerintahan (bernegara dan berbangsa), hukum, ekonomi, politik, dan sosial.
Nilai-nilai budaya Bugis-Makassar merupakan prinsip hidup yang berasal dari produk value and culture dan dinarasikan dalam bentuk penerapan nilai-nilai moral.
Pada abad ke-10 (pra-Islam), kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan sudah mengenal prinsip demokrasi. Prof. Andi Zainal Abidin S.H. menyebutnya sebagai prinsip demokrasi, sementara Prof. Dr. Mattulada menyebutnya sebagai prinsip kerakyatan.
Pada masa itu juga telah diterapkan pemisahan pemerintahan atau kekuasaan. Peranan kerajaan atau raja berfungsi sebagai eksekutif, Dewan Adat berfungsi sebagai legislatif, sedangkan hakim menjalankan fungsi Yudikatif. Seorang raja dipilih dan dapat diberhentikan oleh Dewan Adat. Di antara raja dan rakyat atau masyarakat juga terbentuk suatu perjanjian berupa kontrak politik dan sosial.
Sementara itu, di Eropa pada abad ke-14 hingga ke-17 baru lahir konsep gerakan Renaisans yang berarti terlahir kembali. Kemudian dikenal pula konsep Trias Politika yang dikembangkan oleh John Locke dan selanjutnya disempurnakan oleh Montesquieu.
Sebagai suatu panggilan, ingatan kolektif, dan momentum hari lahir KKSS yang ke-50 tahun telah membangkitkan dan memunculkan gagasan serta semangat baru berupa jejak pemikiran tentang nilai-nilai budaya Bugis-Makassar pada masa lalu yang dilaksanakan dan diwujudkan secara konsisten serta bertanggung jawab terhadap peranan mereka.
Nannia Adek’e Temmakkeana Temmakkeappo
Pemimpin (nakhoda) yang tangguh tidak pernah hadir dan dibentuk oleh ombak lautan yang tenang, tetapi justru ditempa dan ditantang di tengah badai dan ombak besar.
Seseorang yang dipilih dan diangkat menjadi pemimpin harus mempunyai sifat dan karakter, yaitu: Acca — kepintaran dan kapasitas. Kepandaian harus disertai dengan kejujuran dan integritas. Harus dihindari “Nalya Accae Ripatoppoki Jekko, Ebara Aliri, Narekko Teyai Mareddu, Mapolol”, yang artinya kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah; kalau tidak tercabut, ia akan patah.
Warani — kesatria. Orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri adalah pejuang terkuat.
Lempu — kejujuran.
Reso — usaha atau kerja keras. “Resopa Temmangingi, Malomo Naletei Pammase Dewata.”
Assitinajang — kepatutan.
Getteng — ketegasan.
Masagena — kemampuan untuk mengajak orang lain menerima, menyetujui, dan mendukung ide, program, serta perintah (influencing ability).
Makaritutu — kewaspadaan.
Seorang pemimpin sangat penting memiliki nilai-nilai moral yang baik dan integritas karakter. Ia harus mampu melakukan hal yang benar serta tidak melakukan tindakan dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, terlebih jika tindakan atau keputusan tersebut mengarah pada pelanggaran prinsip-prinsip etika, keadilan, dan kemanusiaan.
Pada diri seorang pemimpin harus melekat karakter yang kuat sehingga ia tidak boleh kehilangan harga diri dan kehormatan hanya demi kekuasaan. “If you lose your money, you have lost nothing. If you lose your health, you have lost something. If you lose your character, you have lost everything.”
Pemimpin juga harus melibatkan dan merekrut generasi muda yang terdidik serta memiliki pengalaman yang memadai (long life learning) sebagai “the rising generation/the growing people”. Hal ini penting untuk membentuk generasi muda terdidik yang memiliki idealisme dan mampu mewujudkan kepemimpinan anak muda sebagai “the new leadership”, dengan pandangan jangka panjang ke masa depan (long-range view at the key).
Dalam menghadapi tantangan dan rintangan, kita perlu memegang prinsip:
Narekko sitako ritengngana tasi’e, musu de’na rekko laleng; ekkapitu mutoleang sompa mu ri’ tau, ekkapitu to mutoleang sompa mu ri’ abiu, iyakko deppa narekkolaleng nappani muola perri’e, nekkia siseng muola perri’e nyawa mitu naranreng, nyawamu lah taruhanna.
Pantang mundur. Itulah karakter orang Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar-Mandar-Toraja). Nilai-nilai budaya tersebut sesungguhnya telah built up dalam diri masyarakat dan anggota KKSS.
Untuk memperingati hari jadi KKSS yang ke-50 tahun jangan pernah melupakan sejarah masa lalu (Jas Merah), karena di dalamnya terdapat nilai moral, pembelajaran, dan inspirasi tentang rentang perjuangan, adat istiadat (budaya), patriotisme, dan spiritualitas.
Sejarah pada akhirnya berbicara tentang ruang dan waktu. Sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana kita mengingat, mengenang, dan memaknai arti serta peranan masa lalu dan masa sekarang untuk kepentingan masa yang akan datang.














