IKKG Gowa Gelar Diskusi 400 Tahun Syekh Yusuf, Warisan Ulama Lintas Benua Kian Relevan

0
166
- Advertisement -

PINISI.co.id– BPN Ikatan Kerukunan Keluarga Gowa (IKKG) bersama BPP Angkatan Muda Syekh Yusuf Al-Makassari menggelar diskusi kebudayaan dalam rangka peringatan 400 tahun kelahiran ulama besar tersebut, Ahad (26/4/2026), di Mampang Square Tower C, Jakarta Selatan.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak dan Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari di Tengah Krisis Global”, bahasan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai budaya, semangat kebersamaan, serta warisan spiritual dan intelektual yang bersifat global.

Ketua IKKG, Awaluddin Tjalla, menegaskan pentingnya meneladani sosok Syekh Yusuf. “Kita semua bisa mengikuti akhlak dan perjuangannya, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Tjalla yang juga guru besar UNJ Jakarta ini.

Hadir sebagai narasumber antara lain Restu Gunawan, Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, serta Dewi Justicia Meidiwaty, Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri RI.

Selain warga Gowa tampak juga sejumlah pengurus BPP KKSS, Ketua Pilar, kalangan budayawan, penulis dan pemerhati sejarah dan kebudayaan.

Hal serupa dihelat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang menggelar diskusi daring bertajuk “Jejak Syekh Yusuf Al-Makassari” yang mengupas peran historis ulama Nusantara tersebut sebagai tokoh lintas benua, baik dalam bidang keilmuan maupun perjuangan melawan kolonialisme, digelar secara hibrid, Selasa (28/4/26).

Dalam forum tersebut, Syekh Yusuf digambarkan bukan hanya sebagai ahli tasawuf, tetapi juga intelektual kosmopolitan dengan jaringan keilmuan luas hingga Timur Tengah. Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, ia menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu ke berbagai pusat peradaban Islam seperti Mekkah, Madinah, hingga Damaskus.

Sepulang dari pengembaraan intelektualnya, ia terlibat aktif dalam perlawanan di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC.

Pengaruhnya yang besar membuat pemerintah kolonial mengasingkannya ke Sri Lanka dan kemudian ke Cape Town, Afrika Selatan. Namun, di pengasingan tersebut, Syekh Yusuf justru berhasil membangun komunitas Muslim yang menjadi cikal bakal perkembangan Islam di Afrika Selatan. Warisannya bahkan melampaui batas negara dan zaman, serta disebut menginspirasi perjuangan tokoh dunia seperti Nelson Mandela.

Melalui berbagai forum diskusi ini, Syekh Yusuf Al-Makassari kembali ditegaskan sebagai simbol integrasi antara keimanan, intelektualitas, dan perjuangan, yang relevan untuk dijadikan teladan oleh generasi masa kini.

Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf sendiri telah diakui sebagai agenda internasional oleh UNESCO.

Sebelumnya delegasi IKKG yang dipimpin Awaluddin Tjalla juga turut menghadiri rangkaian peringatan di Cape Town, Afrika Selatan, melalui agenda Kramat Festival 2026 serta pembahasan pembangunan museum heritage sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya. “Kunjungan muhibah ini antara lain untuk mempererat hubungan sejarah dan budaya, serta mendukung rencana pembangunan heritage Syekh Yusuf,” imbuh Tjalla.

Adapun Kramat Festival 2026, Diselenggarakan di Cape Town (3-5 April 2026) untuk mengenang jejak Syekh Yusuf, yang diasingkan VOC pada 1694 namun berhasil mendirikan komunitas Islam pertama di Afrika Selatan. (Lif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here