Perginya Tokoh Pejuang Perindu Ilmu, Prof.Dr.Albertina Nomay Kaunang Baramuli, S.H.M.H.M.Si.M.B.A.M.Th.Ph.D.

0
137
- Advertisement -

Perginya Tokoh Pejuang Perindu Ilmu, Prof.Dr.Albertina Nomay Kaunang Baramuli, S.H.M.H.M.Si.M.B.A.M.Th.Ph.D.

Kolom Bachtiar Adnan Kusuma

Ketua Forum Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional

“ Ayah saya adalah seorang hakim dan Kepala Pengadilan Negeri Manado dan Kakek saya Leonard Dengah adalah hakim tua yang menjadi Hakim Pengadilan Adat. Ia juga anggota Volksraad di daerah Minahasa. Dan, sebagai anak perempuan satu-satunya, saya sangat terikat kepada ayah dan kakek saya, soalnya ilmu hukum menjadi ‘bahasa” kami sehari-hari di rumah” kata Prof. Dr. Albertina Nomay Kaunang Baramuli, veteran pejuang kemerdekaan RI dan Penerima Bintang Gerilya yang juga istri mendiang Ketua DPA RI Dr.H.A.A.Baramuli, S.H. dan ibu kandung mantan Ketua Harian DPP AMPI, H. Emir Baramuli, S.H., kepada Penulis pada 1998 di kediamannya Jalan Imam Bonjol Nomor 51 Jakarta.

Selamat jalan Prof. Albertina Nomay Kaunang Baramuli, wafat di Jakarta pada Sabtu Tgl 18 Juli 2026 pada Pukul 20:44 WIB dalam usia 96 tahun. Sepekan terakhir ini, di ingatan penulis terlintas tentang Ayah Besar(seperti panggilan akrab) kepada almarhum Dr.H.A.A.Baramuli, S.H. tentang rencana mulia penulis ingin mengenang dalam doa dan zikir untuk mantan Jaksa Tinggi Sulawesi, Gubernur termuda Sulawesi Utara dan Tengah, Anggota DPR RI 20 Tahun, Wakil Ketua Kadin Indonesia, Hakim Tinggi Arbitase, Wakil Ketua Komnas HAM dan Ketua DPA RI di zaman Presiden BJ Habibie yang bertapatan hari ini lahir Tgl 20 Juli 1930 di Pinrang Sulawesi Selatan, 96 tahun lalu.

Rupanya ingatan dan memori kebaikan almarhum Dr.H.A.A. Baramuli, S.H. yang penulis menganggapnya sebagai orang tua sendiri dan mendampingi beliau selama 10 tahun di Jakarta, tetiba penulis membuka IG terlintas ucapan duka atas Wafatnya Ibunda Prof. Albertina Kaunang Baramuli. Penulis segera menghubungi putra satu-satunya laki-laki almarhumah yaitu H.Emir Baramuli, S.H.

Kembali membuka ingatan penulis, tatkala penulis bertiga di meja makan yaitu almarhum Ayah Besar Dr.H.A.A.Baramuli, S.H. dan Prof. Dr. Albertina Nomay Kaunang Baramuli, S.H.M.H.M.Si.M.B.A. M.Th.Ph.D., menceritakan pengalaman hidup dan kisah pertemuannya berdua. Kedua tokoh ini dalam berkomunikasi suami istri acapkali menggunakan bahasa Belanda. Keduanya sangat fasih berbahasa Belanda, mahfun saja karena mereka berdua adalah jebolan sekolah Belanda dan tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1951.

Perkenalan Emmy (Panggilan akrab Prof. Albertina Kaunang Baramuli) dan Naldy(panggilan akrab Dr.H.A.A.Baramuli, S.H.) selama dua tahun di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dan Baramuli terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Djakarta menggantikan Prof.Dr. Ismail Suny, S.H.M.H.LLM. Baramuli, Ismail Suny, Djaelani Naro, Yusuf Indradewa dan Emmy adalah satu angkatan di Fakultas Hukum UI.

Kisah cinta Naldy dan Emmy bermula sebagai sesama aktivis mahasiswa Fakultas Hukum UI. Kendatipun kata Prof. Albertina Nomay Kaunang Baramuli mengakui kalau Baramuli tidak mudah menyampaikan isi hatinya kepadanya. Akhirnya Baramuli meminta teman karibnya, Yusuf Indradewa yang akrab dipanggilnya Ucup, menyampaikannya melalui cerita dongeng bersambung secara simbolis. Mulanya Emmy tidak mengubris cerita tersebut dan menganggapnya hanyalah membuang-buang waktu. Namun, lama-lama Emmy mengenal dirinya dalam cerita dongeng, bahkan Emmy meneruskan cerita bersambung itu. Begitulah Naldy (A.A.Baramuli) masih memakai cara tradisional untuk mendekatinya, gadis dari Minahasa yang lembut dan cara bicaranya persis orang Jogya.

Perjalanan cinta selama 50 tahun kedua pasangan Tokoh Nasional ini, Emmy selalu memperbaharui janji dan tekad. Kenangan semasa bulan madu malah menjadi sumber kekuatan agar selalu menapak ke depan, mendampingi suami. Emmy mengakui kalau Naldy (A.A.Baramuli) suaminya adalah seorang aktivis, politisi pegaul yang pandai merangkul semua orang, pengusaha dan filantropis. Sementara Emmy mengakui kalau dirinya hanya pemburu ilmu yang selalu haus ingin kuliah, ke toko buku dan berkumpul bersama teman-temannya.

Emmy (Prof.Albertina Kaunang Baramuli) tidak terlalu hirau dengan panggung politik, namun ia mengakui selalu mendukung suaminya. Dalam berbagai keputusan suaminya, Dr.H.A.A.Baramuli, S.H. ia selalu mendiskusikan berdua di meja makan. Dalam kesibukan suaminya meninggalkan keluarga dan berkeliling ke daerah-daerah berkampanye Golkar, Emmy selalu memanfaatkan waktunya menuntut ilmu, kuliah dengan berbagai jurusan konsentrasi keilmuwan.

Karena itu, tidak heran jika usia senjanya, Prof. Albertina Kaunang Baramuli, masih sempat berkali-kali ikut wisuda sebagai mahasiswa dengan konsentrasi ilmu yang berbeda-beda. Dan, sebagai anak muda, penulis patut memantik contoh terbaik dari Prof. Albertina Kaunang Baramuli, kendatipun di atas kursi roda, tapi semangatnya menuntu ilmu tidak pernah habis menjelang ajal menjemputnya. Bagi penulis, almarhumah adalah sosok Ibu dan Tokoh Pejuang Perindu Ilmu yang selalu haus ingin belajar.

Penulis mengutip pernyataan terakhir Prof.Dr.Albertina Nomay Kaunang Baramuli, S.H.M.H.M.Si.M.Th.M.B.A.Ph.D. kepada penulis yaitu ” Seandainya Tuhan menyuruh saya mengulangi kehidupan ini dengan suamiku Naldy, tentu saya terima dengan hati lapang. Tapi segala sesuatu mempunyai akhir dan matahari mulai tenggelam memerah di ufuk barat di usia kami berdua”.

Tepat hari ini, Tgl 20 Juli 2026 bertepatan dengan hari kelahiran Dr.H.A.A.Baramuli, S.H., Alfatiha untuk Puang Besar, dan pada Sabtu Tgl 18 Juli 2026 Prof. Dr. Albertina Nomay Kaunang Baramuli, S.H.M.H.M.B.A.M.Th.M.Si.Ph.D. menyusul cintanya dengan ungkapan penutup “ de zeven kruisjes” selamat jalan Prof. Surga untukmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here