Ketika Laut Bicara: Kearifan Bugis terhadap Tasi’ yang Terlupakan

0
82
- Advertisement -

Kolom Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia – IDI, 2012–2015, dan Wakil Ketua Umum PP Masyarakat Hukum Kesehatan – MHKI, 2024–2027

Teluk Bone kini menyimpan luka yang dalam. Terumbu karang dihancurkan dengan bom ikan. Jaring-jaring raksasa menyapu dasar laut tanpa ampun. Sampah plastik mengapung di permukaan perairan yang dulunya bening. Di balik ironi ini, tersimpan warisan leluhur yang jauh lebih tua dari istilah “pembangunan berkelanjutan”: kearifan masyarakat Bugis dalam berdialog dengan laut, atau yang mereka sebut tasi’. Pertanyaannya bukan sekadar apa yang hilang, melainkan mengapa kita melupakannya, dan apakah masih ada waktu untuk mengingat kembali.

Laut dalam Kosmologi Bugis
Dalam epos I La Galigo—naskah sastra lisan Bugis yang konon lebih panjang dari Mahabharata dan telah diakui UNESCO, alam bukan sekadar panggung bagi manusia. Ia adalah mitra kosmis yang menentukan nasib bersama. Manusia, flora, fauna, dan para dewa menjalin hubungan yang saling menopang: bila satu sisi rusak, seluruh jalinan akan robek.

Fondasi pandangan ini adalah falsafah Sulapa Eppa, “empat persegi” yang menempatkan air, tanah, angin, dan api sebagai pilar keseimbangan semesta. Air, dilambangkan warna putih, mendapat posisi paling sakral. Ia adalah sumber kehidupan sekaligus cermin kemurnian jiwa. Tasi’, sebagai bentuk air paling agung, menempati puncak hierarki itu. Mengotori laut bukan sekadar pelanggaran ekologis; ia adalah pengkhianatan moral terhadap tatanan kosmis yang dijaga oleh leluhur.

Pelaut yang Tidak Menaklukkan Laut
Orang Bugis dikenal sebagai pelaut ulung yang mengarungi Nusantara hingga pantai utara Australia dan beberapa wilayah bumi lain. Namun keberanian mereka di laut bukanlah keberanian yang menaklukkan, melainkan untuk berdialog. Laut bukan musuh yang harus dikalahkan; ia adalah tuan rumah yang harus dihormati, entitas hidup yang memiliki kehendak dan martabat tersendiri.

Sebelum berlayar, upacara mappanre tasi’ digelar. Sesaji diberikan kepada laut sebagai bentuk penghormatan dan permohonan izin. Ritual ini bukan mistik belaka; ia adalah pernyataan etis bahwa manusia datang ke laut bukan sebagai tuan, melainkan sebagai tamu yang beradab. Ada kesadaran mendalam bahwa rezeki dari laut bukan hak mutlak, melainkan pemberian yang harus disyukuri dengan penjagaan.

Kapal Pinisi, warisan teknologi maritim yang kini diakui sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, lahir dari tradisi yang memahami laut secara holistik. Pengetahuan tentang arus, angin, dan cuaca bukan semata teknis, melainkan tertanam dalam relasi spiritual antara manusia dan samudra. Para punggawa (nahkoda Bugis) membaca laut bukan hanya dengan mata, tetapi dengan seluruh penghayatan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Pantangan Adat sebagai Pagar Ekologi
Kearifan Bugis terhadap laut tidak berhenti pada ritualisme. Ia kemudian diterjemahkan ke dalam sistem pantangan adat yang disebut pemmali. Berbagai larangan adat mengatur cara nelayan berinteraksi dengan laut: larangan menangkap ikan di musim tertentu, larangan menggunakan alat tangkap yang merusak, hingga larangan membuang benda cemar ke perairan. Bukan karena ada aparat yang mengawasi, tetapi karena keyakinan kolektif bahwa alam memiliki cara sendiri untuk ”membalas penghinaan” terhadapnya.

Sistem nilai ini diperkuat oleh ade’ assamaturuseng, aturan kolektif yang disepakati bersama untuk mencegah eksploitasi berlebihan atas sumber daya pesisir dan laut. Ini bukan sekadar hukum adat; ini adalah kontrak sosial-ekologis. Komunitas mengikatkan diri pada tanggung jawab bersama: siapa pun yang melanggar, ia tidak hanya melukai laut, tetapi juga mengkhianati ikatan sosial dengan sesama.

Dalam naskah La Toa yang dianalisis Mattulada dalam Latoa: Suatu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis (1985), tercatat nilai-nilai tentang tanggung jawab pemimpin untuk memastikan alam terjaga agar rakyat sejahtera. Penguasa yang membiarkan laut dijarah adalah penguasa yang kehilangan siri’, kehormatan diri, di hadapan leluhur dan semesta.

Kearifan yang Terancam Punah
Hari ini, bom ikan masih meledak di perairan Sulawesi Selatan. Pukat harimau menyisir dasar laut, menghancurkan ekosistem yang butuh puluhan tahun untuk pulih. Penambangan pasir laut mengubur padang lamun yang menjadi tempat berkembang biak ribuan spesies. Plastik meracuni rantai makanan dari plankton hingga ikan di meja makan kita.

Generasi muda Bugis, banyak yang tumbuh di kota, kian asing dengan pappaseng leluhurnya. Kita mengimpor konsep blue economy dari Barat, sementara di halaman rumahnya sendiri terkubur kearifan yang jauh lebih tua dan jauh lebih relevan. Paradoks ini seharusnya membuat kita malu sekaligus tergerak.

Catatan Akhir: Menghidupkan Kembali yang Tertidur
Kearifan lokal bukan museum. Nilai-nilai ekologi maritim Bugis, mappanre tasi’, pemmali, dan ade’ assamaturuseng, dapat diadaptasi menjadi regulasi lingkungan yang berakar pada budaya lokal. Regulasi semacam ini jauh lebih efektif dibanding aturan yang terasa asing dan dipaksakan dari atas, karena ia berbicara dalam bahasa yang dipahami komunitas secara batin.

Pemerintah daerah Sulawesi Selatan perlu mempertimbangkan integrasi nilai-nilai ini ke dalam pendidikan lingkungan, tata kelola wilayah pesisir, dan regulasi perikanan. Tokoh adat dan komunitas nelayan lokal harus dilibatkan bukan sekadar sebagai hiasan keberagaman, melainkan sebagai pemegang otoritas moral dalam pengelolaan laut. Zona konservasi laut berbasis kearifan lokal, seperti yang pernah diterapkan dalam tradisi sasi di Maluku atau awig-awig di Lombok, membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi instrumen konservasi yang nyata.

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia. Namun kebesaran itu hanya akan bertahan bila kita memiliki hubungan yang benar dengan laut, bukan hubungan eksploitatif, melainkan hubungan yang diikat oleh rasa hormat, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa laut adalah titipan, bukan warisan yang boleh habis dikeruk.

I La Galigo mengajarkan bahwa dunia terjaga selama manusia menjaga perjanjiannya dengan alam. Kita tidak sedang kekurangan teknologi untuk menyelamatkan laut. Kita hanya kekurangan siri’, untuk mendorong agar tidak mengkhianati tasi’ yang telah memberi kita segalanya. Selagi ombak masih berbicara, selagi angin laut masih membawa pesan leluhur, masih ada kesempatan untuk mendengar. Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here