Oleh HM. Yasin Azis
Seringkali kita mendengar kalimat bahwa hidup ini hanyalah sementara. Namun, di balik kesementaraan itu, ada sebuah hakikat yang mutlak: dunia adalah satu-satunya jembatan menuju keabadian. Tak seorang pun manusia bisa menginjakkan kaki di surga tanpa terlebih dahulu melewati ujian dan kehadiran di bumi.
Dalam sebuah ungkapan ulama, al-dunya mazra’atul akhirah—dunia adalah ladang tempat kita menanam, sedangkan akhirat adalah tempat kita memanen hasilnya. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”
Dunia tidak boleh ditinggalkan, melainkan harus diisi sebagai ruang bersiap.
Meskipun dalam pandangan Allah waktu hidup kita sangatlah singkat, sebagai manusia yang menjalaninya, kita dituntut untuk hadir sepenuhnya dan merasa cukup (qana’ah) di setiap fasenya. Allah telah menyusun garis waktu yang indah untuk setiap jiwa: ada masa bayi yang suci, masa remaja yang penuh pencarian, masa dewasa yang menuntut perjuangan dan tanggung jawab, hingga masa lansia tempat kita merenung dan bersiap untuk pulang.
Rasulullah SAW memberikan panduan terbaik tentang bagaimana menyikapi waktu hidup yang singkat ini. Dalam sebuah hadits legendaris dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah memegang pundaknya dan bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”
Lalu Ibnu Umar menambahkan nasihat berharga: “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang mati-mu.” (HR. Bukhari).
Tugas kita bukanlah mengeluhkan waktu yang cepat berlalu, melainkan mensyukuri porsi amal di setiap anak tangga usia tersebut.
Dalam menjalani fase-fase ini, ada satu rambu pembatas yang seringkali dilanggar manusia: ego yang melampaui batas makhluk. Kita harus sadar di mana posisi kita berdiri.
Jangan pernah mengambil area malaikat. Tugas mencatat amal, menghitung dosa, atau menghakimi kesalehan seseorang bukanlah urusan kita. Terlebih lagi, jangan pernah lancang mengambil area Allah.
Menentukan siapa yang berhak atas surga dan neraka, atau mendikte takdir, adalah hak prerogatif mutlak Sang Pencipta. Kita diingatkan dalam Al-Qur’an bahwa otoritas pembalasan itu murni milik-Nya: “Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26).
Tugas kita sebagai hamba hanyalah taat, berikhtiar, dan berserah diri secara total.
Terakhir, mari kita periksa kembali bagaimana cara kita memandang kesementaraan ini. Mengatakan “hidup ini hanya sementara” jangan sampai melahirkan sikap pasrah yang pesimis atau keputusasaan. Kata-kata yang keluar dari lisan kita adalah doa yang mengetuk pintu langit. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu optimis melalui lisannya, sebagaimana beliau bersabda: “Aku menyukai al-fa’lu (optimisme/perkataan yang baik).” (HR. Bukhari & Muslim). Jika kita terus berucap dengan nada pesimis, maka perbuatan kita pun akan ikut melemah.
Seharusnya, kesadaran bahwa hidup ini singkat memicu optimisme yang membara. Karena waktu kita terbatas, setiap detik menjadi sangat berharga untuk mengumpulkan bekal. Mari ubah ucapan kita menjadi energi positif, karena di setiap kata yang baik, ada doa yang sedang menuntun kita menuju kepulangan yang indah.














