Kolom Aslamuddin Lasawedy
Pemerhati masalah budaya, ekonomi dan politik.
SORE itu hujan turun seperti bait-bait cinta yang turun dari langit. Tiap tetesnya mengetuk jendela kamar Laras dengan bunyi yang pelan. Seolah ada seseorang yang ingin masuk, tapi lupa menyebut namanya.
Di meja kayu yang dipenuhi buku filsafat itu, secangkir kopi telah kehilangan uapnya. Laras menatap jalanan yang basah. Ia merasa hidupnya sudah tertata seperti rak perpustakaan. Rapi, teratur, dan sepi.
“Aku tidak membutuhkan cinta,” gumamnya dalam hati, penuh percaya diri.
Namun hidup yang begitu indah ini, sering kali menertawakan kalimat yang diawali dengan kata tidak pernah dan tidak membutuhkan.
Esok harinya, di sebuah resto di pinggir pantai, Laras bertemu seorang lelaki bernama Dadank.
Pertemuan itu biasa saja. Pertemuan itu hanyalah pertemuan dua manusia yang sama-sama mencari cinta sejati dan sama-sama kehilangan sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Dadank memegang sebuah novel.
“Apakah menurutmu manusia bisa benar-benar memahami manusia lain?” tanya Dadank tiba-tiba.
Laras terkejut.
“Mustahil,” jawab Larasa. “Bahkan untuk memahami diri sendiri saja, kita sering gagal.”
Dadank tersenyum.
“Kalau begitu, cinta mungkin bukan tentang memahami.”
“Tapi tentang apa?”
“Menerima bahwa ada misteri yang tak harus dipecahkan.”
Jawaban itu menempel di kepala Dadank seperti hujan yang enggan turun dari daun.
Hari-hari berikutnya mereka berdua sering bertemu. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang Tuhan. Tentang waktu. Tentang kematian. Tentang kesepian, dan mimpi-mimpi indah mereka berdua yang gagal bertumbuh.
Dadank melontarkan pandangannya lagi,
“Kita hidup seperti para pelaut yang mengira sedang mencari pulau. Padahal yang sebenarnya kita cari adalah seseorang yang mau duduk bersama saat badai kehidupan datang.”
Dadank tertawa kecil.
“Dan jika orang itu pergi?”
“Setidaknya kita pernah tahu bagaimana rasanya tidak sendirian.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang Laras akui. Sebab selama ini ia mengira dirinya adalah benteng. Ternyata ia hanyalah rumah tua yang lupa membuka jendela.
Suatu sore mereka berdua berjalan di tepi pantai. Langit berwarna tembaga. Ombak datang dan pergi seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
“Menurutmu cinta itu takdir?” tanya Dadank, ingin tahu.
Laras memandang cakrawala.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Cinta adalah tamu.”
“Tamu?”
“Ya. Ia datang tanpa permisi, duduk di ruang tamu hati kita, mengubah letak furnitur jiwa, lalu membuat kita merasa rumah ini berbeda.”
Dadank terdiam.
Angin membawa aroma laut yang begitu kuat.
Laras melanjutkan kata-katanya,
“Kita sering mengira kitalah yang memilih cinta. Padahal sering kali cintalah yang memilih pintu mana yang akan diketuk.”
“Dan kalau kita menolak membukanya?”
“Maka kita akan mendengar ketukan itu sepanjang hidup kita.”
Sejak hari itu Dadank mulai memahami sesuatu. Bahwa cinta bukanlah petir yang membelah langit. Ia lebih mirip akar pohon yang tumbuh diam-diam di bawah tanah. Ketika kita menyadarinya, seluruh lanskap hati kita telah berubah.
Cinta memang datang tanpa suara. Tanpa pengumuman. Tanpa kontrak. Tanpa jaminan. Cinta datang seperti fajar yang tidak pernah meminta izin kepada malam.
Namun hidup tidak pernah menulis cerita cinta hanya dengan tinta kebahagiaan. Suatu hari Dadank harus pergi ke kota yang jauh.
Di Bandara Internasional itu, pesawat telah menunggu. Waktu berangkatnya sepertinya tak mau bernegosiasi. Laras dan Dadank berdiri dalam diam.
Sepertinya ada kalimat-kalimat yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
“Apa kau takut?” tanya Laras.
“Takut kehilangan.”
Laras menggeleng pelan.
“Kita tidak pernah memiliki siapa pun untuk kehilangan.”
“Lalu apa yang kita miliki?”
“Kehadiran.”
Dadank menatapnya.
Laras tersenyum, meski matanya mulai basah.
“Cinta memang bukan tentang memiliki bunga. Cinta adalah bersyukur karena pernah mencium harumnya.”
“Terdengar menyedihkan.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena yang paling menyedihkan bukanlah perpisahan.”
“Lalu apa?”
“Tidak pernah mencintai karena takut berpisah.”
Panggilan terakhir penumpang pesawat bergema. Seperti sebuah bab yang perlahan ditutup.
Bertahun-tahun kemudian, Dadank masih sering mengingat percakapan itu. Ia akhirnya mengerti bahwa cinta tak pernah meminta izin sebelum datang.
Cinta menerobos masuk ke dalam hidup kita, seperti hujan yang menemukan celah di atap tua. Kadang membawa kebahagiaan. Kadang membawa luka. Namun selalu membawa perubahan.
Di suatu senja yang tenang, Laras berbisik kepada angin,
“Mengapa cinta datang tanpa permisi?”
Dan dunia seolah menjawabnya melalui desir daun-daun:
“Karena seandainya cinta harus menunggu izin, maka manusia akan terlalu sibuk membangun tembok menghalanginya.”
Laras tersenyum.
Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa cinta bukanlah tentang siapa yang tinggal selamanya. Cinta adalah tentang siapa yang mengajarkan kita bahwa hati ternyata lebih luas daripada ketakutan akan kehilangam.
Dan …
Seperti matahari yang tak pernah meminta persetujuan bumi untuk terbit. Cinta datang dengan caranya sendiri. Ia datang tanpa permisi. Ia datang diam-diam, sederhana, dan tak bisa dihindari.
Setelah hadir, ia mengubah seluruh peta jiwa kita menjadi negeri yang baru. Weleh, weleh, weleh.













