Jejak Kecendikiawanan dalam Warisan Peradaban Suku Makassar di Sulawesi Selatan

0
72
- Advertisement -

Syamsu Salewangang Daeng Gajang    (BPN IKK Gowa)

Suku Makassar sering diingat orang karena keberanian pelautnya yang telah berhasil menjangkau pantai utara Australia jauh sebelum bangsa Inggris menjadikannya sebagai koloni pada abad ke 18, dan masa-masa kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo. Tapi kalau kita menelisik lebih dalam, ada jejak kecendikiawanan (intelektualitas) yang sejatinya telah menjadi fondasi peradabannya. Kecerdasan itu bukan hanya soal perang dan perdagangan. Ia hidup dalam sistem, naskah, dan cara orang Makassar memaknai dunia.

1. Lontara: Universitas Kertas
Orang Makassar memiliki aksara yang dikenal dengan Lontara Makassar. Bukan sekadar huruf, tapi mesin pencatat peradaban. Di daun lontar itu mereka menulis _patturioloang_ atau sejarah kerajaan, _sureq_ berisi hukum adat, ilmu pelayaran, astronomi, sampai _pappasang_ atau petuah-petuah bijak.

Bayangkan saja tanpa kertas impor, mereka sudah mampu mencatat arsip negara dan peristiwa-peristiwa penting baik yang terjadi di dalam wilayah kerajaan maupun di wilayah sahabat. Naskah Lontara Gowa-Tallo mencatat silsilah, perjanjian, bahkan prediksi gerhana. Ini merupakan bukti logika ilmiah sudah dilenal jauh sebelum buku cetak masuk. Pappasangna Karaeng Pattingalloang misalnya, berisi tentang falsafah kepemimpinan yang masih relevan hingga kini. Contoh: ikatte tu makgauka bage appaki wattunnu, sipammempoang siagang panritana aheraka, paklinoanga, tumabuttaya siagang pole pammanakannu. Artinya sebagai pemimpin, hendaknya membagi waktunya dalam empat bagian yaitu bergaul dengan para ulama, para cendikiawan, rakyat kebanyakan dan keluarga inti atau sanak famili.

2. Hukum dan Etika: Adat yang Sistematis
Orang Makassar memiliki pangadakkang sistem hukum adat yang rapi. Ada Siri’ na Pacce sebagai kompas moral. Siri’ sebagai harga diri, malu berbuat tercelah. Pacce empati, ikut merasakan penderitaan orang lain. Dua kata ini menjadi etika sosial yang mengatur hubungan individu, keluarga, hingga urusan publik/negara.

Ini kecendikiawanan sosial. Mereka memahami bahwa negara kuat bukan cuma karena memiliki tentara dan angkatan perang, akan tetapi karena warganya memiliki rasa malu berbuat tercela dan rasa peduli yang tinggi terhadap sesama. Hukum adat Makassar bahkan mengatur tata niaga, waris, hingga sanksi laut. Semua tertulis dan dihafal para _kali_ dan gallarang

3. Ilmu Bahari: Matematika Tanpa Rumus
Pelaut Makassar bisa ke Australia ratusan tahun sebelum orang Eropa. Bagaimana bisa? Karena mereka menguasai astronomi, arus laut, arah angin, dan bentuk bintang. Ilmu itu diwariskan lisan dan lewat _panrita_ serta _punggawa_ kapal. Mereka menghitung musim menggunakan bintang _Bintoéng Timoro_ dan _Bintoéng Bara_.

Itu sains praktis. Tanpa GPS, mereka membuat peta samudra. Kapal _pinisi_ sendiri adalah karya teknik: desain lambungnya aerodinamis, cocok untuk angin kencang. Itu merupakan hasil eksperimen turun-temurun, bukan suatu kebetulan.

4. Filsafat Hidup: Makkusiang
Di balik kerasnya siri’ ada ajaran akkusiang’ — tunduk hanya kepada Yang Maha Tinggi. Kecendikiawanan Makassar selalu menaruh logika di bawah nilai spiritual. Maka ilmu dipakai untuk mensejahterakan, bukan menindas. Salah seorang Raja Gowa pernah berpesan : “Anak cucu harus tau, kerajaan ini besar karena adil, bukan karena angkuh”.

Penutup
Warisan Makassar bukan hanya benteng Somba Opu atau kapal pinisi dan peninggalan benda-benda lainnya. Warisan paling kokohnya adalah cara berpikir: mencatat, menghukum dengan adil, berlayar dengan ilmu, dan hidup dengan _siri’_. Jejak kecendikiawanan itu masih ada, tersimpan di naskah Lontara, di petuah nenek, dan di keberanian anak Makassar hari ini untuk belajar.

Kalau aksara Lontara dijaga dan pappasang diamalkan, maka peradaban ini tidak akan punah. Ia hanya sedang menunggu generasi baru untuk membacanya lagi.

Kebagusan, 17 Juni 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here