PINISI.co.id– Ketua KKGU Moncongloe Kabupaten Maros, Muhammad Irsandi Irwan, S.Pd., Gr., M.Pd. berkolaborasi dengan Pengawas SD Negeri dan swasta kecamatan Moncongloe, H. Azis, S.Pd.M.Pd., menghadirkan Tokoh Literasi Nasional yang juga Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca( GPMB ) Maros, Bachtiar Adnan Kusuma berbicara Menggugah Kompetensi Literasi Guru di Forum Guru dan para Kepala Sekolah, Sabtu , 26 September 2026.
Muhammad Irsandi Irwan, menyampaikan syukur karena pada kegiatan rutin kelompok kerja guru (KKGU, KKGO, K3S) menghadirkan pemateri yang sangat luar biasa Bachtiar Adnan Kusuma disapa BAK, beliau adalah tokoh literasi.
Menurut Irsandi, sebuah kehormatan dan kebahagiaan karena beliau dapat mengisi materi di depan guru dan para kepala sekolah. Disela sela kesibukan, beliau menyempatkan hadir membersamai guru menyalakan api literasi yang dihadiri ratusan lebih guru.
Irsandi mengungkapkan kalau insight yang disampaikan Bachtiar Adnan Kusuma yakni
” Pendidikan tidak cukup hanya membuat anak pintar, tetapi harus menumbuhkan manusia yang literat, berkarakter, mampu berpikir, dan memiliki dukungan dari lingkungan sekitarnya”.
Bagi BAK, belajar tidak mengenal kata Pensiun dan Literasi jadi api kemajuan pendidikan kita. Ia menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam memajukan pendidikan.
Sejumlah gagasan utama yang disampaikan BAK oleh Irsandi menegaskan, pertama Literasi adalah fondasi pendidikan. Pendidikan yang berkualitas bukan hanya menghasilkan nilai akademik yang tinggi, tetapi juga anak yang mampu membaca, memahami, berpikir, bertanya, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.
Kedua, Belajar tidak mengenal usia. Guru, orang tua, maupun peserta didik harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Seorang guru pun harus terus belajar agar mampu menjawab perubahan zaman.
Ketiga, kata BAK literasi tidak hanya tentang membaca buku, melainkan literasi berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, membangun karakter, dan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.
Keempat, kata Tokoh Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional ini bahwa pendidikan membutuhkan sinergi. Guru tidak bisa bekerja sendirian.” Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam membentuk karakter dan masa depan anak” kata Bachtiar Adnan Kusuma.
Kelima, Literasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program. Anak perlu melihat contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya. Ketika guru dan orang tua gemar belajar, membaca, berdiskusi, dan mencari solusi, anak akan mendapatkan teladan yang kuat. Makanya, BAK menilai kalau martabat guru ada di buku, bukan hanya di papan tulis tatkala mereka mengajar.
Karena itu, Irsandi menegaskan kembali kalau Bachtiar Adnan Kusuma tegas kalau Literasi adalah api. Guru bukan hanya bertugas memberikan cahaya kepada murid, tetapi juga menjaga agar api belajar itu tetap menyala.
Yang paling menarik dari materi Bachtiar Adnan Kusuma, lanjut Irsandi adalah gagasan bahwa pendidikan bukan pekerjaan satu orang dan Guru membutuhkan orang tua serta orang tua membutuhkan sekolah plus anak membutuhkan keduanya.
Bagi seorang guru, pesan ini mengingatkan bahwa keberhasilan mengajar bukan hanya ketika siswa mampu menjawab soal dengan benar.
Lebih jauh dari itu, BAK menilai keberhasilan pendidikan terlihat ketika seorang anak mulai berani bertanya, senang membaca, mampu berpikir, menghargai orang lain, dan memiliki keinginan untuk terus belajar.
Guru hari ini harus menjadi contoh bahwa belajar memang tidak pernah pensiun. Pendidikan adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Literasi menyalakan apinya, guru menjaganya, keluarga menguatkannya, dan anak-anaklah yang kelak membawa cahaya itu menuju masa depan. (Man)














