KITAB ALAM : Ketika Alam Menjadi Guru, Leluhur Menjadi Peta Penuntunnya

0
32
- Advertisement -

KITAB ALAM : Ketika Alam Menjadi Guru, Leluhur Menjadi Peta Penuntunnya

Kolom Fiam Mustamin

ALAM tidak pernah berbohong, tapi manusialah yang sering lupa membacanya.

Leluhur kita tidak menulis di atas kertas. Mereka menulis di atas gunung, di atas sawah, di atas angin dan api. Dan itulah yang yang kita sebut sebagai Kitab Alam.

Selama ini kita mencari jati diri ke luar negeri. Padahal peta itu ada di dalam tanah kita sendiri. Setidaknya ada tiga peta agung yang jika kita satukan, akan menjadi kompas peradaban kita kembali.

Pertama, dari Urang Minang : Alam Takambang Jadi Guru.

Orang Minang tidak melihat alam sebagai sumber daya untuk dieksploitasi. Alam adalah guru yang hidup. Gunung mengajari kekokohan, Sawah berundak mengajari kesabaran dan musyawarah, Sungai mengajari aliran rezeki yang harus berbagi. Nagari dibangun bukan dengan beton, tapi dengan adat yang meniru tatanan alam.

Kalau alam rusak, maka nagari pun runtuh. Sederhana, tapi kita lupa.

Kedua, dari Lontara Bugis : Sulapa Eppa.

Nenek moyang Bugis mengajarkan bahwa hidup ini berdiri di atas empat penjuru yang tidak boleh timpang : Tanah, Air, Angin dan Api. Inilah wujud belah ketupat yang kita lihat di corak sarung tenunan Bugis.

Tanah adalah pondasi, kejujuran, tempat berpijak. Air adalah penyejuk, aliran maaf dan pembersih hati. Angin adalah nafas, pergerakan, keberanian untuk berubah. Api adalah semangat, transformasi, tekad yang membakar kemalasan.

Kalau satu timpang, hidup kita sakit. Kalau Tanah tanpa Air, kita keras dan gersang. Kalau Api tanpa Angin, kita membakar diri sendiri. Inilah prinsip ADA NA GAU – satunya kata dengan perbuatan. Keseimbangan empat unsur inilah yang harus kita jaga di dalam diri sebelum kita bicara tentang membangun peradaban.

Ketiga, dari Pasundan : Panca Waluyo.

Saudara kita di Tanah Sunda menyempurnakannya dengan Lima Kesadaran ; Jagat – sadar akan semesta. Jalma – sadar akan sesama manusia. Jati – sadar akan siapa diri kita. Jaga – sadar akan tugas menjaga warisan. Dan Jawata – sadar akan hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Bayangkan, kalau anak muda kita diajarkan Panca Waluyo ini, dia tidak akan mudah menjual tanahnya, tidak akan mudah menghina sesamanya, karena dia sadar jagat dan jalma.

Tiga pilar ini bukan untuk dipertentangkan. Tiga pilar ini untuk disatukan.

Minang memberi kita metode : untuk belajar dari alam.

Bugis memberi kita unsur : untuk menjaga keseimbangan tanah, air, angin, api dalam dirimu.

Sunda memberi kita arah tujuan untuk sadar dari Jagat sampai Jawata.

Inilah yang akan kita syiarkan melalui Chanel Tablik Budaya Saromase. Bukan sekedar konten, tapi media syiar. Melalui Majelis Mappijeppu, kita kenalkan kembali bagaimana jati diri ini dengan prinsip ADA NA GAU. Dan melalui Pustaka Baruga, kita dokumentasikan agar tidak hilang dan dilupakan.

Kita tidak sedang membangun sesuatu yang baru, kita sedang mengingatkan sesuatu yang lama yang sengaja dilupakan.

Karena peradaban yang tidak membaca Kitab Alamnya sendiri, akan dibacakan oleh peradaban lain. Dan biasanya, bacaan orang lain itu tidak ramah bagi kita dan bisa disalah artikan maknanya.

Barakallah, semoga tiga pilar Kitab Alam ini menjadi penerang antar generasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here