TSUNAMI EKONOMI

0
59
- Advertisement -

Kolom Andi Wahida – Tuan Guru Sulaiman

Dunia diperkirakan akan menghadapi apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “tsunami ekonomi”. Sistem keuangan global diprediksi mengalami perubahan besar. Dalam situasi seperti itu, sektor-sektor dasar kehidupan—seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan, diperkirakan menjadi penopang utama bagi masyarakat untuk bertahan.

Dalam konteks ini, langkah pemerintah memperluas pencetakan sawah di Papua dapat dipandang sebagai kebijakan strategis. Selain memperkuat ketahanan pangan nasional, kebijakan ini juga memberi dampak langsung bagi masyarakat Papua agar dapat memperoleh beras dengan harga yang lebih terjangkau, tentu tanpa meminggirkan makanan lokal Papua yang penuh gizi yaitu sagu.

Untuk menghadapi kemungkinan konflik global yang berkepanjangan, berbagai inisiatif seperti Koperasi Merah Putih dan program MBG perlu dikelola oleh pihak yang tepat, sekaligus mendorong lahirnya Gerakan Kembali ke Desa (GKD). Melalui gerakan ini, masyarakat didorong untuk kembali mengembangkan potensi desa, sehingga partisipasi rakyat semakin luas dan pada akhirnya dapat menumbuhkan ekonomi kerakyatan yang kuat dan mandiri.

Jika upaya ini berjalan dengan baik, maka ketergantungan pada sistem ekonomi yang dikuasai oleh kapitalisme, liberalisme, maupun oligarki dapat perlahan dikurangi. Dengan demikian, bangsa ini akan lebih siap menghadapi potensi konflik global maupun guncangan ekonomi di masa depan.

Hal ini tentu memerlukan pengelolaan yang serius dan melibatkan generasi muda, terutama para lulusan perguruan tinggi yang saat ini banyak menghadapi keterbatasan lapangan kerja. Mereka dapat diberikan pembekalan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) yang dikelola oleh Dinas Tenaga Kerja di setiap provinsi, kemudian diarahkan untuk bekerja sama dengan gerakan koperasi dan pengembangan ekonomi desa.

Banyak analis memprediksi bahwa konflik global di masa depan bisa berlangsung lama—minimal satu tahun, bahkan mungkin hingga satu dekade. Selain konflik geopolitik, dunia juga dihadapkan pada potensi bencana alam yang bisa terjadi kapan saja tanpa diduga.

Ketegangan antarnegara yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari persoalan agama, perebutan wilayah, hingga sumber daya alam, terus meningkat. Setiap negara berupaya menyelamatkan rakyatnya agar tetap dapat hidup layak, sehingga berbagai strategi ditempuh untuk memperkuat ketahanan nasional masing-masing.

Sejarah menunjukkan bahwa situasi serupa pernah terjadi berabad-abad lalu. Sekitar 500 tahun yang lalu, pada tahun 1527, berbagai konflik dan perebutan kekuasaan turut memicu perubahan besar di berbagai wilayah, termasuk di Nusantara.

Pertanyaannya, apakah kita sudah siap menghadapi kemungkinan situasi serupa di masa kini?

Pada masa lalu, peperangan telah menghancurkan banyak kerajaan di Nusantara hingga akhirnya jatuh ke tangan penjajah. Bangsa ini kemudian mengalami masa panjang penjajahan yang membuat masyarakat terkungkung, tertinggal, dan kehilangan banyak kekuatan sosial serta kulturalnya.

Karena itu, penting bagi kita untuk belajar dari sejarah. Alih-alih hanya saling mengkritik tanpa arah, kita perlu memikirkan solusi nyata untuk menghadapi kemungkinan tsunami ekonomi yang mungkin datang.
Saatnya bangsa ini memperkuat kemandirian ekonomi, menghidupkan kembali potensi desa, serta membangun sistem ekonomi yang berakar pada kekuatan rakyat. Dengan begitu, Indonesia dapat lebih siap menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here