Jejak Kemanusiaan dalam Warisan Peradaban Suku Makassar di Sulawesi Selatan

0
89
- Advertisement -

Oleh Syamsu Salewangang Dg Gajang (BPN IKK Gowa)

Suku Makassar di Sulawesi Selatan meninggalkan warisan budaya yang kental dengan nilai-nilai kemanusiaan, disamping spiritualitas, intelektualitas dan leadership. Nilai-nilai itu masih hidup dan dengan mudah dijumpai sampai sekarang dalam adat, bahasa, dan cara mereka berinteraksi.

1. Sirik na Pacce: Harga Diri dan Empati
Sirik berarti harga diri, malu berbuat tercela, dan menjaga kehormatan diri serta keluarga. Pacce artinya empati, rasa pedih melihat orang lain menderita. Kombinasi keduanya membentuk manusia Makassar yang tegas tapi berempati. Karena ada sirik melekat, maka orang Makassar selalu terdorong untuk berbuat benar dan membela kebenaran. Karena punya pacce, maka mereka peka menolong sesama yang sedang kesusahan tanpa diminta dan tanpa pamrih. Prinsip hidup inilah yang menjadikan orang-orang Makassar akan selalu berupaya memberikan kemanfaatan bagi sesama tanpa mengenal latar belakang darimana berasal.

2. Sipakatau: Memanusiakan Manusia
Falsafah ini secara harfiah berarti “saling memanusiakan”. Intinya: hormati orang lain sebagai manusia seutuhnya, bukan dari status atau harta. Dalam pergaulan orang Makassar, sipakatau terlihat dari cara menyapa, mendahulukan tamu, dan tidak merendahkan orang lain di depan umum serta menghormati yang lebih tua atau dituakan. Ini sejatinya adalah pondasi anti-diskriminasi yang sudah ada jauh sebelum istilah modern muncul. Dalam pergaulan sehari-hari, cara menyapa selalu mengedepankan semangat memuliakan orang lain misalnya dengan sapaan iyek, kita/katte, bahkan panggilan Daeng disematkan kepada profesi sebagai bentuk pemuliaan kepada manusianya misalnya Daeng Becak atau sapaan Daeng kepada orang yang belum kenal sebelumnya, dan lain-lainya. Hal ini pula terbenam pada peristiwa kedatangan orang-orang Melayu di wilayah Kerajaan Gowa Tallo dimasa pemerintahan Raja Gowa ke-10, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga yang dengan atas pertimbangan kemanusiaan, beliau mengizinkan orang-orang Melayu tinggal bermukim di wilayahnya dengan sebuah maklumat “tedongku lagi punna lekbaki anjama battalak nakusare pammarimariang, apaseng ka parangku rupa tau” yang artinya sedangkan kerbauku saja bila sudah bekerja, harus saya berikan tempat istirahat, apalagi sesama manusia, wajiblah bagi saya memberikannya tempat tinggal dalam wilayah kerajaanku. Pesan kemanusiaan ini begitu sarat akan makna, yang kemudian diwariskan dalam peradaban Makassar hingga kini.

3. Sipakalakbiri: Saling Memuliakan
Kalau sipakatau fokusnya menghormati sebagai manusia, sipakalakbiri fokusnya memberi penghargaan lebih. Dalam tradisi, tamu selalu didahulukan, orang tua disapa paling awal, dan setiap orang diberi ruang bicara. Praktik ini melatih masyarakat untuk tidak egois dan menumbuhkan rasa aman dalam komunitas.

4. Lambusuk na Tagang: Kejujuran dan Konsistensi
Lambusuk na Tagang artinya jujur, lurus, dan bisa dipegang ucapannya. Bagi orang Makassar, janji adalah hutang. Nilai ini menjaga kepercayaan sosial. Pedagang Makassar dulu dikenal luas di Nusantara karena reputasi Lambusuk na Tagang. Orang mau berdagang jauh karena tahu mereka tidak akan ditipu.

5. Gotong Royong dalam Adat “A’galang”
Saat ada hajatan, pembangunan rumah, atau musibah, budaya a’galang secara otomatis berjalan. Warga berbondong datang membawa tenaga, bahan, atau makanan tanpa dihitung. Ini wujud pacce (empati) yang nyata. Tidak ada istilah “urusan saya, urusan kamu”. Penderitaan satu orang dianggap penderitaan bersama.

Warisan ini menunjukkan peradaban Makassar bukan hanya soal kerajaan Gowa-Tallo atau kapal Pinisi. Inti terbesarnya ada pada cara memperlakukan manusia. Sirik menjaga marwah, pacce menumbuhkan empati, sipakatau dan sipakalakbiri menjaga relasi, lambusuk na tagang menjaga kepercayaan.

Kebagusan, 24 Juni 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here