MIMPI, DOA DAN KEPEMIMPINAN

0
84
- Advertisement -

Paseng To Riolo dalam Harapan Warga KKSS

Kolom Muslimin Mawi
Aktivis dan Pemerhati Organisasi

Dalam khazanah intelektual Bugis Makassar, mimpi tidak pernah dipisahkan dari nilai. Ia bukan sekadar hasrat pribadi, melainkan ikhtiar moral yang harus sejalan dengan kehendak Ilahi dan pesan leluhur. Inilah yang menjadikan mimpi kolektif warga Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) selalu dibingkai dengan doa, adab dan kesabaran.

Harapan tentang lahirnya pemimpin nasional dari rahim nilai Bugis, yang kerap dilekatkan pada sosok Andi Amran Sulaiman, tidak berdiri di ruang kosong. Ia berakar kuat pada warisan budaya dan etika kepemimpinan yang tercatat dalam La Galigo dan paseng to riolo, yang oleh para akademisi diakui sebagai salah satu sistem nilai kepemimpinan paling lengkap di Nusantara.

La Galigo sebagai Sumber Etika Kepemimpinan

Secara akademik, La Galigo dipandang bukan hanya sebagai karya sastra epik terpanjang di dunia, tetapi juga sebagai ensiklopedia nilai sosial, politik dan kepemimpinan masyarakat Bugis.
Christian Pelras dalam The Bugis (1996) menegaskan bahwa La Galigo memuat struktur etika kepemimpinan yang menempatkan kejujuran, keteguhan dan kebenaran sebagai fondasi kekuasaan.
Kepemimpinan dalam perspektif Bugis bukan soal dominasi, melainkan soal kelayakan moral. Seorang pemimpin hanya sah memimpin apabila ia menjaga siri’ (kehormatan) dan mampu merasakan pacce (empati penderitaan rakyat).

Lempu’. Kejujuran sebagai Legitimasi Kekuasaan

Nilai lempu’, kejujuran dan kelurusan niat, dalam kajian antropologi Bugis diposisikan sebagai syarat utama kepemimpinan.
Mattulada (1985) dalam kajiannya tentang etos Bugis menyebut lempu’ sebagai “akar legitimasi sosial”, tanpa itu kekuasaan kehilangan makna.

Dalam La Galigo dan paseng to riolo, ditegaskan bahwa pemimpin yang tidak jujur bukan hanya gagal secara moral, tetapi juga mengundang kehancuran sosial.

“Aja’ muppoji gau’e, naia lempu’e mupogau”. (Jangan membenarkan perbuatan menyimpang, tegakkan kejujuran dalam tindakan).

Dalam konteks kekinian, keberhasilan Andi Amran Sulaiman di sektor pertanian sering dibaca oleh warga KKSS sebagai manifestasi lempu’, kebijakan yang berpihak pada petani, keberanian melawan praktik yang merugikan rakyat dan konsistensi menjaga pangan sebagai amanah strategis bangsa.

Getteng. Keteguhan sebagai Etika Ketahanan

Para peneliti budaya Bugis, termasuk Andi Zainal Abidin Farid, menempatkan getteng sebagai nilai kepemimpinan yang berkaitan langsung dengan ketahanan moral dan politik.

Getteng berarti teguh pada prinsip, tidak mudah berbelok karena tekanan dan tidak menggadaikan nilai demi keselamatan pribadi.

“Gettengngi atimmu, aja’ muppasilaingngi ada.” (Teguhkan hatimu, jangan mengingkari janji dan prinsip.)

Dalam Islam, nilai ini sepadan dengan istiqamah. Dan dalam praktik kepemimpinan modern, getteng tercermin pada keberanian mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan jangka panjang rakyat, sebuah kualitas yang dirindukan warga KKSS dalam kepemimpinan nasional.

Ada Tongeng, Kebenaran sebagai Tanggung Jawab Publik

Nilai ada tongeng, perkataan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, oleh para akademisi dipahami sebagai etika komunikasi kekuasaan. Pemimpin Bugis tidak dinilai dari kefasihan retorika, melainkan dari kesesuaian antara kata dan perbuatan.

“Ada tongeng temmakala siri’”.
(Perkataan yang benar tidak akan menjatuhkan kehormatan).

Dalam konteks ini, capaian nyata di sektor pertanian, yang dapat diukur dan dirasakan, menjadi contoh ada tongeng dalam praktik, bekerja terlebih dahulu, baru berbicara. Sebuah etika yang selaras dengan prinsip Islam tentang amanah dan pertanggungjawaban.

Mimpi sebagai Doa Kebudayaan

Mimpi warga KKSS tentang Andi Amran Sulaiman sebagai The Next Presiden bukanlah proyek politik, melainkan doa kebudayaan. Doa yang lahir dari kerinduan akan pemimpin lempu’ dalam niat, getteng dalam prinsip dan ada tongeng dalam ucapan serta tindakan.

Sebagaimana ditegaskan dalam paseng to riolo, “Reso temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata”. (Usaha yang sungguh-sungguh akan mengundang rahmat Tuhan).

Jika Allah mengabulkan mimpi itu, maka ia adalah amanah besar. Jika tidak, maka keyakinan warga KKSS tetap teguh, mimpi yang dijaga dengan nilai, disertai doa dan dilandasi kesabaran, tidak pernah sia-sia, karena ia telah menjadi bagian dari ibadah dan warisan moral untuk generasi berikutnya.

Eramas, 22 Januari 2026.
Penulis: Aktivis dan Pemerhati Organisasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here