MASSEPPÉ LAO, Kearifan Lokal Bugis, Sebuah Pamali, Sebuah Doa

0
56
- Advertisement -

 

ANAKKU; BALI- JEPANG- SURABAYA

Orang Bugis mengenal satu pantangan lama: masseppé lao — berangkat bersama lalu berpisah arah di simpang jalan. Bukan sekadar mitos, tetapi kearifan tentang menjaga keselarasan langkah dan doa.

Pekan lalu, Ahad, 22 Februari 2026. dua putriku, ANDI DJAMILA TENRIBALI SARANSI, A.Md. Kep. dan ANDI NAMIRA RACHMANINOV SARANSI, S.T. Biomed, mereka seperti anak kembar, lahirnya terpaut setahun. Keduanya lulusan Perguruan Tinggi Negeri. Inov Saransi, Sang kakak bekerja di Industri Biomedic di Kota Pahlawan, Surabaya, sementara Mila Saransi Sang adik, setelah melewati syarat kampus yang ketat, mendapatkan tawaran kerja di Negeri Sakura.

Sejak kecil, Inov sangat menyayangi dan melindungi adeknya, TK dan SD sama., mendengar Mila akan terbang ke Jepang, Inov gunakan libur weekend pulang ke Bali melepas adeknya.

Pada hari H, Tiket mereka di hari yang sama. Mila menuju Osaka. Sementara Inov kembali ke Surabaya karena esoknya harus masuk kerja.

Sebagai Ayah, gundah hati mengingat pesan orang tua tentang  masseppé lao Pamali, kata mereka. Berangkat bersama lalu berpisah arah, dikhawatirkan akan tertimpa bala.

Bukan semata takut pada takdir, tetapi karena saya menyimpan kenangan 54 tahun silam. Masih bocah SD, saya menyaksikan cerita keluarga yang masséppé lao di pertigaan PékkaE Macanre. Tak lama, kabar duka datang dari Pakkanrë Bétë Soppeng. Sejak itu, simpang jalan terasa lebih dari sekadar percabangan; ia adalah ruang doa dan kecemasan.

Kuucapkan pelan bujuk anakku Inov, “Pamali nak…” Awalnya ia tak sepenuhnya memahami. Namun setelah kujelaskan maknanya bahwa dalam budaya Bugis, perjalanan adalah simbol kehidupan, dan kebersamaan adalah amanah ia pun mengerti, dan mengalah pulang malam, penerbangan terakhir setelah melepas adiknya terbang Jam 2 siang.

Alhamdulillah…, keduanya tiba selamat; Inov tiba tengah malam di Surabaya, via Bandar Udara Internasional Juanda, sementara Mila di Bandara Internasional Kansai pada Jam 9 pagi setelah transit Cengkareng dan Kualalumpur.

Sehat, selamat anaknya Pung. Kamipun belajar dan memaknai, bahwa kearifan lokal bukan untuk membelenggu masa depan anak-anak kita. Ia adalah cara leluhur mengajarkan kehati-hatian, menyatukan doa sebelum berpisah arah. Karena sesungguhnya, yang ditakuti bukanlah simpang jalannya. Melainkan jika hati dan doa kita yang terpisah.

Kitapun hanya ingin satu: Langkah mereka boleh berbeda arah, tetapi doa kami tetap satu tujuan keselamatan dan keberkahan hidup kalian anakku.

Denpasar, 01 Maret 2026
Aus daeng Jarre Almakazaribali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here