Andi Djalal Latief Ketua BPW KKSS Banten & Anggota Satgas Pendidikan BPP KKSS
Setengah Abad Sebuah Perjalanan
Setengah abad bukan waktu yang singkat. Dalam rentang lima puluh tahun, sebuah organisasi dapat mengalami pergantian generasi, perubahan kepemimpinan, perubahan lingkungan sosial, perkembangan ekonomi, serta lompatan teknologi yang mengubah cara manusia berkomunikasi dan membangun hubungan. Namun, ada sesuatu yang membuat sebuah organisasi tetap dikenali meskipun zaman berubah: nilai yang menjadi alasan organisasi itu lahir dan terus dibutuhkan.
Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) didirikan di Jakarta pada tanggal 12 November 1976 sebagai wadah kekeluargaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan di perantauan. Deklarasi pendirian KKSS berlangsung di Kantor Bank Marannu, Jalan Hayam Wuruk No. 33, Jakarta Pusat, dan dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat Sulawesi Selatan.
Kelahiran KKSS tidak dapat dilepaskan dari realitas masyarakat Sulawesi Selatan yang telah lama dikenal dengan tradisi merantau. Ketika berada jauh dari tanah asal, kebutuhan untuk tetap terhubung dengan sesama, saling membantu, menjaga identitas, dan membangun rasa kebersamaan menjadi semakin penting.
Kajian tentang masyarakat Sulawesi Selatan di perantauan juga mencatat bahwa KKSS sejak awal diarahkan untuk membangun solidaritas warga Sulawesi Selatan yang tinggal di luar daerah asalnya. Dengan demikian, sejak awal KKSS bukan hanya dibangun sebagai struktur organisasi, melainkan juga sebagai ruang persaudaraan. Dan mungkin justru di situlah letak kekuatan paling mendasar dari perjalanan KKSS selama setengah abad.
Organisasi dapat berubah, struktur dapat berkembang, teknologi dapat berganti, dan generasi pun silih berganti. Tetapi, kebutuhan manusia untuk memiliki keluarga, persaudaraan, identitas, dan tempat untuk saling peduli tidak pernah hilang. Karena itu, ketika KKSS memasuki usia setengah abad, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apa yang telah dilakukan KKSS selama 50 tahun?”, melainkan pertanyaan yang jauh lebih besar: “Apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya?” Sebab, setiap generasi tidak hanya menerima warisan, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk menentukan warisan seperti apa yang akan diteruskannya.
Dalam semangat itulah, perjalanan KKSS setelah setengah abad dapat dilihat melalui tiga kata kunci: merawat warisan, menjawab zaman, dan menyiapkan masa depan.
Merawat Warisan
KKSS lahir dari semangat kekeluargaan dan kebutuhan untuk menjaga hubungan antarsesama masyarakat Sulawesi Selatan di perantauan. Selama lima puluh tahun, semangat itu tumbuh dalam berbagai bentuk kegiatan sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, dan kemasyarakatan. Namun, akar KKSS jauh lebih dalam daripada organisasi itu sendiri.
Masyarakat Sulawesi Selatan membawa warisan nilai yang telah hidup jauh sebelum KKSS berdiri. Ada siri’ na pacce yang mengandung makna martabat sekaligus kepedulian; sipakatau yang mengajarkan penghormatan terhadap sesama manusia; sipakalebbi yang menumbuhkan sikap saling menghargai; serta sipakainge yang mengandung keberanian untuk saling mengingatkan. Ada pula semangat sompe’—keberanian untuk meninggalkan tempat asal, mencari peluang, membangun kehidupan di tempat baru, dan tetap membawa nilai yang melekat pada diri. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari kekuatan masyarakat Sulawesi Selatan.
Karena itu, merawat warisan bukan berarti sekadar mengenang masa lalu, melainkan memastikan nilai tersebut tetap hidup dalam kehidupan generasi saat ini dan yang akan datang. Warisan bukan sekadar sesuatu yang disimpan; warisan adalah sesuatu yang dipedomani. Siri’ na pacce tidak cukup disebut dalam pidato, sipakatau tidak cukup menjadi slogan, serta sipakalebbi dan sipakainge tidak cukup menjadi ungkapan yang diulang dalam berbagai kesempatan. Nilai menjadi warisan apabila hadir dalam perilaku, keputusan, hubungan antarsesama, dan cara organisasi menjalankan tanggung jawabnya.
Karena itu, tugas KKSS setelah setengah abad bukan hanya mempertahankan apa yang telah ada, melainkan juga terus menghidupkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya dalam konteks kehidupan yang terus berubah.
Menjawab Zaman
Dunia yang melahirkan KKSS tentu berbeda dengan dunia yang kita hadapi sekarang. Lima puluh tahun lalu, jarak merupakan hambatan besar. Informasi tidak mudah diperoleh, komunikasi membutuhkan waktu, dan hubungan sosial sangat bergantung pada pertemuan langsung serta jaringan yang dibangun secara bertahap.
Kini, batas-batas tersebut semakin tipis. Teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, berdagang, memperoleh informasi, dan membangun jaringan. Seseorang dapat tinggal jauh dari kampung halaman tetapi tetap berhubungan secara intens dengan keluarga dan komunitasnya. Perubahan tersebut terus bergulir; kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) merupakan salah satu contoh nyata betapa cepatnya perkembangan teknologi saat ini.
Kehadiran AI terbukti mampu membantu manusia dalam mengolah informasi, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama. Namun, AI hanyalah bagian kecil dari transformasi yang lebih besar. Tantangan sebenarnya terletak pada perubahan cara manusia hidup dan berinteraksi. Oleh karena itu, KKSS tidak perlu memosisikan diri sebagai organisasi teknologi.
Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa KKSS tidak tertinggal dari perubahan yang memengaruhi kehidupan anggotanya. Generasi yang tumbuh pada masa lalu memiliki pengalaman dan cara pandang tertentu, sementara generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital memiliki kebutuhan yang berbeda, dan generasi berikutnya mungkin akan menghadapi tantangan yang bahkan belum kita kenal hari ini. Organisasi yang ingin bertahan lama tidak dapat hanya mempertahankan cara kerja masa lalu. Yang harus dipertahankan adalah nilainya, sementara cara mencapainya harus terus diperbarui.
Nilai Lama, Konteks Baru
Ada kecenderungan untuk menganggap modernitas sebagai sesuatu yang harus menggantikan tradisi. Padahal tidak demikian. Justru ketika perubahan berlangsung semakin cepat, manusia semakin membutuhkan nilai-nilai yang dapat menjadi kompas.
Meskipun teknologi mampu mempercepat arus komunikasi, hal tersebut tidak menentukan cara manusia menghormati sesamanya. Teknologi dapat membantu mengambil keputusan, tetapi tanggung jawab moral tetap berada pada manusia. Teknologi juga dapat mempertemukan orang dari berbagai penjuru dunia, tetapi tidak otomatis menciptakan rasa saling peduli. Di sinilah siri’ na pacce, sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge memperoleh relevansinya yang baru. Semakin cepat informasi beredar, semakin penting kemampuan untuk saling mengingatkan; semakin mudah manusia berkomunikasi, semakin penting kemampuan untuk saling menghormati; dan semakin kuat persaingan, semakin penting kepedulian terhadap sesama.
Dengan demikian, nilai budaya tidak menjadi kurang penting karena dunia semakin modern. Justru karena dunia semakin modern, nilai-nilai menjadi semakin penting.
Dari Organisasi Kegiatan Menjadi Organisasi Pengetahuan
Salah satu perubahan yang layak dipikirkan oleh KKSS adalah cara memandang kegiatan organisasi. Hal ini sangat penting karena melalui kegiatan organisasi hadir dan memberikan manfaat nyata. Namun, keberhasilan organisasi tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang dipelajari dari kegiatan tersebut ?.
Sebuah kegiatan sosial dapat menghasilkan pengetahuan tentang kebutuhan masyarakat, sebuah diskusi melahirkan gagasan, kegiatan budaya mendokumentasikan praktik yang mulai jarang dilakukan, dan pertemuan menghasilkan jejaring baru. Jika pengalaman tersebut hanya berhenti pada laporan pertanggungjawaban, sebagian besar nilai pembelajaran organisasi akan hilang. KKSS perlu membangun memori kelembagaan. Dokumentasi, pengalaman, gagasan, praktik baik, dan pembelajaran dari perjalanan organisasi harus dapat diwariskan dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikutnya.
Teknologi dapat membantu proses tersebut, tetapi prinsipnya sederhana: jangan biarkan organisasi selalu memulai dari nol setiap kali kepengurusan berganti. Organisasi yang kuat bukan hanya organisasi yang banyak bergerak, melainkan organisasi yang mampu belajar dari apa yang telah dilakukannya.
Dari Anggota Menjadi Jaringan Potensi
KKSS memiliki kekuatan besar karena anggotanya tersebar luas di berbagai bidang kehidupan. Di dalam keluarga besar KKSS terdapat akademisi, profesional, pengusaha, dokter, insinyur, pendidik, seniman, pekerja kreatif, birokrat, teknolog, tokoh masyarakat, dan generasi muda dengan kompetensi yang beragam.
Potensi tersebut akan menjadi jauh lebih besar jika saling terhubung. Seorang anak muda yang membutuhkan mentor dapat menemukan mentor yang tepat, seorang pengusaha yang membutuhkan mitra dapat menemukan jaringan yang sesuai, dan program sosial yang membutuhkan keahlian tertentu dapat menggerakkan anggota yang memiliki kompetensi tersebut. Melalui cara pandang itu, keanggotaan bukan sekadar angka di atas kertas. Anggota adalah potensi, hubungan adalah modal, dan kolaborasi adalah kekuatan. KKSS dapat bergerak dari sekadar memiliki daftar nama anggota menuju terbentuknya jaringan pengetahuan, kompetensi, dan kepedulian.
Budaya yang Hidup di Tengah Perubahan
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah pengembangan bidang kebudayaan. Pelestarian budaya sering kali hanya dipahami sebatas merawat warisan masa lalu. Padahal, budaya yang hanya disimpan tanpa dihidupkan rentan kehilangan jiwanya. Bahasa, cerita rakyat, sejarah keluarga, seni, adat, ungkapan, dan pengetahuan tradisional perlu terus digunakan, dipahami, dan diwariskan.
Dalam hal ini, teknologi dapat menjadi akselerator: sejarah lisan dapat didokumentasikan, arsip keluarga didigitalisasi, pengetahuan budaya diperkenalkan kepada generasi muda dalam bentuk yang lebih relevan, serta bahasa daerah dikembangkan dan dihadirkan di ruang digital. Melalui pemanfaatan teknologi bahasa dan AI secara bijaksana, bahasa yang terdokumentasi dengan baik memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang dalam ekosistem masa depan. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, tantangannya bukan sekadar memastikan bahasa dan budaya tidak hilang, melainkan memastikan bahwa generasi masa depan masih merasa bahwa bahasa dan budaya tersebut merupakan bagian yang hidup dari identitas mereka. Karena itu, pelestarian budaya perlu bergerak dari sekadar menyimpan menuju menghidupkan—budaya harus diwariskan, sekaligus terus berkembang.
Semangat Sompe’ dalam Dunia yang Baru
Semangat sompe’ merupakan salah satu kekuatan penting dalam sejarah masyarakat Sulawesi Selatan. Merantau mengajarkan keberanian menghadapi ketidakpastian, kemampuan beradaptasi, mencari peluang, membangun jaringan, serta memulai kehidupan di tempat baru. Semangat tersebut tetap relevan, meskipun bentuk perantauannya telah berubah.
Hari ini, seseorang tidak selalu harus menempuh perjalanan fisik melintasi lautan untuk memasuki dunia baru; ia dapat memasuki pasar baru, bidang ilmu baru, teknologi baru, atau jejaring global baru. Dunia usaha juga mengalami pergeseran radikal: pelaku usaha berhadapan dengan pasar digital, konsumen yang berubah cepat, persaingan lintas wilayah, serta berbagai model bisnis baru. Karena itu, semangat saudagar perlu diterjemahkan kembali menjadi kemampuan untuk membaca perubahan, merebut peluang, membangun jejaring, dan terus belajar. Teknologi memang dapat membantu, tetapi keberanian, integritas, kerja keras, dan kemampuan membangun kepercayaan tetap menjadi fondasi utamanya. Semangat sompe’ dengan demikian tidak hanya berbicara tentang meninggalkan kampung halaman, melainkan juga tentang keberanian untuk bergerak ketika dunia berubah.
Generasi Muda Bukan Sekadar Penerus
Setelah setengah abad, pertanyaan mengenai regenerasi menjadi semakin mendesak. Sering kali kita mengatakan, “Generasi muda adalah penerus KKSS.” Kalimat itu benar, tetapi belum cukup. Generasi muda bukan sekadar penerus; mereka adalah perancang KKSS berikutnya.
Generasi senior membawa pengalaman, sejarah, nilai-nilai, keteladanan, dan jejaring yang sangat berharga. Generasi muda membawa kreativitas, kemampuan memanfaatkan teknologi, cara berpikir baru, dan keberanian untuk menjelajahi ranah yang belum pernah ditekuni sebelumnya. Keduanya tidak seharusnya berjarak. Regenerasi bukan sekadar pergantian susunan pengurus, melainkan proses mempertemukan kearifan pengalaman dengan energi gagasan baru.
Karena itu, generasi muda perlu diberi ruang seluas-luasnya untuk menciptakan program, memimpin inisiatif, bereksperimen, dan mengembangkan cara baru dalam menjalankan organisasi. Pada saat yang sama, generasi muda juga perlu memperoleh kesempatan untuk belajar dari mereka yang telah lebih dahulu menempuh perjalanan panjang. Generasi senior membawa akar, sementara generasi muda membawa arah baru. Keduanya mutlak dibutuhkan agar pohon KKSS tetap tumbuh teguh.
Dari Paguyuban Menjadi Ekosistem
KKSS akan selalu mengemban fungsi dasarnya sebagai ruang persaudaraan. Namun, makna paguyuban tersebut dapat diperluas. KKSS dapat menjadi tempat silaturahmi sekaligus pusat pengetahuan, dapat menjaga budaya sekaligus mendorong inovasi, memperkuat hubungan sosial sekaligus membangun jaringan profesional, serta menjadi ruang kebersamaan sekaligus membuka peluang ekonomi dan pendidikan. Dengan kata lain, KKSS dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem persaudaraan, pengetahuan, budaya, dan kontribusi.
Bukan berarti KKSS harus menjadi organisasi yang rumit. Strukturnya boleh sederhana, tetapi jejaringnya kuat; kegiatannya boleh beragam, tetapi memiliki arah yang jelas; dan teknologinya boleh berkembang pesat, tetapi tetap tunduk pada nilai-nilai luhur dan kebutuhan kemanusiaan.
Menyiapkan Masa Depan
Masa depan tidak hadir sekaligus. Melainkan dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang diambil secara konsisten. Karena itu, setelah setengah abad, KKSS tidak harus melakukan perombakan radikal dalam segala hal sekaligus, melainkan melangkah melalui beberapa arah yang jelas: Pertama, memperkuat pengetahuan dan memori kelembagaan agar pengalaman tidak hilang seiring pergantian generasi.
Kedua, memperkuat jejaring anggota, sehingga potensi yang tersebar luas dapat saling terhubung dan saling menguatkan.
Ketiga, memperluas ruang bagi generasi muda, bukan hanya sebagai peserta pelengkap, melainkan sebagai pencipta gagasan.
Keempat, memperkuat pelestarian dan pengembangan budaya, termasuk melalui pemanfaatan teknologi yang adaptif.
Kelima, memperkuat dan memperluas jejaring ekonomi dan kewirausahaan agar semangat saudagar dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman modern.
Keenam, memperkuat pemahaman digital dan daya adaptasi warga KKSS agar tidak sekadar menjadi penonton perubahan, melainkan mampu memanfaatkannya untuk ikut berkontribusi.
Semua itu tidak harus dilakukan secara instan. Hal yang paling krusial adalah keberanian untuk melangkah, kesiapan untuk terus belajar, serta konsistensi untuk bertahan—sebab ide cemerlang tanpa realisasi tidak akan menghasilkan apa-apa
Warisan untuk Generasi yang Belum Lahir
Lima puluh tahun ke depan masih menjadi wilayah yang penuh ketidakpastian. Kita tidak tahu persis teknologi apa yang akan digunakan, seperti apa bentuk pekerjaan kelak, bagaimana masyarakat akan berkomunikasi, atau tantangan apa yang akan dihadapi oleh generasi yang belum lahir. Namun, kita dapat menentukan sesuatu yang jauh lebih esensial: nilai-nilai apa yang ingin kita wariskan kepada mereka.
Kita dapat memastikan bahwa mereka menerima lebih dari sekadar nama suatu organisasi. Kita dapat mewariskan persaudaraan, kepedulian, budaya, pengetahuan, jejaring, serta keberanian beradaptasi. Dan yang terpenting, kita dapat mewariskan sebuah pesan yang abadi: perubahan tidak perlu ditakuti selama kita memiliki akar yang kuat dan keberanian untuk bergerak.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi yang telah berusia setengah abad tidak hanya diukur dari seberapa lama ia mampu bertahan. Ukuran yang lebih tinggi adalah kemampuannya untuk memberikan alasan bagi generasi berikutnya untuk tetap percaya bahwa organisasi tersebut bernilai penting. KKSS tidak harus menjadi organisasi yang paling modern atau paling besar; KKSS perlu menjadi organisasi yang relevan, bermanfaat, berakar pada nilai-nilai, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Itulah tantangan besar setelah setengah abad: merawat warisan agar tidak hilang, menjawab zaman agar tidak tertinggal, serta menyiapkan masa depan agar generasi berikutnya tidak perlu memulai semuanya dari nol.
Pada akhirnya, setiap generasi hanyalah sebagian dari perjalanan panjang. Kita menerima KKSS dari generasi sebelumnya dalam keadaan tertentu; kita menjalaninya di zaman kita sendiri, dan pada gilirannya nanti, kita akan menyerahkannya kepada generasi yang meneruskannya. Karena itu, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan hanya “Apa yang telah kita terima?”, melainkan “Apa yang telah kita tambahkan?” dan lebih jauh lagi, “Apa yang akan kita tinggalkan?”
Itulah makna sesungguhnya dari perjalanan setengah abad. KKSS bukan sekadar warisan masa lalu; KKSS adalah amanah untuk masa depan.













