PINISI.co.id- Tim Orange tampil sebagai juara dalam pertandingan persahabatan Fourfeo Phinisi FC yang berlangsung di Stadion Tugu, Jakarta Utara, Rabu (4 November 2026). Kegiatan ini mempertemukan komunitas sepak bola perantau asal Sulawesi Selatan yang bermukim di Jabodetabek dan Banten.
Phinisi FC merupakan wadah silaturahmi para pencinta sepak bola asal Sulawesi Selatan. Nama Phinisi diambil dari kapal tradisional yang menjadi mahakarya warisan nenek moyang dan simbol ketangguhan masyarakat Sulawesi Selatan sebagai bangsa pelaut. Kapal Phinisi telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage) pada 7 Desember 2017.
Phinisi FC lahir pada Juni 2018, bertepatan dengan penyelenggaraan Liga Ramadan di Lapangan Bea Cukai, Jakarta. Komunitas ini diprakarsai oleh Ophan Lamara, Marwal Iskandar, Faisal, Harun, Marwal, Hairul, Taufik, Zulkarnain Sidik dan Nasrun.
Kini, Phinisi FC memiliki lebih dari 300 anggota, yang sebagian besar juga merupakan anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).
KKSS sendiri akan memasuki usia ke-50 pada November 2026. Organisasi kemasyarakatan ini menaungi warga keturunan Sulawesi Selatan, keluarga mereka, serta masyarakat yang memiliki simpati dan kepedulian terhadap budaya Sulawesi Selatan.
Dalam ketentuan keanggotaannya, KKSS mengenal tiga kategori, yakni Anggota Biasa, Anggota Luar Biasa, dan Anggota Kehormatan. Anggota Biasa mencakup WNI maupun WNA keturunan Sulawesi Selatan, termasuk suami, istri, dan anak-anak mereka.
Anggota Luar Biasa adalah mereka yang memiliki simpati terhadap budaya Sulawesi Selatan atau pernah berdomisili di wilayah tersebut dan menyatakan keinginan menjadi anggota KKSS. Sementara Anggota Kehormatan diberikan kepada mereka yang dinilai berjasa bagi organisasi maupun kemajuan pembangunan Sulawesi Selatan.
Saat ini, Phinisi FC dipimpin Harun Arsyad dengan berbagai program kegiatan. Salah satunya adalah Fourfeo, pertandingan internal yang mempertemukan empat tim, yakni Putih, Merah, Kuning, dan Orange.
Selain pertandingan internal, Phinisi FC rutin menggelar laga persahabatan dengan klub-klub sepak bola di Jabodetabek dan Banten. Ada pula program tahunan “Tour Pulang Kampung”, yakni kunjungan ke Sulawesi Selatan untuk bertanding dengan sejumlah tim lokal, termasuk PSM All Star.
Pada Juli 2026, Phinisi FC kembali menggelar tur ke Sulawesi Selatan selama hampir dua pekan, sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas sepak bola di kampung halaman.
Dalam Fourfeo akhir tahun yang berlangsung Rabu (4/11), masing-masing tim dikomandani oleh figur yang memiliki pengalaman panjang di dunia sepak bola. Tim Putih dipimpin Harun, Tim Kuning oleh Rustam (Legenda Persija), Tim Merah oleh Endrik, serta Tim Orange oleh Yugos dan Asikin (Legenda Warna Agung).
Setiap pertandingan berlangsung selama 1 x 25 menit. Pada laga pertama, Tim Putih berhasil mengalahkan Tim Merah. Sementara pada pertandingan kedua, Tim Orange menundukkan Tim Kuning dan melaju ke final menghadapi Tim Putih.
Partai final dipimpin wasit Khairul Agil, yang pernah bertugas sebagai wasit internasional dan anggota Komisi Disiplin PSSI.
Pertandingan puncak berlangsung ketat dengan jual beli serangan. Tim Putih yang diperkuat sejumlah pemain terbaik Phinisi FC tampil agresif. Namun, kokohnya pertahanan Tim Orange dan kecemerlangan kipernya membuat Tim Putih hanya mampu mencetak satu gol.
Di sisi lain, Tim Orange tampil kompak dengan skema serangan balik yang efektif dan mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Pahlawan kemenangan Tim Orange adalah Muskab Muzakkar yang mencetak dua gol atau brace.
Rekan-rekannya bahkan menjulukinya “Maradonanya Phinisi FC”. Salah satu golnya tercipta melalui aksi memutar yang begitu indah, membuat kiper Tim Putih hanya terpana tanpa mampu mengantisipasi bola.
Hingga peluit akhir dibunyikan, Tim Orange memastikan kemenangan dengan skor 2-1 sekaligus keluar sebagai juara Fourfeo Phinisi FC. Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Bagi Phinisi FC, kegiatan ini bukan semata-mata mengejar kemenangan. Lebih dari itu, sepak bola menjadi sarana menjaga kesehatan, menikmati kebersamaan, dan memperkuat tali silaturahmi di antara para perantau Sulawesi Selatan.
Dengan latar belakang, profesi, dan pengalaman sepak bola yang beragam—termasuk sejumlah anggota yang pernah menjadi legenda di klub-klub ternama Liga Indonesia—mereka tetap bersatu dalam satu wadah persaudaraan.
Di perantauan, Phinisi FC menjadi tempat para anggotanya saling menjaga, berkomunikasi, memperkokoh persahabatan, dan merawat persaudaraan.
Semangat kebersamaan itu sejalan dengan nilai-nilai KKSS yang terus mengikat warga Sulawesi Selatan di mana pun berada.
Selamat HUT ke-50 KKSS. Semoga semakin maju, jaya, dan terus menjadi rumah besar yang mempererat persaudaraan serta memberi manfaat bagi bangsa dan negara. Phinisi FC: berbeda tim, satu persaudaraan, satu keluarga besar KKSS. (Mus)













