Bachtiar Adnan Kusuma dan Iwan Dento, Membaca Bumi dan Menulis Harapan

0
86
- Advertisement -

Kolom Muh Faizal HS
Ketua Senat Mahasiswa IAI DDI Mangkoso Periode 2025-2026

Literasi untuk Menggerakkan Generasi Muda

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin kompleksnya krisis lingkungan, literasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus mampu melahirkan cara berpikir, keberanian bersikap, dan tindakan nyata. Semangat inilah yang menjadi ruh kegiatan “Membaca Bumi, Menulis Harapan” yang mempertemukan gagasan tentang literasi dan perjuangan lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Tanah Harapan, Kelurahan Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, menghadirkan bapak Bachtiar Adnan Kusuma sebagai narasumber penerima penghargaan tertinggi NJDP perpustakaan nasional RI dan Penulis Buku Nasional dari tahun 1995-sekarang, Muhammad Ikhwan (Iwan Dento) sebagai peraih Kalpataru dan pegiat lingkungan, serta Muhammad Rizal dari Alekaraja Reforesting Action sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Bachtiar Adnan Kusuma membawa peserta pada perspektif bahwa membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh pengetahuan, tetapi merupakan proses membangun peradaban. Buku, pengalaman, dan gagasan para tokoh besar dapat menjadi bahan bakar bagi anak muda untuk menemukan arah hidup dan merancang masa depan.

Salah satu perspektif yang menarik adalah bagaimana figur seperti Elon Musk dapat dibaca melalui apa yang disebut sebagai literasi trilogi, membaca berbagai disiplin ilmu, menghubungkan pengetahuan, kemudian mengubahnya menjadi gagasan dan tindakan. Pesannya bagi generasi muda bukan semata-mata tentang meniru Elon Musk, melainkan tentang membangun keberanian untuk belajar lintas bidang, berpikir kritis, bertanya tentang masa depan, dan berani menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

Pada saat yang sama, bapak Bachtiar adnan kusuma mengajak peserta melihat warisan pemikiran Bung Karno melalui perspektif tetralogi. Bung Karno menunjukkan bahwa membaca harus melahirkan kesadaran kebangsaan, keberanian berpikir, kemampuan melihat persoalan rakyat, dan kemauan untuk memperjuangkan cita-cita bersama.

Dari dua perspektif tersebut dapat ditarik sebuah pesan penting, anak muda tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Mereka harus menjadi pembaca zaman sekaligus penulis masa depan.

“Membaca berarti memahami apa yang sedang terjadi. Berpikir berarti menemukan makna di balik persoalan. Menulis berarti merumuskan gagasan. Dan bertindak berarti menjadikan gagasan tersebut sebagai perubahan nyata.”

Dari Membaca Buku Menuju Membaca Bumi
Jika Bachtiar Adnan Kusuma mengajak peserta membaca gagasan dan sejarah manusia, Iwan Dento membawa peserta pada bentuk literasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari yakni literasi lingkungan.

Pengalaman panjang Iwan Dento dalam advokasi lingkungan di Maros memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar objek yang indah untuk dinikmati, tetapi ruang hidup yang harus dipahami, dijaga, dan diperjuangkan.

Pengalaman advokasi lingkungan menunjukkan bahwa kerusakan alam sering kali tidak berhenti pada persoalan pohon yang ditebang, sungai yang tercemar, atau kawasan karst yang terancam. Di baliknya terdapat persoalan sosial, ekonomi, kebijakan, tata ruang, dan masa depan masyarakat.

Karena itu, membaca bumi berarti membaca hubungan antara manusia dan alam. Anak muda perlu belajar membaca sungai apakah airnya masih sehat?
Membaca hutan apakah keanekaragaman hayatinya masih terjaga?

Membaca gunung dan kawasan karst apa manfaatnya bagi kehidupan?
Membaca desa bagaimana masyarakat mempertahankan ruang hidupnya?
Dan yang tidak kalah penting, membaca kebijakan apakah pembangunan benar-benar berpihak pada keberlanjutan dan generasi mendatang?

Dari sinilah literasi lingkungan menjadi penting. Pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas atau di halaman buku. Pengetahuan harus turun ke lapangan, bertemu masyarakat, memahami persoalan, lalu melahirkan keberanian untuk melakukan advokasi.

Dari Pengetahuan Menjadi Gerakan
Pertemuan dua perspektif ini menjadi kekuatan utama kegiatan “Membaca Bumi, Menulis Harapan”.

Literasi yang disampaikan oleh bapak Bachtiar Adnan Kusuma mengajarkan kita pentingnya untuk membaca, berpikir, dan membangun suatu gagasan. Sementara pengalaman yang dipaparkan bapak Iwan Dento mengajarkan bahwa gagasan yang harus berani dibawa ke lapangan untuk membela lingkungan dan kehidupan masyarakat. Keduanya bertemu dalam satu pesan, pengetahuan akan kehilangan makna jika tidak melahirkan tindakan.

Oleh karena itu menurut kamiGenerasi muda Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang untuk membaca buku, berdiskusi, bertanya, menulis, meneliti, turun ke lapangan, dan terlibat dalam persoalan masyarakat. Harusnya pemuda hari ini mempunyai mimpi besar untuk melaksanakan tugas suci yang mulia yakni menjaga negeri ini dari pelbagai problematika dan mempunyai pisau analisis dalam melihat persoalan yang ada di sekitar mereka.

Karenanya, menjadi penerus bangsa bukan hanya tentang mewarisi negeri, tetapi juga tentang menentukan negeri seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menulis Harapan, Merawat Masa Depan
Pada akhirnya, “Membaca Bumi, Menulis Harapan” bukan hanya sebuah tema kegiatan. Ia merupakan sebuah ajakan.
“Membaca buku untuk memahami dunia.
Membaca sejarah untuk memahami perjalanan bangsa.

Membaca alam untuk memahami kehidupan. Menulis gagasan untuk menawarkan jalan keluar. Dan bergerak bersama untuk mewujudkan perubahan.”

Elon Musk dapat menjadi inspirasi tentang keberanian membaca lintas disiplin dan membayangkan masa depan. Bung Karno menjadi teladan tentang pentingnya membaca sejarah, membangun kesadaran kebangsaan, dan memperjuangkan cita-cita besar. Sementara pengalaman Iwan Dento menunjukkan bahwa kecintaan terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam keberanian menjaga dan mengadvokasi alam.

Dari Tanah Harapan, pesan itu menemukan maknanya, harapan tidak cukup hanya dituliskan. Harapan harus dibaca, dipikirkan, diperjuangkan, dan diwujudkan.

Karena itu, kepada anak-anak muda penerus bangsa, mari terus membaca. Bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca zaman dan membaca bumi.

Sebab siapa yang mampu membaca bumi dengan jernih, akan mampu menulis masa depan dengan lebih bijaksana.

Dan siapa yang berani menulis harapan, harus pula berani menjadi bagian dari gerakan untuk mewujudkannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here