Iyek Daeng, Iyek Karaeng Bagi Orang Makassar, Bukan Sekadar Setuju, Tapi Penyerahan Diri

0
91
- Advertisement -

Syamsu Salewangang Daeng Gajang    (BPN IKK Gowa)

Bagi orang Makassar, ucapan “Iyek Daeng” apalagi “Iyek Karaeng” artinya tidak hanya sekadar penanda setuju atau “iya” atau “siap”. Akan tetapi lebih dari pada itu. Memiliki bobot yang berbeda, tidak hanya keluar dari mulut tapi juga dari hati dan ada rasa takzim menyertainya. Begitu pula bagi pihak yang menerima sapaan Iyek Daeng atau Iyek Karaeng, kepadanya memiliki tanggungjawab moral sebagai pihak yang melindungi dan mengayomi. Begitulah adab orang-orang Makassar dalam berinteraksi dalam tatanan sosial yang diwarisinya sebagai bagian dari peradaban.

1. Lebih dari kata “iya”
“Iyek” yang dalam bahasa Indonesia berarti “iya”. Tapi begitu disambung dengan sapaan “Daeng” atau “Karaeng”, maknanya dengan sendirinya naik level. Daeng itu sapaan untuk orang yang dihormati, dituakan, atau dianggap punya wibawa. Karaeng nilainya lebih tinggi lagi, gelar bangsawan. Jadi “Iyek Daeng” bukan cuma “iya kak”, tapi “baik, saya patuh pada orang yang saya hormati”.

2. Bentuk penyerahan diri yang halus
Dalam peradaban suku Makassar, berbicara kasar itu sama halnya dengan menurunkan derajat diri sendiri. Karena itulah orang Makassar menggunakan bahasa berlapis dengan makna-makna yang secara tradisi telah menjadi norma yang berlaku dalam tatanan sosial. Saat orang Makassar mengucapkan “Iyek Karaeng” ke orang tua, guru, atau pimpinan, itu artinya: “Saya menaruh kendali keputusan di tangan Ta. Saya percaya”. Ini bentuk ikrar kesetiaan dan kepatuhan yang tulus tanpa ada unsur paksaan.

Karena itulah bagi orang tua Makassar kalau mendengar anaknya menjawab “Iyek Daeng” dengan nada datar, mereka langsung tahu bahwa anaknya belum benar-benar tunduk, patuh, taat dan sepenuhnya setuju. Nada, mimik, dan sikap dalam interaksi sosial selalu ikut bicara dalam porsi signifikan.

3. Falsafah Siri’ di dalamnya
“Iyek Daeng” lahir dari siri’ (harga diri). Karena memiliki siri’, maka orang Makassar rela merendahkan diri dan hati terlebih dahulu di hadapan orang yang lebih tua atau dituakan karena berilmu, pemimpin, dan lain-lain. Tujuannya bukanlah menjadi pengikut yang buta dan bodoh. Akan tetapi dimaksudkan agar ilmu, restu, dan barakka (berkah) mengalir. Setelah makna “Iyek Daeng” telah berada pada proporsi yang tepat, barulah interaksi dan ruang diskusi dapat berjalan dengan baik dan cair.

Jadi siapapun yang mengucapkan dan menerima ungkapan “Iyek Daeng” atau “Iyek Karaeng” maka kedua pihak sudah sama-sama tahu dan paham bahwa kalimat itu bermakna hormat, amanah, dan janji untuk bersama menjaga marwah dan martabat. Begitulah warisan peradaban suku Makassar menata normanya dalam interaksi antar manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia.

Kebagusan, 2 Juli 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here