PINISI.co.id- Peringatan Hari Santri di Pesantren DDI Bantaeng tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni keagamaan. Dirangkaikan dengan Istighosah Kubro Kebangsaan, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat nilai keislaman, semangat kebangsaan, dan peran generasi muda dalam pembangunan.
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Sulawesi Selatan, Muh. Ridwan Yusuf, bertindak sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Santri tersebut. Di hadapan para santri, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), dan kalangan pemuda, ia menegaskan pentingnya kader muda NU hadir dan mengambil peran dalam berbagai ruang kepemimpinan.
_“Saya berharap apa pun bentuk kontestasinya, kader NU harus berperan dan mewarnai kancah tersebut,” tegas Ridwan._
Pernyataan itu menempatkan Hari Santri bukan hanya sebagai ruang mengenang sejarah perjuangan ulama dan santri, tetapi juga sebagai pengingat bahwa estafet perjuangan harus diteruskan oleh generasi muda melalui pengabdian, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Menurut Ridwan, kaderisasi tidak cukup berhenti pada pembentukan karakter dan penguatan identitas organisasi. Kader muda juga perlu berani tampil, mengembangkan kapasitas, serta mengambil bagian dalam proses pembangunan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional.
*Dari Pesantren Menuju Ruang Kepemimpinan*
Semangat tersebut terasa relevan dengan dinamika kepemudaan di Kabupaten Bantaeng. Pemilihan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bantaeng yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026 menjadi salah satu momentum bagi generasi muda untuk menunjukkan peran dan gagasannya.
Salah satu kader muda NU yang menjadi perhatian adalah Bisma Naufal Yaesar, yang akrab disapa Bisma. Kak Ridho sapaan akrab ketua Ansor Sulsel menilai, keterlibatan kader santri dalam organisasi kepemudaan merupakan bagian dari upaya memperluas kontribusi NU dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
“ _Ini bukti bahwa santri-santri NU selalu hadir dalam pergulatan organisasi kepemudaan. Menjadi mitra pemerintah dalam mengawal pembangunan menuju Indonesia Emas 2045,_ ” kata Ridho di sela kegiatan.
Bagi Ridho, nilai-nilai yang dibangun di pesantren semestinya menjadi bekal untuk memasuki ruang publik. Santri tidak hanya dituntut memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga perlu mengembangkan wawasan kebangsaan, kemampuan berorganisasi, dan keterampilan membangun kolaborasi.
Dalam konteks itu, KNPI diharapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang pemuda, termasuk santri, untuk menyatukan gagasan dan merumuskan kontribusi bagi Bantaeng.
“KNPI harus menjadi rumah yang nyaman bagi ide-ide santri,” ujarnya.
*Kakankemenag Jeneponto: Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri*
Sementara itu Kakandep Agama Jeneponto Dr.H Ahnad Jailani, yang turut hadir di acara tsb, berpesan tentang pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan Indonesia kedepan.
Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Ar-Ra’d ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi refleksi penting bagi bangsa Indonesia di tengah perubahan zaman dan derasnya arus keterbukaan informasi.
“Perubahan mendasar bangsa ini sangat terletak pada masyarakatnya. Dan di tengah ancaman global keterbukaan informasi, amanah terbesar bangsa ada pada generasi muda,” ujarnya.
Pesan itu mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup hanya diharapkan dari pemerintah atau pemimpin. Ia juga harus dimulai dari pembenahan diri, penguatan karakter, dan kesediaan setiap generasi untuk mengambil tanggung jawab.
Bagi kalangan santri, tantangannya adalah menjaga nilai-nilai agama sekaligus membekali diri dengan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan kompleksitas persoalan masyarakat.
*Tradisi Santri, Semangat Zaman*
Peringatan Hari Santri yang dirangkaikan dengan Istighosah Kubro Kebangsaan menghadirkan pesan bahwa identitas pesantren dan kehidupan modern tidak harus dipertentangkan.
Sarung, kopiah, kitab kuning, dan tradisi keilmuan pesantren merupakan bagian dari jati diri santri. Namun, identitas itu bukan batas yang menghalangi mereka untuk berkiprah di ruang publik, organisasi kepemudaan, maupun proses pembangunan.
Justru dari fondasi nilai, akhlak, dan kebersamaan itulah santri diharapkan mampu melahirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Momentum di DDI Bantaeng ini sekaligus menegaskan pentingnya regenerasi dalam tubuh organisasi keagamaan dan kepemudaan. Generasi muda tidak cukup hanya hadir sebagai peserta kegiatan, tetapi perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan, menjalankan program, dan mengambil tanggung jawab.
Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya tentang merawat ingatan atas perjuangan masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa juga membutuhkan santri yang berilmu, berkarakter, terbuka terhadap perubahan, dan berani mengambil peran dalam kepemimpinan.
Dari pesantren, nilai-nilai itu ditanamkan. Melalui organisasi, nilai tersebut diuji. Dan dalam pengabdian kepada masyarakat, kontribusi santri menemukan maknanya. (Syam)












