Profesor Nur Sadik Beberkan Rahasia Dibalik Kedatangan Donal Trump ke China

0
73
- Advertisement -

PINISI.co.id– Guru Besar Kebijakan Publik Tidak Tetap Universitas Indonesia (UI) yang juga ketua Departemen Politik dan Kebijakan Strategis Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) Profesor Muh. Nur Sadik, menilai kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik domestik Amerika Serikat serta persaingan geopolitik global yang semakin kompleks.

Menurut Prof. Sadik, arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat sangat dipengaruhi oleh cara pandang dua partai politik besar di negara tersebut, yakni Partai Republik dan Partai Demokrat.

“Kejadian ini dilatarbelakangi oleh platform atau mindset cara berpikir dua partai politik besar di Amerika Serikat, yaitu Partai Republik dan Demokrat,” kata Prof. Sadik dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa Partai Republik cenderung memandang negara lain sebagai rival strategis sehingga pendekatan kekuatan militer kerap digunakan untuk mencapai kepentingan nasional.

“Partai Republik melihat negara lain sebagai rival sehingga kekuatan militer digunakan untuk menyerang lawan demi mencapai tujuan nasional,” ujarnya.

Menurutnya, latar belakang Donald Trump sebagai kader Partai Republik turut memengaruhi cara pandangnya dalam melihat hubungan internasional.

“Donald Trump berasal dari Partai Republik, sehingga mindset-nya melihat negara lain sebagai rival,” jelasnya.

Ketua Departeman Kebijakan Strategis dan Politik BPP KKSS itu juga menegaskan bahwa politik luar negeri sejatinya merupakan refleksi dari kepentingan politik domestik suatu negara.

“Politik luar negeri itu adalah perpanjangan dari politik dalam negeri,” katanya.

Ia juga menyoroti standar ganda dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya terkait isu persenjataan di Timur Tengah.

“Amerika melarang Iran membangun nuklir dan senjata modern, tetapi di sisi lain membiarkan Israel memperkuat persenjataan modernnya termasuk nuklir,” ungkapnya.

Menurut Prof. Sadik, kepentingan strategis Israel saat ini berkaitan erat dengan penguasaan wilayah Gaza dan upaya mencegah kemerdekaan Palestina.

“Kepentingan nasional Israel adalah mengambil alih Gaza dan tidak memungkinkan Palestina merdeka,” ujarnya.

Ia menilai bahwa dalam politik internasional, kepentingan nasional menjadi faktor utama yang menentukan arah kebijakan suatu negara.

“Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali kepentingan, termasuk kepentingan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Profesor Kebijakan Publik lulusan Amerika Serikat itu menyebut konflik berkepanjangan turut memengaruhi kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa harga kebutuhan masyarakat mengalami kenaikan signifikan.

“Saya 10 Tahun sekolah Di Amerika, banyak teman-teman saya disana, saya kemarin telepon, harga-harga di Amerika naik hampir 40 persen, termasuk bensin dan kebutuhan pertanian,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan politik dari masyarakat Amerika Serikat menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keberlanjutan konflik.

“Satu-satunya jalan yang bisa menghentikan perang ini adalah tekanan dari dalam negeri Amerika Serikat,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tokoh di Partai Republik mulai menunjukkan ketidaksetujuan terhadap kebijakan perang yang dijalankan Donald Trump.

“Di Partai Republik pun teman-teman Donald Trump tidak setuju lagi dengan perang yang dilakukan Trump,” ujarnya.

Prof. Sadik mengatakan Amerika Serikat berupaya membangun narasi bahwa konflik yang terjadi lebih didorong oleh kepentingan Israel.

“Amerika mengatakan mereka tidak butuh perang, yang butuh perang adalah Israel,” katanya.

Terkait kunjungan Trump ke China, Prof. Sadik menilai langkah tersebut menjadi sinyal penting dalam dinamika geopolitik global.

“Kunjungan Trump ke China menjadi pertanda bahwa perang akan lanjut dengan bantuan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kunjungan tersebut diduga bertujuan untuk meminta China membatasi dukungannya terhadap Iran apabila terjadi eskalasi konflik.

“Trump datang ke China untuk memohon kerja sama agar China tidak terlalu membantu Iran jika Amerika menyerang,” jelasnya.

Meski demikian, Prof. Sadik menegaskan bahwa konfrontasi berkepanjangan tidak akan memberikan keuntungan bagi negara-negara besar maupun masyarakat dunia.

“Konfrontasi tidak membawa keuntungan bagi Amerika, China, maupun masyarakat dunia,” katanya.

“Perang yang dilakukan sekarang tidak membawa dampak positif bagi kedua negara maupun dunia,” lanjutnya.

Menurut Ketua Program Doktor Administrasi Publik Universitas Nasional (Unas) itu, hingga saat ini Donald Trump belum memiliki strategi yang jelas untuk keluar dari konflik yang sedang berlangsung.

“Trump belum memiliki strategi untuk keluar dari perang ini,” ujarnya.

Ia menilai perang juga berkaitan erat dengan kepentingan industri persenjataan global, khususnya di Amerika Serikat.

“Perang adalah bisnis besar bagi Amerika Serikat, terutama industri persenjataan dan nuklir,” katanya.

“Pasar terbesar industri senjata Amerika adalah Timur Tengah,” tambahnya.

Prof. Sadik memprediksi tekanan politik domestik melalui pemilu sela di Amerika Serikat dapat menjadi faktor penentu perubahan kebijakan luar negeri negeri tersebut.

“Strategi exit yang paling mungkin adalah tekanan dari dalam negeri Amerika Serikat melalui pemilu sela,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila Partai Demokrat berhasil menguasai Kongres dan Senat, maka arah kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat berpotensi berubah secara signifikan.

“Jika Partai Demokrat menguasai Kongres dan Senat, kebijakan politik luar negeri Amerika bisa berubah drastis,” katanya.

“Tekanan dalam negeri itulah yang bisa membuat Trump keluar dari konflik ini,” tutup Prof. Sadik. (Lif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here