BAK, Sang Literasi yang Menolak Menyerah

0
30
- Advertisement -

Oleh Herman Lilo
Pengamat Politik dan Penggiat Literasi Media

Ada sesuatu yang menarik ketika membaca buku Literasi Jalan Hidupku: Catatan dari Lorong Sunyi, Iqra, Pena dan Maros Surga Literasi, karya Bachtiar Adnan Kusuma (BAK). Buku setebal 312 halaman ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang membaca, menulis, perpustakaan, dan gerakan literasi. Ia adalah rekaman perjalanan seorang penulis, pejuang kata-kata yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan hidup.

Di tengah bangsa yang terus berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi, buku ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan, yakni pembangunan manusia.

Bukankah kemajuan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari panjang jalan raya, megahnya gedung pemerintahan, atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ada ukuran lain yang jauh lebih mendasar, yakni seberapa jauh masyarakatnya melek literasi, mampu membaca, berpikir, memahami persoalan, dan melahirkan gagasan.

World Bank mendefinisikan literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis dengan pemahaman. Dalam pengertian yang lebih luas, literasi tidak berhenti pada pengenalan huruf, tetapi mencakup kemampuan memahami teks sederhana, berkomunikasi melalui tulisan, serta mengakses informasi secara mandiri. Dengan demikian, literasi bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan fondasi bagi manusia untuk mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Dari perspektif inilah kita memahami mengapa gerakan literasi menjadi begitu penting bagi Indonesia yang masih menempati rangking yang rendah di dunia. Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak orang yang bisa membaca, melainkan apakah kemampuan membaca itu telah tumbuh menjadi kebiasaan berpikir, budaya belajar, dan kekuatan untuk mengubah kehidupan.
Literasi Menjadi Arah Pembangunan

Salah satu bagian paling menarik dari buku ini adalah bagaimana BAK mengabadikan transformasi Kabupaten Maros menjadi daerah yang menempatkan literasi sebagai bagian penting pembangunan manusia.

Maros tidak sedang membangun identitas literasi melalui slogan dan seremoni.
Ada ikhtiar kebijakan yang berusaha menjadikan membaca dan menulis sebagai gerakan bersama yakni regulasi Perda Pembudayaan Literasi. Di sinilah peran Bupati Maros, Dr. H.A.S. Chaidir Syam, menjadi amat urgen.
Sejak awal kepemimpinannya, Chaidir Syam menunjukkan keberpihakan terhadap gerakan pembudayaan literasi. Kampanye membaca dan menulis tidak ditempatkan sebagai program pelengkap, tetapi menjadi bagian dari gagasan besar pembangunan sumber daya manusia dalam visi dan arah kebijakan daerah.
Pada priode pertama bersama wakilnya Tina Bohari berlanjut priode kedua bersama Wakil Bupati Muetazim Mansyur, berbagai program kemudian digerakkan. Mulai dari Peraturan Daerah tentang Literasi, pembentukan Tim Pendamping Literasi Daerah, penguatan Bunda Literasi hingga tingkat desa dan kelurahan, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, perpustakaan desa, perpustakaan masjid, hingga gerakan wakaf buku bagi aparatur sipil negara.

Tidak berhenti di situ. Program Sekolah Menulis Maros Keren dan gerakan guru menulis yang dilaksanakan sejak 2022 telah melahirkan ratusan guru penulis buku. Gerakan membaca dan menulis juga diperluas kepada para siswa, masyarakat, majelis taklim, dan lingkungan keluarga.

Bahkan, gagasan Gerakan Ibu Membacakan Buku kepada Anak Sebelum Tidur menjadi pesan penting bahwa pembangunan literasi tidak harus dimulai dari gedung perpustakaan yang megah. Ia bisa bermula dari kamar tidur, dari pangkuan seorang ibu, dari cerita sederhana sebelum anak memejamkan mata.

Disini, harus dicatat bahwa peran besar bunda literasi, Ulfiah Chaidir Syam menggerakan perempuan mulai dari desa, kecamatan dan di segala sektor membantu menyalakan cahaya literasi.

Usaha tidak mendustai hasil, pada tahun 2024 Kabupaten Maros mencapai Tingkat Kegemaran Membaca sebesar 90,94 persen, tertinggi di Sulawesi Selatan. Angka tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan gerakan literasi yang dibangun melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, perpustakaan, pelapak buku, pegiat literasi, bunda literasi, GPMB, dan masyarakat.
Maros kemudian tumbuh sebagai salah satu contoh daerah yang berhasil menempatkan literasi dalam percakapan pembangunan. Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI yang diterima Chaidir Syam pada 2022 semakin memperkuat pengakuan terhadap keberpihakan kepemimpinannya pada dunia perpustakaan dan budaya baca.

BAK, Sang Arsitek Literasi yang Menolak Menyerah

Namun, ada satu sosok yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang gerakan literasi Sulsel, Indonesia dan juga Maros: Bachtiar Adnan Kusuma alias BAK. Ia bukan sekadar penulis yang produktif menghasilkan buku. Ia adalah tokoh penggerak, konseptor, motivator, sekaligus arsitek penting yang ikut merancang dan menyemai gagasan gerakan literasi di berbagai daerah di Sulsel, Sultra, Bali dan DKI Jakarta juga Maros. Melalui pemikiran, tulisan, pendampingan, dan kerja kolaboratif, ia membantu menerjemahkan gagasan besar literasi menjadi gerakan yang dapat disentuh masyarakat.

Pengabdiannya mendapatkan pengakuan nasional melalui Nugra Jasa Dharma Pustaloka, penghargaan Tertinggi Perpustakaan Nasional RI di bidang perpustakaan dan literasi.Tetapi, penghargaan itu bukanlah awal perjuangannya, sebab BAK telah meraih itu sebelum terjun di palagan bumi literasi di berbagai daerah.

Perjalanan BAK adalah jalan pedang yang berliku. Ia harus bertahan di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjadikan buku sebagai kebutuhan hidup. Ketika kebiasaan membaca berhadapan dengan derasnya arus hiburan audiovisual, ketika halaman buku harus bersaing dengan layar gawai, dan ketika perhatian manusia semakin mudah direbut oleh algoritma media sosial, BAK tetap memilih jalan yang tidak selalu ramai peminat itu.

Ia seperti seorang pejuang yang hanya menggenggam bambu runcing ketika berhadapan dengan meriam teknologi modern. Senjatanya sederhana: buku, pena, gagasan, dan ketekunan. Namun, ia tidak mundur.

Sementara dunia bergerak semakin cepat, BAK justru terus mengajak orang berhenti sejenak dan memanfaatkan waktu untuk membaca, merenung, dan menulis. Ia mendatangi sekolah, desa, masjid, kampus, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan melakukan wakaf buku. Ia mengajak guru menulis buku, pustakawan mengembangkan perpustakaan, orang tua membangun budaya baca di rumah, serta generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan.

Di sinilah kemenangan BAK menemukan maknanya. Bukan kemenangan atas seseorang, melainkan kemenangan atas keputusasaan, keterbatasan akses buku, dan anggapan bahwa budaya membaca sudah kehilangan tempat di tengah kemajuan teknologi.

Indonesia Berliterasi, Pekerjaan yang Belum Selesai

Buku ini juga menyampaikan kegelisahan tentang masa depan literasi Indonesia. Kita hidup dalam zaman ketika informasi berlimpah, tetapi kedalaman pemahaman justru sering kali tertinggal. Masyarakat dapat mengakses ribuan informasi melalui telepon genggam, tetapi belum tentu mampu membedakan pengetahuan, opini, manipulasi, dan kebohongan. Apalagi keterlibatan artificial intelligence yang sarat dengan produk deepfake dan konten sintetis.

Karena itu, literasi hari ini tidak cukup hanya mengajarkan orang membaca buku.

Masyarakat juga harus memiliki kemampuan membaca realitas, memahami informasi digital, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pengetahuan.
Tentu, perjalanan itu belum selesai. Penghargaan bukan garis akhir. Angka kegemaran membaca bukan alasan untuk berpuas diri. Tantangan berikutnya adalah memastikan perpustakaan tetap hidup, buku bermutu semakin mudah dijangkau, anak-anak tumbuh bersama buku, dan tradisi menulis menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Buku, Literasi Jalan Hidupku bukan hanya bercerita tentang BAK. Pula, menawarkan sebuah pesan bagi Indonesia: peradaban tidak lahir hanya dari kecanggihan teknologi, tetapi dari manusia yang memiliki pengetahuan, kedalaman berpikir, dan kesanggupan mewariskan gagasan.

BAK telah memilih jalannya. Chaidir Syam telah memberikan ruang kebijakan. Maros telah memperlihatkan hasil sebuah kolaborasi.
Kini, pekerjaan besar itu menjadi tanggung jawab kita bersama.

Sebab, membangun jalan raya mungkin membutuhkan anggaran dan waktu. Membangun gedung mungkin membutuhkan arsitek dan teknologi. Namun, membangun peradaban membutuhkan manusia yang mau membaca, berpikir, dan menulis. Jika ingin membangun peradaban, sumbunya adalah buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here