Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi, Penulis, Pembicara dan Motivator
Dari sepanjang perjalanan penulis dari kediaman dr Dea dan dr Mulan di Indah Land Moncongloe Poros Zipur dan Pattallassang, penulis membaca ulang sekilas buku karya Ki Ju Lee “The Dignity of Writing.
Buku setebal 176 halaman yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2023, Ki Ju Lee menempatkan setiap kata dalam tulisan memiliki makna dan martabat.
Apa alasan Anda berhenti menjadi jurnalis dan memilih menjadi penulis buku?
Kalimat awal pada halaman 24 tulisan Ki Ju Lee dalam bukunya, membuat saya mengenang kembali tatkala memutuskan pensiun dari panggung jurnalis pada 1995, lalu saya memilih profesi menulis buku dengan mendirikan Yapensi [Yayasan Pencerahan Sulawesi] lembaga penerbitan yang saya rintis di Makassar, lalu migrasi ke Ibukota Jakarta.
Dari tulisan Kee Ju Lee, penulis menengok ke kiri, tetiba buku karya Bunda Literasi Maros Apt. Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, S.Si., dan Bunda Literasi kecamatan, desa dan kelurahan, menggugah penulis bahwa pada hakekatnya menulis memiliki filosofi mendalam. Buku setebal 280 halaman yang diluncurkan bertepatan Hari Kesatuan Gerak PKK 54 Tahun, Rabu, 23 September 2026 di Atrium Grand Mall Maros.
Pertama, menulis adalah bukti kita Manusia. Selain hewan tidak bisa bersuara juga tidak bisa menulis, tapi manusia bisa mengubah pikiran yang tidak terlihat menjadi tulisan yang bisa dibaca 100 tahun kemudian.
Sejurus filosofi Bugis” Pura manre sara, pura massuraq” artinya Habis makan sirih, habis menulis. Artinya hidup yang tidak meninggalkan tulisan, hidup yang hilang tanpa jejak. Menulis adalah cara manusia menolak untuk dilupakan.
Kedua, menulis adalah martabat yang tak sekadar hobi. Alasannya, orang yang tidak bisa menulis, nasibnya ditulis orang lain. Karena itu, apa yang ditulis Bunda Literasi Kabupaten Maros Hj.Ulfiah Nur Yusuf Chaidir adalah kesadaran kolosal menulis sejarahnya sendiri, versi dan beralas pengalaman empiris menggerakkan api literasi dari desa. Jadi menulis itu kekuasaan. Siapa yang memegang pena, dia memegang martabat.
Ketiga, menulis dari gelap menjadi cahaya. Makna diksinya membaca, kita menerima cahaya dari orang lain. Sementara menulis berarti kita menjadi sumber cahaya untuk orang lain. Orang yang hanya membaca itu konsumen dan Orang yang menulis itu produsen peradaban.
Nah, menulis adalah cara kita jujur kepada diri sendiri. Apa yang kita pikir, kita uji lewat tulisan. Kalau tulisan kita bohong, hati kita gelisah. Kalau tulisan kita benar, martabat kita naik.
The Dignity of Writing artinya: Selama kita masih menulis, kita masih merdeka. Saat kita berhenti menulis, kita dijajah oleh tulisan orang lain.
Di berbagai forum seminar, diskusi dan bimbingan penulisan, rerata penulis ditanya peserta, mengapa Anda berani memilih jalan literasi, jalan menulis buku sebagai panggung pengabdian atau pilihan hidup.
Maka, saya menjawabnya selain ingin bebas, saya menulis buku sebagai jalan dan pilihan hidup untuk merdeka.
Benarlah kata Ki Ju Lee, menjadi penulis buku agar bisa mengukir rekor, saya hanya berenang di kolam persegi memiliki tali pembatas. Namun menjadi penulis adalah orang yang tidak berenang di kolam, melainkan di lautan luas.
Karena itu, memilih profesi menulis buku adalah pekerjaan bebas, bebas menjalani kehidupan, tidak formil, cara dan tujuannya telah ditentukan.
Kalau Ki Ju Lee ditanya mengapa ingin menjadi penulis, karena ingin lahir kembali. Dan profesi penulis buku adalah pekerjaan yang tidak semua orang lakukan, apalagi memilihnya.
Hemat penulis, memilih jalan menulis buku sama halnya berani memilih hidup yang tidak menjanjikan materi, apalagi kesejahteraan. The Dignity of Writing”.













