Natsir Mallawi, Risalah Sesama Penyintas Jantung

0
128
- Advertisement -

“Tungguma di rumahmu, nanti saya jemputko.”

Begitulah suara Natsir Mallawi di ujung telepon. Tak ada yang istimewa dari ucapan itu, karena memang begitulah Natsir selama ini. Ia seorang sahabat yang mengajak pergi, dan selalu memastikan saya tidak kesulitan melangkah.

Tak lama setelahnya, Natsir sudah berdiri di depan pagar rumahku. Ia datang lebih cepat daripada langkahku yang lamban. Aku keluar dengan napas sedikit tertahan, menghela napas karena dadaku sesekali terasa sesak. Maklum, sebagai sesama penyintas penyakit jantung, kami sama-sama memahami bahwa tubuh tak lagi bisa diajak bergerak cepat seperti dahulu.

Dari rumahku di Blok B, Kompleks Pandang-pandang, aku dibonceng dengan sepeda motornya menuju rumah Natsir di Blok A. Jaraknya tak seberapa jauh. Sesampainya di sana, kami berpindah ke mobilnya untuk menghadiri sebuah kegiatan yang dihelat anak-anak modul. Ia baru saja digantikan sebagai Ketua PPSP 81.

Natsir selalu datang menjemput, lalu mengantarkan pulang. Kadang ia hanya mengantarku sampai di ujung jalan, seturut permintaanku. Bukan karena ia tak bersedia mengantar sampai depan rumah, melainkan karena aku sendiri tak ingin terlalu merepotkannya.

Terakhir, bersama Latri Aras kami mendapat tumpangan mobilnya untuk menghadiri halal bihalal PPSP 81 yang dihelat di tempat Andi Dora, tahun lalu. Yusuf Lurang juga dijemput di rumahnya. Sungguh merepotkannya.

Namun, siapa yang sebenarnya sedang merepotkan siapa? Dalam persahabatan, pertanyaan semacam itu tidak begitu penting.

Sudah sekitar lima tahun terakhir, setelah sama-sama akrab dengan urusan jantung, kebiasaan itu menjadi bagian dari keseharian kami. Sesekali perjalanan kami ditemani Latri, sahabat sekaligus tetangga Natsir di kawasan Pandang-pandang. Kami bertiga kerap pergi bersama, berbagi cerita, menertawakan hal-hal kecil, dan sesekali saling meledek seperti anak muda yang belum mengenal usia.

Kini, ketika mengingat semua itu, ada bagian dari diriku yang terasa begitu perih. Ternyata, kebiasaan yang dahulu kuanggap biasa itu justru menjadi kenangan yang paling mahal setelah Natsir pergi untuk selamanya.

Sebagai sesama penyintas, kami memiliki ikatan yang tak selalu mudah dipahami orang lain. Natsir kerap menelepon; saling bertanya tentang keadaan masing-masing, perkembangan kesehatan, obat-obatan yang diminum, serta berbagai hal yang berkaitan dengan penyakit yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia itu.

Di antara kami, selalu ada semangat untuk bertahan. Kami saling menguatkan, seolah-olah dengan mengetahui sahabat masih baik-baik saja, kami pun memperoleh tambahan keyakinan untuk menjalani hari-hari berikutnya.

Beruntung, ia sudah memasang cincin jantung. Sementara itu, tiga dokter jantung yang memeriksaku menyarankan agar aku menjalani operasi bypass. Namun, hingga saat itu aku belum siap. Aku merasa masih cukup nyaman dengan obat-obatan yang harus kuminum tiga kali sehari.

Ada semacam perasaan senasib yang tumbuh di antara kami, bahwa setiap hari yang masih diberikan Tuhan merupakan kesempatan untuk bersyukur.

Jadi setiap kali pulang ke Makassar, ada satu tempat yang hampir selalu mempertemukanku dengan Natsir: Masjid Al-Muhajirin. Ia juga sebagai pembina di masjid itu bersama Latri. Letaknya hanya selemparan batu dari rumahnya.

Kami menunaikan salat Subuh bersama, termasuk Latri. Seusai beribadah, biasanya kami melanjutkan pagi dengan minum kopi di Sungguminasa atau sesekali menuju Makassar. Di meja kopi itulah percakapan kami mengalir tanpa batas. Kadang membicarakan hal-hal serius, ngalor ngidul, kadang bernostalgia.

Sekarang, ketika membayangkan kembali pagi-pagi itu, aku baru menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana yang selama ini kita jalani tanpa banyak berpikir.

Ternyata, tidak semua kebersamaan mendapat kesempatan untuk diulang.
Kelak, ketika aku kembali ke Masjid Al-Muhajirin, mungkin aku masih akan berdiri di saf yang sama; masih bisa menunaikan salat Subuh, lalu mencari tempat untuk menikmati secangkir kopi. Namun, akan ada satu orang yang tak lagi kutemukan di sisiku.

Aku mungkin masih akan menoleh, mencari wajah Natsir, sebelum akhirnya tersadar bahwa ia sudah tidak ada.

Padahal ia masih sering melakukan olahraga ringan di Lapangan Syekh Yusuf. Aku sendiri sudah tak banyak berolahraga seperti dahulu, paling-paling berjalan bolak-balik di depan rumah dengan langkah perlahan.

Ia juga gemar mengajakku berburu kuliner. Ada saja tempat yang ingin didatangi, ada saja makanan yang hendak dicoba. Bagi Natsir, perjalanan semacam itu bukan sekadar urusan perut, melainkan juga kesempatan untuk bercengkerama dan merawat persahabatan.

Ketika ia melakukan penelitian di Takalar untuk meraih gelar doktornya, aku beberapa kali menemaninya ke lapangan. Aku menyaksikan bagaimana ia menjalani kegiatan penelitian dengan kesungguhan, di tengah berbagai keterbatasan yang juga kami rasakan sebagai orang yang tak lagi muda dan memiliki riwayat penyakit jantung.

Aku tak pernah menyangka, di antara dua orang yang sama-sama berusaha merawat jantungnya, justru Natsir yang lebih dahulu dipanggil menghadap-Nya. Dan ia dijemput di Rumah Allah saat ia menunaikan umrah.

Sayangnya, hidup tidak menyediakan jalan pulang menuju waktu yang telah lewat. Natsir, sahabatku, kini engkau telah istirah di Jeddah. (Alif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here