Jejak Kepemimpinan dalam Warisan Peradaban Suku Makassar di Sulawesi Selatan

0
76
- Advertisement -

Jejak Kepemimpinan dalam Warisan Peradaban Suku Makassar di Sulawesi Selatan

Oleh Syamsu Salewangang Daeng Gajang (BPN IKK Gowa)

Peradaban suku Makassar di Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari sistem kepemimpinannya. Nilai kepemimpinan mereka tumbuh dari laut, tanah, dan adat yang diwariskan turun-temurun. Jejaknya masih terasa sampai hari ini, baik dalam struktur sosial maupun karakter orang Makassar.

1. Konsep Karaeng: Pemimpin sebagai Pelindung
Kata “Karaeng” bukan sekadar gelar bangsawan. Maknanya adalah “yang dimuliakan karena mengayomi”. Pemimpin Makassar dipahami sebagai _tau malakbiri (orang mulia) yang tugas utamanya melindungi rakyat, menjaga _siri’ na pacce_ yaitu harga diri dan rasa empati. Karena itu legitimasi seorang karaeng diukur dari keberaniannya membela kebenaran di segala medan, termasuk di medan perang dan kebijakannya yang selalu berlandaskann pacce (empati) di saat damai.

2. Sistem Pemerintahan Gowa-Tallo: Dua Raja Satu Rakyat/Negara
Kerajaan Gowa-Tallo menjadi bukti nyata kepemimpinan kolaboratif. Konsep *rua karaeng sekre ata* menjadi warisan peradaban bagaimana kekuasaan dikelola dengan semangat berbagi dan kolaborasi untuk menghindari sentralisasi kekuasaan. Raja Gowa ke-9 I Mangutungi Daeng Matanre Karaeng Tumapakrisika Kallongna dan Raja Tallo ke-4 I Mappatakakatana Daeng Padulu Karaeng Pattingalloang. Kedua raja ini dengan kebijaksanaannya yang luar biasa bersepakat membangun kerajaan dengan semangat kolaborasi/sinergi.

Raja Gowa menjadi Pemimpin Utama Negara (Sombaya) sedangkan Raja Tallo menjadi Perdana Menteri (Tumakbicara Butta). Keputusan besar diputuskan lewat musyawarah dengan Bate Salapang yang berfungi sebagai Dewan 9 Penasihat Adat. Ini cikal bakal prinsip musyawarah mufakat jauh sebelum istilah itu populer dalam sistem demokrasi.

3. Siri’ sebagai Kompas Moral Pemimpin
Siri‘, artinya harga diri. Bagi pemimpin Makassar, kehilangan siri’ berarti kehilangan wibawa. Karena itu nilai kepemimpinan mereka keras, tegas pada yang salah, setia pada janji, dan tidak tunduk pada penjajah. Tokoh seperti Sultan Hasanuddin Raja Gowa ke-16 dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” bukan karena agresif, tapi karena menolak tunduk meski Belanda (VOC) sudah menguasai Nusantara.

4. Warisan ke Masa Kini
Jejak itu tidak berhenti di istana. Filosofi sipakatau, sipakalakbiri, sipakainga masih dipakai orang Makassar hari ini. Saling memanusiakan, saling menghargai, saling mengingatkan. Dalam birokrasi, organisasi, hingga rumah tangga, model kepemimpinan Makassar menekankan wibawa lahir dari teladan, bukan paksaan dan polesan citra.

Peradaban Makassar mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukan yang paling berkuasa, tapi yang paling bertanggung jawab menjaga marwah komunitas/rakyat yang dipimipinnya.

Kebagusan, 21 Juni 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here