Bersyukurlah dan Terima Apa Adanya

0
40
- Advertisement -

Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati masalah budaya, ekonomi dan Politik

SORE itu, di salah satu sudut kafe di kota Makassar, Riesma (bukan nama sebenarnya), seorang profesional muda berusia 34 tahun, duduk gelisah memandangi layar laptopnya yang kosong.

“Aku merasa hidupku telah selesai,” katanya dengan nada sedih.

Dua minggu sebelumnya ia masih memimpin tim digital dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan. Kini hari-harinya, ia habiskan dengan mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan.

“Aku sudah shalat, sudah bekerja keras, dan sudah menabung. Namun kenapa aku harus kehilangan pekerjaan ?”

Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Riesma. Mengapa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, datang ketika ia merasa sudah melakukan segalanya dengan benar ?

Hari terus beganti. Bulan pertama setelah PHK, Riesma hidup uring-uringan. Ia cemas dan panik menghadapi ketidakpastian masa depannya.

Saat bangun pagi, ia langsung membuka aplikasi perbankan, memeriksa saldo rekeningnya, yang tiap hari selalu berkurang. Kepalanya pusing, lantaran beragam tagihan terus berdatangan setiap harinya.

Suatu Pagi, ia pulang kampung mengunjungi ibunya.

“Mama tidak khawatir tentang saya ?” tanya Riesma, ingin tahu.
“Tentang apa?”
“Tentang saya yang belum juga dapat kerja baru.”

Ibunya tersenyum.

“Mama justru lebih khawatir jika kamu kehilangan rasa syukurmu daripada kehilangan pekerjaan.”

Riesma menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak setuju.

“Bagaimana mungkin bersyukur dalam keadaan seperti ini, Ma ?”

Ibunya menunjuk ke halaman rumahnya. Di sana tumbuh pohon mangga yang rindang.

“Ketika pohon itu ditanam, apakah langsung berbuah?”
“Tidak.”
“Berapa lama?”
“Bertahun-tahun.”
“Apakah selama itu pohon tersebut gagal bertumbuh?”

Riesma terdiam.

“Tidak semua masa tanpa hasil adalah kegagalan,” lanjut ibunya. “Kadang ada suatu masa yang belum bisa kita sebut gagal, lantaran masih dalam tahap pertumbuhan akar.”

Dalam ilmu investasi dikenal konsep delayed gratification atau kemampuan menunda kepuasan saat ini, demi manfaat yang lebih besar di masa depan. Inilah salah satu alasan mengapa investor terbaik sering kali memperoleh keuntungan bukan lantaran kecepatan reaksinya, melainkan karena kesabarannya.

Contoh lainnya, bibit yang ditanam hari ini, baru akan menjadi pohon, bertahun-tahun kemudian. Investasi yang disimpan hari ini, baru menunjukkan hasilnya setelah siklus ekonomi berubah.

Menariknya, kehidupan spiritual bekerja dengan pola yang hampir sama. Banyak orang ingin melihat hasilnya sebelum ia percaya. Padahal agama mengajarkan kita, untuk percaya dan menyerahkan hasilnya kepada Sang Pencipta.

“Bersyukur dulu, baru menerima.” Mungkin itulah penjelasan yang paling tepat. Kalimat itu🌰bagi logika pasar, terdengar aneh. Namun bagi logika langit, itulah fondasi utama ketenangan.

Waktu terus berputar.
Enam bulan setelah PHK, Riesma belum memperoleh pekerjaan baru. Namun ada sesuatu yang berubah dalam perilakunya sehari-hari. Ia mulai membantu UMKM milik teman-temannya dengan cara membantu membuatkan strategi pemasaran digital.

Awalnya hanya satu usaha kecil yang ia dampingi. Kemudian dua usaha kecil. Berikutnya lima usaha kecil. Setahun kemudian ia mendirikan konsultan pemasatan digital miliknya sendiri. Pendapatannya memang belum sebesar saat ia bekerja di perusahaan multinasional. Namun itu sudah membuatnya merasa cukup. Ia merasa pekerjaannya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengejar target bulanan.

Bulan demi bulan terus berganti.
Untuk pertama kalinya , Riesma memiliki banyak waktu untuk sarapan bersama anak-anaknya setiap paginya. Untuk pertama kalinya ia juga bisa mengantar ibunya ke rumah sakit tanpa harus meminta izin kepada atasannya.

Suatu sore ia bertemu kembali dengan teman-teman lamanya.

“Sekarang aku mengerti,” katanya, sumringah.
“Mengerti apa?”
“Aku dulu mengira pekerjaan itu rezeki. Ternyata pekerjaan itu hanya salah satu jalur rezeki.”

Apa yang dialami dan dijalani Riesma ini, bisa dijelaskan dalam perspektif psikologi positif modern, bahwa individu yang mempraktikkan rasa syukur secara konsisten, akan cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih tinggi ketika menghadapi krisis. Mereka memang tidak kebal terhadap penderitaan. Namun mereka lebih mampu menemukan makna hidupnya di balik penderitaan tersebut.

Dalam perspektif Islam, syukur bukan sekadar ucapan setelah menerima nikmat. Syukur adalah cara memandang hidup. Ia adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap hadir bahkan ketika manusia belum memahami rancangan-Nya. Seperti benih yang sedang berkecambah di bawah tanah. Tidak ada yang melihat pertumbuhannya. Namun justru di sanalah kehidupan sedang berlangsung.

Karena itu, kita bisa memahami bahwa ketika terjadi pandemi COVID-19, PHK massal, disrupsi kecerdasan buatan, inflasi global, hingga ketidakpastian ekonomi, semua itu mengajarkan hal penting kepada kita semua, bahwa tidak ada yang abadi di dunia fana ini. Karier bisa berubah. Pasar bisa jatuh. Perusahaan besar bisa runtuh. Serta teknologi bisa menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dianggap aman.

Di tengah ketidakpastian itu, banyak penelitian menemukan bahwa faktor yang paling menentukan kesejahteraan psikologis bukanlah jumlah aset atau jumlah kekayaan yang kita miliki, melainkan kemampuan kita memaknai pengalaman hidup yang sudah dijalani.

Dan memang…
Syukur tidak menghapus masalah. Ia justru mengubah posisi manusia terhadap masalah. Bila orang yang hidup selalu mengeluh melihat setiap kesulitan sebagai masalah. Maka, orang yang hidup dalam syukur, justru melihat setiap kesulitan sebagai proses.

Tahun berganti…
Dua tahun setelah kehilangan pekerjaannya, Riesma berdiri di depan kantor kecil yang kini menjadi pusat usahanya. Ia teringat hari ketika ia menangis karena merasa hidupnya hancur setelah ia kehilangan pekerjaannya.

Jika saat itu Tuhan mengabulkan seluruh keinginannya, mungkin ia tetap bekerja di tempat lama. Dan mungkin saja pendapatannya akan menjadi lebih besar. Namun sayangnya, mungkin saja, ia tak akan pernah menemukan jalan hidup yang sekarang ia jalani.

“Kalau bisa kembali ke masa PHK itu, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?” tanya seorang sahabat.

Riesma tersenyum.

“Saya akan tetap menangis.”
“Lalu?”
“Saya akan segera bersyukur.”
“Mengapa?”
“Karena ternyata, Tuhan sudah menyiapkan jawaban bagi masalahku, meski saya tidak menyadarinya.”

Nah, disitulah syukur menemukan makna terdalamnya. Bukan ketika rekening sudah penuh. Bukan ketika semua doa sudah terjawab. Syukur akan sangat bermakna, ketika seseorang mampu berkata di tengah ketidakpastian hidupnya, bahwa, “Saya memang belum melihat jalan keluar dari masalah yang saya hadapi. Namun saya percaya, bahwa Tuhan sedang membukakan jalan keluar bagi masalahku.”

Karena sering kali mukjizat terbesar dari sang Khalik, bukanlah menerima apa yang kita minta. Melainkan memiliki hati yang tetap bersyukur sebelum menerima segala karunia-Nya. Iya gak? Weleh, weleh, weleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here