Banjir Bandang Nepal: Ketika Pegunungan Himalaya Mengirim Peringatan

0
55
- Advertisement -

Banjir Bandang Nepal:
Ketika Pegunungan Himalaya Mengirim Peringatan

Catatan dari Atap Dunia yang Mulai Retak
Oleh: Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 2012-2015, dan
Wakil Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI), 2024-2027

NEPAL dikenal sebagai rumah puncak-puncak tertinggi dunia, tempat gletser Himalaya menopang hidup jutaan manusia selama ribuan tahun. Namun satu dekade terakhir, negeri ini berulang kali diguncang bencana serupa: air tiba-tiba meluap dari lembah tinggi, menyapu desa, jembatan, dan jalan raya dalam hitungan menit.
Kompas.com (27 Agustus 2026, oleh Albertus Adit) melaporkan banjir bandang yang melanda perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 177 orang menurut data sementara saat berita diturunkan, angka yang menurut artikel terkait kemudian terus bertambah hingga dilaporkan mencapai 273 korban jiwa. Dugaan awal menyebut gempa bumi sebagai pemicu tanah longsor. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memastikan getaran yang terekam, setara magnitudo 5,2, bukan berasal dari gempa tektonik, melainkan dari runtuhnya gletser (glacial collapse).

Penyebab: Runtuhnya Gletser Langtang Lirung

Ahli gletser dari University of Dundee, Dr. Simon Cook, menemukan indikasi keruntuhan pada bagian bawah gletser dekat puncak Langtang Lirung, sekitar 15 kilometer di sebelah barat kawasan yang diterjang banjir. Material gletser diduga runtuh ke arah barat laut sebelum mengikuti aliran sungai menuju hilir.
Analisis International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menunjukkan longsoran es dan batuan dari pegunungan yang lebih tinggi masuk ke Lende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, memicu kenaikan debit mendadak berupa air, lumpur, sedimen, dan bongkahan batu menuju hilir. ICIMOD mencatat ketinggian air di beberapa titik naik tujuh hingga sembilan meter hanya dalam 30 menit, sejumlah stasiun pemantau air bahkan hanyut atau rusak diterjang arus.

Penyebab pasti keruntuhan gletser ini masih diteliti. Namun ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa naiknya suhu global mempercepat pencairan gletser dan pelapukan permafrost (lapisan tanah beku) di Himalaya. Analisis ICIMOD awal 2026 mencatat gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya kehilangan massa dua kali lebih cepat dibanding periode sejak tahun 2000, meningkatkan risiko longsor, banjir bandang, dan jebolnya danau glasial.
Cook mencatat kejadian serupa juga terjadi di Chamoli, India, pada 2021, menewaskan sekitar 200 orang, serta di Swiss dan Italia. “Hubungan langsung satu peristiwa dengan perubahan iklim memang sulit dibuktikan,” kata Cook, “namun pola kejadian yang makin sering menunjukkan pemanasan global kemungkinan berpengaruh besar: seiring memanasnya Bumi, gletser menyusut, salju mencair masif, dan permafrost yang menopang kestabilan lereng gunung ikut mencair dan terdegradasi.” Ahli ICIMOD, Mohd Farooq Azam, menambahkan bahwa laju perubahan ini “begitu cepat sehingga upaya penanganan saat ini kewalahan untuk mengimbanginya.”

Selain keruntuhan gletser sebagai pemicu langsung, sebagian besar bencana banjir bandang di kawasan Himalaya, termasuk peristiwa-peristiwa sebelumnya, juga dipengaruhi curah hujan monsun yang kian ekstrem serta deforestasi dan pembangunan di lereng curam maupun bantaran sungai yang mengurangi daya serap alami tanah terhadap air dan material longsor.

Akibat Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, banjir bandang menimbulkan korban jiwa, kerusakan permukiman, serta putusnya akses jalan yang mengisolasi desa terpencil dari bantuan darurat. Infrastruktur listrik dan air bersih ikut rusak, memicu risiko wabah penyakit pascabencana.

Dalam jangka panjang, dampaknya jauh lebih dalam. Lahan pertanian yang tertimbun lumpur kehilangan kesuburan bertahun-tahun, memaksa keluarga petani bermigrasi dan mengubah struktur sosial desa. Sedimentasi masif mengubah pola irigasi dan pasokan air wilayah hilir. Yang paling mengkhawatirkan, pencairan gletser berarti Nepal, dan negara hilir sungai besar Asia bersumber Himalaya, perlahan kehilangan “bank air alami” yang menjaga ketersediaan air di musim kemarau.

Gema dari Bumi yang Tak Dapat Dihuni

Pola bencana ini telah diperingatkan dalam buku ”Bumi yang Tak Dapat Dihuni” karya David Wallace-Wells. Bab ”Panas Maut” memaparkan bagaimana pemanasan global mempercepat pencairan gletser di kawasan pegunungan tinggi seperti Himalaya. Bab ”Tanggelam” menjelaskan bagaimana pencairan es dan intensifikasi siklus air tidak hanya mengancam pesisir lewat kenaikan muka laut, tetapi juga memicu banjir katastropik di pedalaman.

Yang paling relevan adalah bab ”Bencana Tak Alami”, yang menegaskan tesis sentral buku ini: bencana yang kita sebut “bencana alam” sesungguhnya sulit dipisahkan dari campur tangan manusia lewat emisi karbon yang terakumulasi lebih dari satu abad. Banjir bandang Nepal, dalam kerangka ini, adalah konsekuensi nyata krisis iklim yang sumbernya justru sebagian besar berasal dari ”negara industri jauh dari Himalaya”.

Sejauh Mana Indonesia Terkait, dan Apakah Bisa Mengalami Hal Serupa?
Secara geografis, kontribusi Indonesia terhadap banjir bandang Nepal secara langsung praktis tidak ada, Indonesia tidak memiliki hubungan hidrologis dengan sistem sungai Himalaya. Namun secara sistemik, Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar dunia, terutama dari deforestasi dan energi berbasis batu bara. Emisi ini menyatu dengan emisi global lain di atmosfer yang sama, ikut mempercepat pemanasan yang mempercepat pencairan gletser Himalaya dan mengintensifkan monsun Asia Selatan. Tanggung jawab krisis iklim bersifat kolektif dan tidak mengenal batas negara.

Soal apakah Indonesia bisa mengalami kondisi serupa: secara persis sama, tidak bisa, kecuali di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya lokasi bergletser di Indonesia. Riset paleoklimat BMKG bersama Ohio State University mencatat ketebalan es Puncak Jaya merosot dari 32 meter (2010) menjadi diperkirakan 6 meter (akhir 2022), dengan laju pencairan sempat melonjak hingga 5 meter per tahun saat El Nino 2015-2016. Tutupan es turun dari 0,27 km² (Juli 2021) menjadi 0,23 km² (2022), penurunan sekitar 15 persen dalam setahun. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan gletser ini “terancam punah dalam beberapa tahun ke depan”. Di luar Puncak Jaya, Indonesia tidak memiliki massa es dan danau glasial berskala besar, sehingga risiko GLOF sebesar peristiwa Nepal-Tibet praktis tidak relevan bagi sebagian besar nusantara.

Namun, Indonesia memiliki ancaman serupa dalam bentuk berbeda: banjir bandang lahar hujan, yang di Sumatra Barat dikenal sebagai “galodo”. Fenomena ini terjadi ketika hujan deras menyeret material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung berapi seperti Marapi, membentuk lahar dingin yang deras dan mematikan, dipicu interaksi geologi berisiko tinggi dengan curah hujan ekstrem, persis seperti GLOF di Himalaya. Deforestasi dan alih fungsi lahan juga menjadi biang keladi banjir bandang dan longsor di daerah lain, dari Sentani hingga Garut. Indonesia menghadapi versi lokalnya sendiri dari ancaman yang sama.

Langkah Global dan Nasional yang Diperlukan

Pertama, perkuat pemantauan dan sistem peringatan dini danau glasial secara global. Negara pegunungan seperti Nepal membutuhkan dukungan teknologi dan pendanaan internasional, sementara Indonesia perlu memperluas peringatan dini banjir bandang dan longsor berbasis curah hujan di daerah rawan.

Kedua, wujudkan komitmen pendanaan kerugian dan kerusakan (loss and damage) secara nyata. Negara maju penyumbang emisi historis terbesar perlu merealisasikan janji pendanaan iklim bagi negara rentan seperti Nepal, sementara Indonesia memastikan anggaran mitigasi bencana daerah benar-benar sampai ke wilayah paling rawan.

Ketiga, hentikan deforestasi di kawasan resapan dan lereng curam. Pemerintah perlu menegakkan aturan tata ruang secara konsisten, khususnya larangan alih fungsi hutan lindung dan lahan curam menjadi permukiman atau perkebunan monokultur.

Keempat, percepat transisi energi dan penurunan emisi nasional. Kementerian ESDM dan KLHK perlu mempercepat target bauran energi terbarukan dan pengurangan deforestasi, sebagai kontribusi konkret Indonesia terhadap upaya global menahan laju pemanasan yang turut memicu bencana seperti di Nepal.

Catatan Akhir: Kesimpulan
Banjir bandang Nepal bukan sekadar bencana geografis negeri pegunungan yang jauh dari Indonesia, melainkan cermin tesis “Bencana Tak Alami”: ketika gletser mencair dan hujan ekstrem makin sering, tangan manusia lewat emisi karbon global selalu ada di baliknya. Indonesia, sebagai penyumbang emisi signifikan sekaligus negara rentan bencana hidrometeorologi serupa dalam bentuk berbeda, tidak bisa memandang peristiwa ini sebagai persoalan orang lain.

Tanggung jawab menahan krisis iklim bersifat kolektif, namun langkahnya harus dimulai konkret di tingkat nasional: menjaga hutan, menegakkan tata ruang, memperkuat peringatan dini, dan mempercepat transisi energi. Ketika langkah ini konsisten dijalankan, Indonesia tidak hanya melindungi wilayahnya sendiri, tetapi turut meringankan beban krisis iklim yang dipikul bersama, dari puncak Himalaya hingga dataran rendah Nusantara. Wallahu a’lam bish-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here