Kolom HM Yasin Azis Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sulsel
Jika dalam dunia kesaudagaran kita mengenal integritas sebagai modal utama, maka musuh terbesarnya adalah dualitas keburukan yang disebut dalam kearifan lokal sebagai Maja Ada, Maja Ati.
Istilah ini menggambarkan sosok yang lisannya kasar dan hatinya pun busuk. Dalam ekosistem bisnis, karakter ini adalah “virus” yang tidak hanya merusak reputasi personal, tetapi juga mampu meruntuhkan imperium bisnis yang telah dibangun bertahun-tahun.
Menghindari sifat ini bukan sekadar pilihan etika, melainkan sebuah kewajiban bagi saudagar Muslim yang mendambakan keberlanjutan dan rida Ilahi.
Secara teologis, Maja Ada (mulut kasar) dan Maja Ati (hati buruk) adalah kombinasi yang sangat dibenci dalam Islam. Islam memandang lisan sebagai cerminan dari apa yang tersimpan di dalam kalbu. Jika hatinya dipenuhi hasad, dengki, dan keserakahan, maka lisan yang keluar akan berupa caci maki, fitnah, atau kata-kata yang menyakitkan.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam haditsnya: “Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Tirmidzi).
Allah SWT pun mengingatkan tentang bahaya penyakit hati yang merusak amal: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10).
Bagi seorang pengusaha, memelihara Maja Ati (niat buruk/curang) yang dibungkus dengan Maja Ada (sikap kasar/arogan) akan memutus keberkahan rezeki. Uang mungkin didapat, namun ketenangan dan rida Allah akan menjauh.
Dalam manajemen modern, Maja Ada tercermin pada gaya kepemimpinan yang toksik, komunikasi yang intimidatif, dan pelayanan pelanggan yang buruk.
Sementara Maja Ati tercermin pada niat untuk mengeksploitasi mitra, kecurangan dalam timbangan, atau ketidaktulusan dalam bekerja sama.
Seorang saudagar yang dikenal kasar (Maja Ada) akan dijauhi oleh pelanggan dan dibenci oleh karyawannya.Loyalitas tidak akan pernah tumbuh di atas tanah yang tandus akan keramahan.
Sementara itu, Maja Ati akan menghancurkan Trust Capital (modal kepercayaan). Sekali seorang pengusaha ketahuan memiliki niat buruk atau berkhianat, maka tamatlah karier bisnisnya.
Dalam dunia usaha yang serba terkoneksi saat ini, rekam jejak karakter buruk akan menyebar lebih cepat daripada promosi produk mana pun
Masyarakat Bugis-Makassar sangat memuliakan adab. Karakter Maja Ada, Maja Ati adalah antitesis dari nilai Sipakatau (memanusiakan manusia). Orang yang memiliki mulut kasar dan hati yang buruk dianggap sebagai orang yang Matuna Siri’ (rendah harga dirinya).
Ada sebuah petuah: “Aja’ mumaccapa ada, aja’ to mumancaji maja ati, nasaba’ iatu pangkaukeng makkuae makkasolang rilino nappa riakhera” (Janganlah engkau berkata kasar, dan jangan pula berhati buruk, karena perbuatan demikian merusak di dunia dan di akhirat).
Pengusaha yang arogan dan jahat hatinya tidak akan mendapatkan tempat dalam sistem Sipatuo (saling menghidupkan).
Komunitas akan menarik dukungannya, dan secara sosial ia akan terkucilkan. Keberhasilan yang diraih dengan cara-cara Maja Ati dianggap sebagai keberhasilan yang “dingin” dan tidak memiliki martabat.
Menghindari karakter ini dimulai dengan melakukan “Audit Hati” secara rutin. Seorang saudagar Muslim harus memastikan bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang membangun dan solutif.
Jika ada ketegasan yang harus disampaikan, sampaikanlah dengan cara yang profesional, bukan dengan kekasaran yang merendahkan.
Memperbaiki Ati (hati) dilakukan dengan meluruskan niat: bahwa bisnis ini adalah sarana ibadah.
Hati yang bersih akan melahirkan tutur kata yang terjaga. Jika hati bersih, maka tidak ada ruang untuk iri hati terhadap kesuksesan pesaing, sehingga lisan pun terhindar dari mencela atau menjatuhkan orang lain.
***
Maja Ada, Maja Ati adalah racun dalam cawan kesuksesan. Ia mungkin memberikan kemenangan sesaat melalui intimidasi atau kecurangan, namun ia akan menyisakan penyesalan panjang dan kehancuran reputasi.
Jadilah saudagar yang menjauhi sifat ini seolah-olah menjauhi jurang yang dalam. Bangunlah bisnismu dengan kelembutan lisan dan kesucian hati, karena hanya dengan cara itulah engkau akan mendapatkan kepercayaan manusia dan perlindungan dari Sang Maha Pencipta.














