PINISI.co.id- Bagi para purnabakti dan mereka yang telah memasuki kategori lansia muda, hidup tak lagi dipenuhi ambisi dan keinginan besar. Yang tersisa justru hal-hal sederhana yaitu hiburan ringan, canda tawa, dan kesempatan merajut kembali kenangan lama yang pernah mengisi masa muda mereka.
Gambaran itu terasa begitu hidup dalam gelaran halalbihalal keluarga besar IKB PPSP Wilayah DAJ yang berlangsung pada Ahad (19/4) di Cafe Tanah Air, kawasan TVRI Jakarta. Acara ini lebih dari sekadar ajang temu kangen, tetapi menjadi ruang hangat bagi mereka yang ingin sejenak kembali ke masa lalu, pada masa remaja yang telah lama lewat.
Seperti diketahui, SMA PPSP IKIP Ujungpandang adalah sebuah institusi yang kini telah tiada, namun jejaknya tetap hidup dalam ingatan para lulusannya. Tak heran apabila mereka bersua, sontak meluapkan kegembiraan dan suka cita.
Para peserta yang didominasi oleh alumni angkatan 1975 hingga 1988 tampak larut dalam suasana penuh keakraban. Meski latar belakang sosial berbeda, namun gelak tawa pecah di sana-sini, obrolan ringan mengalir tanpa beban, dan kenangan lama dihidupkan kembali dengan penuh rasa haru. Pas betul dengan tema “Sucikan Hati di Hari yang Fitri dengan Silaturahmi”.
Seiring waktu, jumlah mereka memang semakin menyusut, mengikuti hukum alam yang tak terelakkan. Namun justru karena itulah, setiap pertemuan menjadi semakin berharga. Timbul kesadaran bahwa kelak suatu hari nanti, kisah-kisah ini hanya akan tinggal sebagai bagian dari sejarah.

Berbeda dengan acara formal pada umumnya, halalbihalal DAJ nyaris tanpa seremoni panjang dan pidato bertele-tele. Para opa oma ini seakan telah “kebal” terhadap apa yang mereka sebut sebagai inflasi omon-omon. Yang mereka butuhkan bukanlah kata-kata, melainkan, kedekatan, kebersamaan, dan kegembiraan yang tulus.
Tak heran jika acara lebih banyak diisi dengan hiburan yang dinyanyikan secara bergantian mewakili angkatan masing-masing. Lagu-lagu lawas mengalun, mengiringi penyanyi seraya berjoget bersama. Meski usia tak lagi muda, semangat bermusik mereka masih terasa kuat. Setiap lirik yang dinyanyikan seolah menjadi pengingat waktu yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Pidato yang ada pun berlangsung singkat dan ringan. Ketua DAJ, Ikhsan Gaffar sekadar menyampaikan kabar kebersamaan, sementara Hamid Tayo menyinggung rencana perjalanan wisata. Selebihnya, suasana dibiarkan mengalir dalam bentuk hiburan dan interaksi hangat antar sesama.
Waktu yang terasa singkat seolah tak cukup untuk menuntaskan rindu yang telah lama tertahan. Namun demikian, ikatan kekeluargaan dalam komunitas DAJ tetap terjaga kuat. Hal itu terlihat dari partisipasi mereka yang tak bisa hadir secara langsung. Buat yang sudah wafat, diwakili istrinya, ada pula yang mengirimkan perwakilan melalui anaknya, selain ada yang menitipkan kado pengganti diri, atau sekadar menyampaikan salam penuh haru dari kejauhan.
Pada intinya halalbihalal DAJ bukan hanya tentang berkumpul, tetapi tentang merawat kenangan, menjaga tali persaudaraan, dan menemukan kembali kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Di tengah perjalanan usia yang kian menua, tawa dan kebersamaan menjadi cara paling jujur untuk merayakan hidup.
“Semoga pertemuan silaturahmi menjadi sesuatu yang baik dan mendatangkan keberkahan. Sehat selalu untuk semuanya, sampai ketemu di agenda berikutnya,” ucap Ikhsan Gaffar dengan lirih. (Alif)













