Kolom Fiam Mustamin
SIAPAKAH sosok petarung ini, dan bagaimana ia menaklukkan hidup di masa yang cenderung mengabaikan proses kerja dan reso demi memperoleh hasil secara cepat?
Sesuatu yang mengabaikan proses dan akal sehat adalah laku penuh spekulasi, berjibaku dalam untung-untungan, melabrak banyak rambu yang tidak lazim. Misalnya, menciptakan kesalahpahaman yang saling memperdaya dan memangsa.
Adakah kita menemukan hal seperti itu di lingkungan saat ini?
Judul ini mengingatkan pada sejumlah senior yang menulis esai-esai kritis, memperolok laku tersebut agar ditertawakan sekaligus direnungi.
Petarung itu bernama Zulfikar Yunus.
APA yang dilakukannya?
Adakah ia seorang yang memiliki kuasa di pemerintahan atau politikus? Bukan.
Ia hanyalah seorang penulis dan editor yang menghimpun sejumlah naskah yang terserak, lalu mengumpulkannya menjadi buku. Di antaranya naskah-naskah Rahman Arge yang kemudian menjadi buku Permainan Kekuasaan (2007), serta karya-karya Husni Djamaluddin.
Atau melalui riset bersama untuk menggambarkan sosok seorang ibu menjadi kisah inspiratif: Daeng Siang Sang Penerang (2011).
Sang petarung itu diperkenalkan oleh Rahman Arge untuk menggarap bukunya, yang naskahnya selama puluhan tahun berserakan di sejumlah surat kabar harian dan majalah di Jakarta, selain di Makassar. Dibutuhkan nyali dan kesabaran untuk menghimpunnya kembali.
Sejak itulah saya dekat dengan adik Zul, begitu saya menyapanya.
Dari membaca ratusan tema tulisan Rahman Arge, kami juga sering mengutip lakon-lakon khusus yang ditampilkan dalam narasinya tentang ketangguhan dan keperkasaan Itolok dan Daeng Gassing, lelaki Bugis Makassar, hingga pemujaan kepada perempuan-perempuan bertalenta seperti Daeng Kanang, Daeng Kebo, Daeng Bunga, dan Daeng Baji.
Melalui buku Permainan Kekuasaan itu, saya menemukan bahwa masih ada generasi yang memiliki nyali hidup dalam kesederhanaan, yang tidak mencari zona nyaman atau jalan pintas tanpa tantangan kerja keras dan kecerdasan.
Tantangan itu sesungguhnya adalah jalan untuk menemukan makna dari sebuah proses.
Hal ini hendaknya menjadi renungan dalam kehidupan, mulai dari lingkungan terkecil keluarga hingga lingkungan masyarakat. Khususnya bagi mereka yang memperoleh amanah menjadi pejabat publik di lembaga negara.













