Alimuddin, Buku dan Manifesto Keikhlasan di Tanah Turatea

0
52
- Advertisement -

Alimuddin, Buku dan Manifesto Keikhlasan di Tanah Turatea

Kolom Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi Nasional dan Penulis
Karakter orang Turatea laksana pohon lontar: ia tumbuh di tanah yang kering, menantang angin badai yang kencang, akan tetapi tetap mampu menghasilkan manisnya nira yang memberi kehidupan. Dari rahim sosiologis yang keras, namun sarat kehormatan inilah, kerinduan akan persatuan dan kemajuan itu lahir untuk kemudian berkecambah. Demikian diksi penulis tentang Dr.H.Alimuddin, S.H.M.H.M.Kn. dalam bukunya berjudul” Berlayar di Lautan Pengabdian, 10 Tahun Kerukunan Keluarga Turatea dalam Memori”.

Dan, setiap tanah kelahiran menorehkan ceritanya sendiri, yang digubah oleh angin, dirawat oleh waktu, dan dihidupi oleh garis takdir manusia-manusia di dalamnya. Bagi kita yang berdarah Turatea, Jeneponto, bukan sekadar hamparan rupa bumi yang membentang di pesisir selatan Sulawesi Selatan. Ia adalah rahim spiritual. Pun adalah tanah tempat plasenta kita ditanam, tempat keringat para leluhur mengering bersama asinnya garam, tempat bagi kuda-kuda meringkik tentang kehidupan, kawasan berteduh bagi pohon lontar selain tempat keteguhan prinsip hidup ditempa laksana baja di bawah terik matahari yang membakar sabana.

Di satu sisi, lembaran statistik kerap mencatat Jeneponto dalam daftar daerah tertinggal; sebuah fakta getir yang menuntut kita untuk tidak berkutat pasrah pada keadaan. Di sisi lain, tanah ini adalah produsen manusia-manusia tangguh yang tidak pernah tunduk pada nasib.

Diaspora warga Turatea yang bergerak keluar dari tanah kelahiran, menyebar ke seluruh penjuru Nusantara, membawa serta rindu dendam yang sama. Di tanah perantauan, mereka memikul harapan untuk mengubah nasib, namun di dalam dada mereka, denyut nadi Jeneponto tidak pernah berhenti berdetak. Kebutuhan akan sebuah payung pelindung, sebuah rumah singgah, dan sebuah panggung bersama di tanah rantau memicu lahirnya Kerukunan Keluarga Turatea (KKT). ​Organisasi ini bukan semata-mata kumpulan primordialisme, namun adalah paguyuban untuk melepas rindu antarpenduduk sekampung, melainkan sebuah wahana perjuangan ideologis untuk mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan kolektif warga Turatea, di mana pun kaki mereka berpijak.

Bagi Alimuddin, menakhodai kapal besar seperti KKT selama sepuluh tahun bukanlah perjalanan di atas air yang tenang. Dengan bentangan anggota yang luar biasa heterogen, mulai dari kaum akademisi yang merawat nalar, para pengusaha yang dinamis, birokrat yang patuh pada sistem, hingga seniman, budayawan, penulis dan aktivis yang sarat dengan idealisme; konflik ego sektoral adalah sebuah keniscayaan yang mengintai di setiap sudut rapat.

Memimpin wadah ini, bagi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan nyaris 18 tahun dari Dapil Kabupaten Jeneponto, Bantaeng dan Selayar ini, membutuhkan lebih dari cukup kecerdasan manajerial atau kalkulasi politik. Ia menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang melampaui segala teori kepemimpinan modern: sebuah investasi keikhlasan.

Buku Alimuddin, 10 Tahun Memimpin Kerukunan Keluarga Turatea dalam Memori, ini bukan melulu catatan kronologis tentang perjalanan sebuah organisasi kemasyarakatan, bukan pula sebuah medium untuk memamerkan deretan piala pencapaian personal. Catatan-catatan dalam halaman demi halaman di depan adalah sebuah refleksi, sebuah kesaksian, dan sebuah pertanggungjawaban moral atas manifesto pengabdian satu dekade yang dijalankan dengan ketulusan hati dan antusiasme.

Ketika amanah kepemimpinan itu diletakkan di pundak Dr. H. Alimuddin, S.H., M.H., M.Kn. melalui Mubes KKT, ia sadar betul bahwa modal sosial terbesar yang ia miliki bukanlah kekuasaan politik atau kelimpahan materi, melainkan kesiapan untuk memosisikan diri sebagai pelayan bagi warganya sendiri. Ya, pemimpin yang bijak dan paripurna tak lain adalah seorang pelayan. Peran esetorisnya mirip seperti Nabi.

Melalui narasi dalam bukunya ini, ia mengajak pembaca menyelami bagaimana roda KKT digerakkan dari sebuah organisasi yang awalnya bersifat sentralistik dan lokal, hingga kini menjelma menjadi kekuatan nasional yang disegani dengan berdirinya berbagai Pengurus Wilayah dan Cabang baru di seantero Indonesia.

Pembaca juga akan melihat bagaimana filosofi luhur Bugis-Makassar, “Sipakatua Sipakala’biri”—Saling memanusiakan dan saling menghormati secara mulia, bukan sekadar dijadikan slogan pajangan di dinding sekretariat, melainkan diejawantahkan dalam aksi sosial nyata yang menyentuh akar rumput. ​Mulai dari menembus lumpur banjir bandang di Jeneponto, membasuh luka korban kebakaran di Makassar, hingga secara senyap membuka jembatan pendidikan bagi puluhan anak muda Turatea untuk meraih gelar sarjana dan doktor mereka.

Di tengah kesibukan Alimuddin menyelami dunia politik praktis yang kerap diidentikkan dengan pragmatisme, KKT adalah oase spiritualnya. Di dalam rumah besar KKT, Alimuddin belajar untuk menanggalkan seluruh baju golongan, warna partai, dan kepentingan pribadi. Di hadapan warga Turatea, sosok ini adalah anak kandung daerah yang berdiri tegak dengan kerendahan hati, berusaha menempatkan diri seutuhnya sebagai cermin dari penderitaan dan harapan masyarakat.

Tulisan ini adalah pintu gerbang untuk membaca bagaimana sepenggal keikhlasan, jika dirawat secara konsisten selama sepuluh tahun, mampu mengubah jalannya sejarah sebuah organisasi. Harapan Alimudin, goresan kisah dalam bukunya ini dapat menjadi kompas penunjuk jalan bagi generasi muda Turatea di masa depan.

Sebuah pembuktian bahwa putra-putri Jeneponto mampu dan layak diperhitungkan di kancah panggung nasional, tanpa pernah kehilangan akar kulturalnya. Mari kita buka lembaran ini dengan keyakinan yang sama, bahwa dengan kebersamaan, saling menghargai, dan ikatan keikhlasan yang kokoh, tidak ada tanah yang terlalu kering untuk menumbuhkan kejayaan. Salam Literasi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here