Oleh Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi Nasional, Mentor Gerakan Literasi Santri
Tidak banyak tokoh pemimpin yang memiliki kemampuan dan kesempatan menulis, merekam sejumput perjalanan pengabdiannya memimpin sebuah institusi Negara yang di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Selain karena kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi jabatan seseorang, seberapa banyak program yang dilahirkan, atau seberapa besar kewenangan yang dimiliki. Lebih jauh dari itu, kepemimpinan diuji melalui jejak pengabdian, kebermanfaatan, dan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.
Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mampu memberikan perintah, melainkan juga bersedia melayani, mendengar, merangkul, dan bekerja bersama. Ungkapan sederhana yang terngiang di telinga H. Mansur tengan tulisan buku yang diurai guru dan santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Pasar Wajo, Kabupaten Buton inilah yang menggugah dan memberi inspirasi menulis buku bertajuk” Menjaga Harmoni, Menggerakkan Transformasi, Catatan Perjalanan Satu Tahun Kepemimpinan Kerja Bersama, Ikhtiar Cepat Mengimplementasi Asta Protas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara”.
Perspektif inilah yang menarik untuk membaca perjalanan setahun H. Mansur, S.Pd., M.A., memimpin Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara. Sejak menerima amanah pada 12 November 2025, H. Mansur menempatkan penguatan pelayanan publik, kerukunan umat beragama, peningkatan mutu pendidikan, dan transformasi tata kelola sebagai fondasi pengabdiannya.
Setahun kepemimpinannya menjadi momentum untuk melihat bagaimana gagasan besar Kementerian Agama melalui Asta Protas Kemenag Berdampak diterjemahkan menjadi agenda kerja di tingkat daerah.
Dari Guru Menuju Pemimpin
Perjalanan H. Mansur memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan bukan sesuatu yang hadir secara instan. Ia tumbuh melalui proses panjang, pengalaman, kedisiplinan, dan kesediaan mengabdi dari bawah.
Pada 1997, H. Mansur mengawali pengabdiannya sebagai guru fisika di MAN 1 Baubau. Dari ruang kelas, ia mengenal denyut dunia pendidikan, memahami persoalan guru, berinteraksi dengan peserta didik, sekaligus menyaksikan bagaimana lembaga pendidikan agama berkontribusi membangun masa depan generasi bangsa.
Kepercayaan demi kepercayaan kemudian mengantarkannya menempati berbagai posisi strategis hingga akhirnya memperoleh amanah sebagai Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara.
Pengalaman panjang tersebut menjadi modal sosial dan kepemimpinan yang penting. Ia tidak datang hanya membawa kewenangan birokrasi, tetapi juga pengalaman lapangan yang membentuk perspektifnya tentang pelayanan dan pengelolaan organisasi.
Dalam teori kepemimpinan modern, pendekatan yang dikembangkan H. Mansur memiliki kedekatan dengan konsep servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. Robert K. Greenleaf memperkenalkan gagasan ini dengan menempatkan pelayanan sebagai inti kepemimpinan. Seorang pemimpin sejatinya hadir untuk membantu orang lain tumbuh, berkembang, dan mencapai tujuan bersama.
Dalam konteks Kemenag, pendekatan tersebut menemukan relevansinya. Kementerian Agama bukan sekadar institusi administratif, melainkan representasi kehadiran negara dalam menjamin pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh masyarakat.
Asta Protas sebagai Agenda Transformasi
Salah satu pijakan penting kepemimpinan H. Mansur adalah menerjemahkan delapan program prioritas atau Asta Protas Kemenag Berdampak ke dalam budaya kerja organisasi.
Delapan agenda tersebut mencakup peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan, penguatan ekoteologi, layanan keagamaan berdampak, pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi, pemberdayaan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, pemberdayaan rumah ibadah, serta digitalisasi tata kelola.
Kedelapan agenda tersebut tidak cukup berhenti sebagai dokumen perencanaan atau slogan birokrasi. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap program memiliki keluaran, manfaat, dan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang kolaboratif. H. Mansur mendorong keterlibatan seluruh jajaran Kemenag, pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga masyarakat, dan kalangan akademisi.
Pendekatan ini memperlihatkan kesadaran bahwa pembangunan kehidupan keagamaan tidak mungkin dikerjakan oleh satu institusi secara sendirian.
Kerukunan, misalnya, tidak cukup dibangun melalui kegiatan seremonial. Ia membutuhkan dialog, kepercayaan sosial, komunikasi lintas agama, dan kesediaan merawat perbedaan.
Begitu pula pemberdayaan ekonomi umat yang membutuhkan sinergi antara lembaga keagamaan, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat.
Dalam perspektif modal sosial Robert Putnam, kepercayaan, jejaring, dan norma kerja sama merupakan kekuatan penting yang memungkinkan masyarakat bergerak mencapai tujuan bersama. Karena itu, kolaborasi yang dibangun dalam kepemimpinan H. Mansur menjadi salah satu prasyarat penting bagi keberhasilan transformasi kelembagaan.
Spiritualitas dan Profesionalisme
Hal menarik lainnya dari kepemimpinan H. Mansur adalah upayanya mempertemukan pendekatan ilahiah dengan pendekatan akal.
Pendekatan ilahiah menempatkan kesadaran bahwa setiap pekerjaan merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Kesadaran spiritual ini diharapkan melahirkan kejujuran, integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Sementara itu, pendekatan akal diwujudkan melalui profesionalisme dan inovasi. Profesionalisme menuntut aparatur bekerja sesuai kompetensi, standar pelayanan, dan ketentuan yang berlaku. Adapun inovasi mengharuskan birokrasi terus memperbaiki diri, meninggalkan pola kerja yang tidak produktif, serta berani menghadirkan terobosan.
Keduanya merupakan perpaduan yang relevan. Spiritualitas tanpa profesionalisme berisiko berhenti sebagai kesalehan personal, sedangkan profesionalisme tanpa integritas dapat kehilangan orientasi moral.
Rasulullah saw. mengingatkan dalam hadis riwayat Sahih Muslim: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.” (HR Muslim).
Pesan ihsan tersebut mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dalam birokrasi pelayanan publik, ihsan dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang cepat, tepat, ramah, transparan, dan bertanggung jawab.
Karena itu, gagasan H. Mansur mengenai penguatan tata kelola internal berbasis digital menjadi penting. Digitalisasi bukan sekadar memindahkan dokumen ke layar komputer, melainkan membangun sistem kerja yang transparan, efisien, terukur, dan meminimalkan peluang penyimpangan, termasuk korupsi dan pungutan liar. Agenda ini sekaligus memperkuat ikhtiar mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).
Menulis untuk Meninggalkan Jejak
Di tengah kesibukan memimpin institusi dengan cakupan tugas yang luas, H. Mansur masih menyempatkan diri menulis buku berjudul Menjaga Harmoni Menggerakkan Transformasi: Catatan Setahun Perjalanan Kepemimpinan, Kerja Sama, serta Ikhtiar Cepat Mengimplementasikan Asta Protas di Kanwil Kemenag Sultra.
Bagi saya, kehadiran buku ini memiliki makna tersendiri dalam pengembangan budaya literasi di Sulawesi Tenggara. Menulis merupakan cara seorang pemimpin mendokumentasikan gagasan, merekam pengalaman, sekaligus mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebab, jabatan memiliki batas waktu, tetapi gagasan dan pemikiran yang terdokumentasi dapat melampaui masa jabatan. Buku tersebut juga menjadi ruang refleksi untuk membaca perjalanan organisasi, memahami tantangan, dan mengevaluasi langkah-langkah transformasi yang telah ditempuh.
Tentu, sebuah buku kepemimpinan tidak cukup hanya menjadi catatan keberhasilan. Ia juga perlu menjadi instrumen evaluasi agar setiap gagasan dapat diuji melalui capaian dan dampak nyata.
Pada akhirnya, rapor setahun kepemimpinan H. Mansur patut dibaca sebagai sebuah proses membangun fondasi transformasi. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata banyaknya program yang terlaksana, melainkan sejauh mana pelayanan semakin berkualitas, kerukunan semakin terawat, pendidikan semakin maju, dan tata kelola semakin berintegritas.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ath-Thabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Ausath).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa hakikat pengabdian seorang pemimpin adalah menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi sesama.
Kepada H. Mansur, selamat menapaki perjalanan pengabdian berikutnya. Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan untuk istiqamah menjaga harmoni dan menggerakkan transformasi Kemenag Sulawesi Tenggara. Sebab, pemimpin boleh berganti, jabatan boleh berakhir, tetapi jejak kebaikan dan kebermanfaatan semestinya tetap hidup di tengah masyarakat.














