Kolom HM Yasin Azis
Ketua Ikatan Saudagar Muslim se-Indonesia (ISMI) Sulsel
Dalam narasi keagamaan yang sempit, sering kali muncul persepsi keliru bahwa kesalehan identik dengan kemiskinan atau pengabaian duniawi. Namun, bagi seorang saudagar Muslim, Islam justru dipandang sebagai agama pergerakan yang menuntut kemandirian dan kemuliaan.
Sebuah kutipan tajam mengingatkan kita: “Agama kita tidak mengajarkan kita untuk lemah dan tangan di bawah.”
Di sini, kekayaan bukan sekadar tumpukan aset, melainkan instrumen untuk menegakkan martabat diri dan menjalankan pilar-pilar agama yang mustahil terlaksana tanpa kekuatan finansial.
Secara teologis, Islam memandang kemiskinan yang ekstrem sebagai ancaman terhadap keimanan (Kadul faqru an yakuna kufran).
Syariat mendorong setiap Muslim untuk menjadi kuat, baik secara mental maupun ekonomi, agar mampu menjadi pemberi manfaat, bukan penerima beban.
Rasulullah SAW secara eksplisit memberikan motivasi ekonomi melalui sabdanya:”Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lebih jauh lagi, rukun Islam seperti Zakat dan Haji memerlukan kemapanan finansial. Tanpa kerja keras para saudagar, pilar zakat akan kehilangan subjeknya (muzakki), dan kemuliaan anak yatim akan terabaikan.
Allah SWT pun berfirman: “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah…” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Ayat ini menegaskan bahwa mencari kekayaan adalah perintah yang beriringan dengan perintah ibadah ritual. Menjadi kaya bagi seorang Muslim adalah strategi untuk bisa “merangkul” dan menyelamatkan martabat sesama.
Dari sisi kesaudagaran, kekayaan adalah modal untuk melakukan perubahan sosial. Narasi tentang “membebaskan budak-budak modern” sangat relevan dengan realitas ekonomi hari ini.
Budak modern adalah mereka yang terjerat utang riba, pengangguran yang mencekik, serta ketergantungan ekonomi yang meruntuhkan harga diri.
Seorang entrepreneur Muslim yang sukses berperan sebagai pembebas. Dengan membuka lapangan kerja, ia membebaskan orang dari pengangguran.
Dengan sistem bisnis yang adil, ia membebaskan mitra dari eksploitasi. Di tangan saudagar yang bertaqwa, kekayaan berubah menjadi “Stewardship” (pengelolaan amanah) untuk memartabatkan manusia. Kemuliaan memang sulit dicapai dalam kondisi lapar dan lemah; oleh karena itu, kejayaan bisnis adalah sarana untuk memastikan martabat umat tetap tegak di hadapan bangsa-bangsa lain.
Masyarakat Bugis-Makassar
menempatkan kemandirian ekonomi sebagai bagian integral dari Siri’ (harga diri). Seorang laki-laki atau pengusaha yang tidak bekerja keras dan hanya menggantungkan hidup pada orang lain dianggap kehilangan Siri’-nya. Falsafah “Kere-kere” (mandiri/berdikari) menuntut setiap individu untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Ada pepatah yang mengatakan: “Najaga Siri’mu, narekko sugi’ko” (Terjaga harga dirimu jika engkau berkecukupan).
Namun, kekayaan dalam kearifan lokal tidak boleh melahirkan kesombongan. Ia harus berpasangan dengan nilai Sipatuo (saling menghidupkan).
Menjadi kaya di tanah Sulawesi berarti memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pelindung bagi yang lemah dan penyambung hidup bagi kerabat serta masyarakat sekitar. Inilah esensi dari saudagar yang memegang teguh martabat.
Menolak kemiskinan bukan berarti memuja kemewahan. Menolak kemiskinan adalah ikhtiar agar tangan kita mampu merangkul anak yatim dengan penuh hormat, bukan dengan rasa kasihan yang merendahkan.
Menjadi kaya adalah upaya agar kita bisa berangkat haji dengan kemandirian dan bersedekah tanpa harus menunggu sisa.
Saat seorang saudagar Muslim bekerja keras, niatnya adalah untuk meraih “Izzah” (kemuliaan) Islam dan kaum Muslimin. Ia ingin membuktikan bahwa dengan harta yang berkah, dunia bisa menjadi tempat yang lebih adil dan bermartabat.
Jangan ragu untuk menjadi kaya, selama kekayaan itu berada di tanganmu, bukan di hatimu. Kejayaan ekonomi adalah fondasi untuk tegaknya rukun Islam secara sempurna.
Jadilah saudagar yang tangguh, bangunlah kerajaan bisnis yang luas, agar darinya lahir kekuatan untuk membebaskan mereka yang tertindas dan memuliakan mereka yang terlupakan.
Karena sungguh, tangan yang kokoh merangkul adalah tangan yang telah selesai dengan urusan dirinya sendiri melalui kerja keras yang diberkati. Wallahuallam.














