Munas IX dan HUT Ke 49 IWSS: Akar Budaya sebagai Bekal Berkarya

0
79
- Advertisement -

PINISI.co.id- Bincang-bincang inspiratif dalam rangkaian Munas IX dan HUT ke-49 Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS)
Gelaran talk show atau bincang-bincang bertema “Akar Budaya sebagai Bekal Berkarya” menjadi salah satu agenda menarik pada Pertemuan Wanita Karir Bugis Makassar Toraja (PWK-BMT II) dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) IX dan peringatan HUT ke-49 Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) yang dihelat di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (6/11).

Diskusi ini menghadirkan tiga perempuan inspiratif dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, yakni Nurwayah, Anggota DPR RI sekaligus Wakil Bendahara Umum KKSS; Felicitas Tallulembang, Komisaris Bank Syariah Indonesia; serta Ermey Trisniarty, Founder & Owner The Kakao.

Ketiganya berbagi pengalaman tentang bagaimana nilai-nilai budaya, ketekunan, integritas, dan keberanian berinovasi menjadi bekal penting dalam membangun usaha, menjalankan pengabdian, serta berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

Ermey Trisniarty membagikan perjalanan usahanya membangun bisnis kuliner yang kini berkembang dengan jaringan sekitar 110 cabang di berbagai daerah di Indonesia. Berawal dari kegemarannya memperkenalkan kuliner dan kudapan khas Makassar, ia kemudian melihat peluang usaha yang lebih besar ketika pulang ke kampung halaman dan menjumpai banyak pohon kakao. Pengalaman itu menginspirasinya mengembangkan bisnis berbasis cokelat melalui The Kakao. Semula ia dikenal sebagai pemilik Dapur Coklat.

Usahanya terus berkembang, bahkan merambah pasar internasional dengan memproduksi roti di Jepang. Namun, perjalanan tersebut bukan tanpa tantangan. Perubahan pola konsumsi masyarakat dan perkembangan teknologi digital menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi. Ia pun mengembangkan pemasaran digital, memanfaatkan layanan pesan antar, serta melakukan berbagai inovasi produk dan pelayanan agar tetap mampu bersaing.

Sementara itu, Nurwayah berbicara dari pengalaman panjangnya sebagai pengusaha sekaligus politisi. Baginya, kedua bidang tersebut memiliki ruang pengabdian yang saling berkaitan. Dunia usaha mengajarkan kemandirian dan keberanian mengambil peluang, sedangkan politik menjadi sarana memperjuangkan aspirasi masyarakat dan mendorong agar berbagai kebutuhan publik dapat diwujudkan melalui kebijakan pemerintah.

Adapun Felicitas Tallulembang menekankan pentingnya membangun modal kepercayaan dan integritas dalam kehidupan maupun dunia profesional. Kepercayaan, menurutnya, merupakan modal utama yang harus dijaga dalam setiap langkah pengabdian dan pekerjaan. Ia juga mengingatkan pentingnya membawa nama baik Sulawesi Selatan di mana pun berada, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia.

Bincang-bincang ini juga menyoroti pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama terkait akses pembiayaan, dukungan permodalan, fasilitas kredit, hingga besaran plafon anggaran yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha. Persoalan ini menjadi perhatian penting mengingat UMKM merupakan salah satu penggerak ekonomi masyarakat yang membutuhkan pendampingan, akses pasar, inovasi, dan dukungan pembiayaan agar dapat tumbuh lebih kuat.

Suasana diskusi semakin hangat ketika sesi tanya jawab berkembang menyentuh berbagai persoalan, termasuk dinamika politik dan kondisi Indonesia terkini. Beragam pandangan disampaikan dengan satu harapan bersama, yakni melihat Indonesia terus bergerak menuju keadaan yang lebih baik, maju, dan sejahtera.

Melalui forum ini, IWSS tidak sekadar menghadirkan ruang berbagi pengalaman, tetapi juga memperlihatkan bahwa akar budaya dapat menjadi sumber nilai dan kekuatan dalam berkarya. Identitas Bugis, Makassar, dan Toraja bukan hanya warisan yang harus dijaga, melainkan juga bekal untuk membangun kemandirian, memperkuat integritas, mengembangkan kewirausahaan, serta memperluas pengabdian bagi masyarakat dan bangsa. (Lif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here